CIAMIS, pewarta.id — FKIP Universitas Galuh Gelar Kuliah Umum Bertema “Merawat Indonesia: Harmoni antara Alam, Budaya, dan Pendidikan”
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Galuh kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong lahirnya generasi akademik yang peka terhadap isu lingkungan, budaya, dan pendidikan. Hal itu diwujudkan melalui penyelenggaraan Kuliah Umum bertema “Merawat Indonesia: Harmoni antara Alam, Budaya, dan Pendidikan” yang digelar di Kampus Universitas Galuh, C
Kegiatan akademik ini dirancang sebagai ruang dialog ilmiah untuk memperkuat kesadaran civitas akademika terkait pentingnya merawat lingkungan hidup serta menjaga nilai-nilai budaya di tengah tantangan zaman. Terlebih, dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah daerah di Indonesia dilanda bencana alam seperti banjir dan longsor yang dipengaruhi oleh kerusakan lingkungan serta perubahan pola perilaku masyarakat.
Dekan FKIP Universitas Galuh, Dr. Amam, M.Pd., dalam sambutannya menekankan perlunya sinergi antara institusi pendidikan dengan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan alam dan pelestarian budaya lokal. Menurutnya, isu yang diangkat dalam kuliah umum ini sangat selaras dengan kondisi aktual Indonesia yang tengah menghadapi tantangan ekologis dan sosial yang semakin kompleks.
“Tema ini sangat relevan dengan situasi bangsa hari ini. Mahasiswa dan seluruh peserta harus mampu mengembangkan pemikiran kritis, memahami persoalan lingkungan, dan terlibat dalam solusi nyata,” ujar Amam.
Ia menegaskan bahwa kuliah umum tersebut merupakan bentuk komitmen FKIP dalam memperluas wawasan mahasiswa tentang pentingnya pendidikan berbasis nilai budaya dan keberlanjutan lingkungan.
Kuliah umum ini menghadirkan dua pembicara yang memiliki kompetensi tinggi, baik di bidang pendidikan maupun konservasi lingkungan.
Dalam materinya yang berjudul “Revolusi Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal di Era Digital”, Prof. Dr. Dadi, M.Si – Rektor Universitas Galuh, menekankan bahwa pendidikan masa kini tidak boleh terlepas dari akar budaya masyarakat. Menurutnya, teknologi harus menjadi alat yang memperkuat identitas bangsa, bukan mengikisnya.
“Pembelajaran modern perlu diintegrasikan dengan kearifan lokal agar lahir generasi yang adaptif namun tetap berakar pada nilai budaya,” tegasnya.
Ia juga menyoroti perlunya inovasi kurikulum yang memadukan aspek digitalisasi dengan karakter lokal sebagai fondasi pendidikan yang berkelanjutan.
Narasumber kedua, Pakar Konservasi Dunia, Dr. Willie Smits, menyampaikan materi berjudul “Potensi Aren (Arenga pinnata) sebagai Tumbuhan Konservasi untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Energi”. Ia menjelaskan bahwa aren merupakan tanaman yang memiliki manfaat ekologis sekaligus ekonomi.
Menurutnya, aren tidak hanya mampu menjaga keseimbangan lingkungan, tetapi juga berpotensi besar menjadi alternatif penguatan ketahanan pangan serta sumber energi terbarukan.
“Aren adalah tanaman strategis yang dapat memberikan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi jika dikelola dengan benar,” jelas Willie Smits.
Kuliah umum ini diikuti oleh ratusan mahasiswa, dosen, hingga peserta dari berbagai daerah. Kegiatan terlaksana secara hybrid, baik luring di kampus maupun daring melalui platform digital. Tingginya antusiasme menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dan pendidikan berbasis budaya lokal masih menjadi fokus perhatian penting di kalangan akademisi.
Dr. Amam menuturkan bahwa kegiatan semacam ini akan terus digelar sebagai bentuk konsistensi FKIP dalam memperluas wawasan ekologis dan budaya peserta didik.
“Ini adalah bagian dari komitmen FKIP Unigal dalam merawat lingkungan dan pendidikan,” ujarnya.
Di akhir kegiatan, FKIP Universitas Galuh kembali menegaskan peran strategisnya dalam membentuk calon pendidik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan ekologis.
“Melalui kuliah umum ini, kami ingin melahirkan insan pendidikan yang berkarakter, peduli lingkungan, dan mampu memberi kontribusi nyata bagi keberlanjutan Indonesia,” tutur Amam.
Dengan terselenggaranya kuliah umum ini, FKIP Universitas Galuh berharap semakin banyak mahasiswa yang tergerak untuk menjadi agen perubahan dalam merawat bumi, melestarikan budaya, dan memperkuat pendidikan sebagai fondasi bangsa.***

