Solo, pewarta.id – Solo Keroncong Festival (SKF) 2026 menghadirkan nuansa berbeda dengan menampilkan kolaborasi antara Orkes Keroncong Batavia Mood dan pelajar SMA Pangudi Luhur Jakarta. Penampilan lintas generasi ini tidak hanya memeriahkan panggung Alun-Alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta, tetapi juga menegaskan peran festival sebagai ruang pertemuan musisi senior dan generasi muda dalam menjaga keberlangsungan musik keroncong.
Dipimpin Ages Dwiharso, Batavia Mood menggandeng komunitas keroncong SMA Pangudi Luhur Jakarta untuk tampil bersama di panggung festival. Kolaborasi tersebut menjadi upaya memperlihatkan bahwa musik keroncong masih diminati dan terus diwariskan kepada generasi muda.
Ages mengatakan, konsep yang diusung tidak berfokus pada aransemen yang rumit, melainkan memberikan ruang belajar sekaligus pengalaman tampil bagi para pelajar.
“Konsep kami sederhana, bagaimana kakak-kakak dari Batavia Mood membimbing adik-adik dari SMA Pangudi Luhur. Yang paling penting adalah semangat menjaga keroncong tetap hidup dan terus berkembang,” ujarnya.
Dalam penampilannya, Batavia Mood menghadirkan pemain flute, biola, dan vokalis utama, sedangkan delapan pelajar SMA Pangudi Luhur mengisi berbagai instrumen seperti bass, cello, cuk, cak, gitar, piano, dan vokal.
Menurut Ages, formasi tersebut disusun secara fleksibel agar para siswa memperoleh kesempatan lebih luas untuk belajar dan tampil di panggung nasional. Meski waktu latihan terbatas karena aktivitas sekolah, semangat para pelajar untuk ikut melestarikan musik keroncong menjadi modal utama.
“Kami memang tidak membuat aransemen yang terlalu rumit. Yang kami bangun adalah semangat anak-anak untuk ikut mengambil bagian dalam pelestarian musik keroncong,” katanya.
Ages yang juga menjadi pembina komunitas keroncong di SMA Pangudi Luhur berharap kolaborasi lintas generasi tersebut dapat menunjukkan bahwa keroncong memiliki masa depan yang cerah.
“Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa keroncong memiliki generasi penerus. Setiap angkatan akan membawa karakter dan warna baru, tetapi semangat melestarikan musik tradisional Indonesia harus tetap ada,” tuturnya.
Melalui kolaborasi antara musisi senior dan pelajar, Batavia Mood berharap Solo Keroncong Festival 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat regenerasi sekaligus membuktikan bahwa musik keroncong tetap relevan di tengah perkembangan zaman.[gpwk]

