Site icon Pewarta ID

Penanganan Bencana Banjarwangi Garut: BPBD Kucurkan Bantuan Logistik dan Gandeng PVMBG

Image of Img 20260819 wa0059

Garut, pewarta.id – Pemerintah Kabupaten Garut melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bergerak cepat menangani dampak pergerakan tanah di Kampung Genteng RT 02 RW 06, Desa Tanjungjaya, Kecamatan Banjarwangi. Hingga Rabu (19/8/2026), fokus penanganan bergeser ke penyaluran bantuan logistik darurat serta persiapan kajian teknis geologi untuk menguji keamanan lokasi bencana.

 

Sekretaris BPBD Kabupaten Garut, Abud Abdullah, menyatakan bahwa bantuan logistik tanggap darurat telah disalurkan secara langsung untuk memastikan kebutuhan dasar para korban terpenuhi selama masa pengungsian.

“Bantuan mencakup sandang dan pangan, seperti terpal, matras, paket sembako, hingga perlengkapan sekolah anak,” ujarnya.

 

Selain itu, BPBD menjadwalkan koordinasi intensif dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk meneliti potensi pergerakan tanah susulan di tebing setinggi 15–20 meter. Kajian ini penting untuk menentukan apakah kawasan di lintasan jalan Cikajang–Pameungpeuk masih layak dihuni atau perlu relokasi permanen.

 

Analisis sementara menunjukkan konstruksi bangunan permanen berat di bibir tebing curam menjadi pemicu robohnya rumah akibat tanah tumpuan tak sanggup menahan beban.

 

Kronologi Kejadian

Insiden ambruknya rumah milik Yana yang dihuni enam jiwa terjadi Senin sore (17/8/2026) sekitar pukul 17.00 WIB. Posisi rumah yang berada di pinggir jalan raya dengan jurang sedalam 20 meter membuat bangunan roboh total saat tiang penyangga patah. Beruntung, seluruh penghuni selamat karena sedang mengikuti perayaan HUT ke-81 RI di desa.

 

Salah seorang penghuni, M Dika Purnama, menuturkan gejala keretakan tanah sudah terasa sejak gempa Pangandaran beberapa waktu lalu. Kondisi tanah yang labil akhirnya memuncak hingga rumah roboh tepat pada Hari Kemerdekaan.

“Awalnya gempa Pangandaran dulu, kemudian ada pergerakan tanah sehingga rumah ambruk. Kejadiannya pas 17 Agustus, saat keluarga sedang merayakan Agustusan,” ungkap Dika.

 

Saat ini, keluarga korban masih mengungsi di rumah kerabat terdekat sembari menunggu hasil evaluasi teknis dari tim ahli geologi.***

Exit mobile version