Jakarta, pewarta.id – Oktober 2024 menjadi tonggak lahirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah inisiatif strategis pemerintah yang kini dikenal luas sebagai upaya meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia. Di balik besarnya program tersebut, tersimpan kisah sederhana: berawal dari tim kecil dengan semangat besar dan visi kuat, hingga berkembang menjadi program nasional.
Meskipun 15 Agustus 2024 BGN telah lahir melalui Perpres no 83 tahun 2024, namun sampai bulan Oktober hanya ada 2 personel yaitu pak Dadan selaku Ka BGN dan pak Pusung selaku Waka BGN didukung sekitar 15 orang relawan turut bergabung dan aktif merumuskan konsep dasar program yang saat itu dikenal sebagai “makan siang gratis”.
Menariknya, sebagian relawan kini menduduki posisi strategis sebagai pejabat eselon I dan II di lingkungan BGN. Sejak awal, fokus utama mereka adalah membangun dukungan luas serta menentukan pihak-pihak yang dapat berkontribusi dalam menyukseskan program.
Membangun Jaringan Dukungan
Para relawan diberi tugas menjangkau jaringan masing-masing di berbagai daerah, mulai dari pengusaha, kolega, hingga keluarga. Dukungan yang diharapkan tidak kecil: pembangunan dapur umum, penyediaan peralatan, hingga dana operasional hampir Rp900 juta per bulan.
Pendekatan dilakukan secara personal, dari komunikasi via telepon hingga pertemuan langsung. Menariknya, pihak yang bergabung tidak diposisikan sebagai vendor, melainkan mitra. Hal ini menegaskan bahwa keterlibatan mereka didasarkan pada kepercayaan terhadap visi besar MBG, bukan sekadar hubungan kontraktual.
Fondasi Data dan Teknologi
Sejak awal, tim menyadari keberhasilan program bergantung pada kekuatan data. Informasi terkait jumlah dapur, penerima manfaat, hingga distribusi makanan dikumpulkan dengan melibatkan aparat kewilayahan, termasuk Babinsa, serta diintegrasikan dengan data resmi dari Dapodik, EMIS Kemenag, dan BKKBN.
Salah satu relawan kemudian merancang sistem pelaporan berbasis teknologi bernama PPMBG, yang mengelola data dari 100 SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) awal. Sistem ini terus disempurnakan melalui proyek percontohan di Warung Kiara dan dapur Bojong Koneng.
Dalam tahap ini, istilah UPMB (Unit Pelayanan Makan Bergizi) mulai diperkenalkan, lengkap dengan fitur tambahan seperti fleet management dan sistem POP (Point of Production) untuk memastikan distribusi makanan berjalan efektif, efisien, dan real-time.
Dari Tim Kecil ke Program Nasional
Perjalanan awal MBG menjadi bukti bahwa program besar tidak selalu dimulai dari struktur besar. Dengan hanya dua personel inti dan belasan relawan, program ini tumbuh berkat visi jelas, kerja kolektif, serta kepercayaan yang kuat.
Kini, MBG telah berkembang menjadi program nasional lintas sektor. Fondasi yang dibangun sejak awal—jaringan kemitraan, sistem data yang kuat, hingga dukungan teknologi—menjadi kunci utama dalam memastikan program ini berkelanjutan dan tepat sasaran.***

