Site icon Pewarta ID

“MEMAYU HAYUNING KERONCONG”: SKF 2026 JADIKAN KERONCONG PUSAKA YANG HIDUP DAN MEGAH

Image of Img 20260713 wa0081

SURAKARTA , pewarta.id – Di tengah gempuran musik modern, alunan ukulele dan biola keroncong kembali menggema di Kota Solo. Solo Keroncong Festival 2026 hadir lagi, membawa pesan: keroncong bukan barang antik di museum. Keroncong adalah pusaka yang hidup.

Tahun ini SKF mengusung tema “Keroncong Pusaka Nusantara”. Artinya sederhana: menjaga warisan, tapi tetap relevan. Lewat konsep “Keroncong Majestic”, kemegahan budaya keraton dipadukan dengan sentuhan kreativitas anak muda.”Memayu Hayuning Keroncong” menjadi tagline. Merawat keindahan keroncong, agar tetap membanggakan dan mendunia.

Dari Pasar Gede Sampai Alun-alun Utara
Sebelum pesta besar, warga Solo sudah dihangatkan lebih dulu. Ada Road to SKF di Pasar Gede tanggal 19 Juni. Ada lomba menyanyi di RRI Surakarta tanggal 26 Juni. Ada juga Road to SKF #2 di Koridor Gatot Subroto tanggal 3 Juli. Puncaknya, 18-19 Juli 2026. Panggung utama berdiri megah di Alun-alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta.Di sana, kita bisa dengar suara emas Tuti Maryati, Iga Mawarni, dan petikan Hendri Lamiri. Ada juga grup keroncong dari luar negeri, komunitas lokal, sampai orkestra dari berbagai daerah.

Lebih dari Sekadar Konser
SKF 2026 tidak hanya soal musik. Ini ruang temu antara seniman, akademisi, komunitas budaya, sampai UMKM. Tujuannya satu: membuat keroncong tetap bergaung, sambil menggerakkan pariwisata dan ekonomi kreatif Solo.Bagi yang tidak bisa datang langsung, tenang. Semua bisa nonton lewat YouTube DISBUDPAR Surakarta, PARIWISATA SOLO, dan SOLO KERONCONG FESTIVAL. Update juga ada di Instagram @solokeroncongfestival.id.Sejak 2009, SKF membuktikan satu hal. Tradisi kalau dikemas dengan cinta dan inovasi, tidak akan pernah mati. Ia akan terus hidup, dari generasi ke generasi.[gpwk]

Exit mobile version