Site icon Pewarta ID

Beras Oplosan Terungkap, APPSI Jabar Apresiasi Mentan, Masyarakat Serbu Pasar Tradisional

Image of Istimewa bdg

BANDUNG, pewarta.id – Langkah cepat Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam membongkar kasus beras oplosan menuai pujian dari berbagai pihak. Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Provinsi Jawa Barat mengapresiasi keberanian Mentan dan menyebutnya sebagai bentuk perlindungan nyata terhadap konsumen dan pedagang kecil.

Yudi Setia Kurniawan, Sekretaris DPW APPSI Jabar, menyatakan bahwa temuan ini tak hanya membuka mata publik, tetapi juga berdampak positif pada pasar tradisional. “Langkah cepat dan tegas Pak Menteri Pertanian dalam membongkar praktik curang beras oplosan adalah bentuk nyata perlindungan terhadap konsumen dan pedagang kecil. Kami di APPSI Jabar menyambut baik hal ini,” ujar Yudi, Rabu (6/8).

Setelah kasus beras oplosan mencuat, terjadi fenomena menarik di Jawa Barat. Yudi mengungkapkan bahwa masyarakat mulai berbondong-bondong kembali ke pasar tradisional untuk membeli beras. Mereka menilai beras di pasar tradisional lebih terjamin kualitas dan keasliannya.

“Ini menjadi momentum baik bagi pasar tradisional untuk kembali mendapatkan kepercayaan publik. Di pasar, masyarakat bisa langsung melihat kualitas beras, memilih sendiri, dan berinteraksi langsung dengan penjual. Tidak ada yang ditutupi,” tambahnya.

Yudi juga mengimbau pemerintah untuk terus memperkuat pengawasan terhadap rantai distribusi pangan, terutama komoditas pokok seperti beras dan minyak goreng, agar kasus serupa tidak terulang. APPSI Jabar pun menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan pemerintah dalam menjaga keamanan pangan.

“Kami akan meningkatkan koordinasi dengan para pedagang, melakukan edukasi tentang pentingnya menjaga kualitas dan kejujuran dalam berdagang. Ini penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat yang sudah mulai pulih,” tutupnya.

Seperti diketahui, kasus beras oplosan yang diungkap oleh Kementerian Pertanian melibatkan praktik curang pencampuran beras premium dengan beras kualitas rendah. Beras oplosan tersebut kemudian dikemas ulang dan dijual dengan harga tinggi, memicu kerugian besar bagi konsumen. ***

Exit mobile version