Site icon Pewarta ID

Komunitas Cermin Tasikmalaya Gelar “Ngopi Sastra”: Semua Orang Jadi Pembicara, Semua Orang Berkarya

Image of Bb3977f698e44773a67785eb9f4d5d24

Tasikmalaya, pewarta.id — Komunitas Cermin Tasikmalaya kembali menghidupkan ruang dialektika sastra melalui kegiatan bertajuk Ngopi Sastra yang digelar di Rukun (Rumah Kuning), Jumat (1/5) pukul 15.00 WIB. Mengusung semangat inklusif, acara ini memberi ruang bagi siapa saja untuk menjadi pembicara sekaligus berkarya.

 

Mengangkat tema reflektif, “Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya,” kegiatan ini berupaya menggali kembali relevansi sastra—khususnya puisi—di tengah dinamika sosial dan politik masa kini.

 

Ketua Komunitas Cermin Tasikmalaya, Ashmansyah Timutiah, yang biasa disapa Kang Acong mengatakan acara berlangsung santai namun sarat makna. Peserta tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga aktif menyampaikan gagasan, membaca puisi, serta mendiskusikan peran sastra dalam kehidupan publik.

 

Sejumlah pertanyaan pun mengemuka dalam forum tersebut, di antaranya: apa itu puisi? Apakah puisi sekadar rangkaian kata indah, atau memiliki fungsi yang lebih dalam? Bahkan secara jenaka namun kritis, muncul pertanyaan, “Apakah puisi sejenis sabun, detergen, atau cairan pembersih? Benarkah puisi mampu membersihkan sesuatu yang kotor?”

 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuka ruang diskusi yang lebih luas. Sebagian peserta memandang puisi bukan alat pembersih dalam arti harfiah, melainkan medium penyadaran. Puisi bekerja di wilayah batin—membongkar kebekuan nurani dan mengajak manusia kembali pada nilai kejujuran, keadilan, serta kemanusiaan.

 

Namun demikian, kegelisahan juga mencuat. Di tengah derasnya arus informasi, pragmatisme politik, dan budaya instan, muncul pertanyaan apakah puisi masih dibutuhkan dan tetap ampuh sebagai sarana kritik serta pemurnian sosial.

 

Diskusi berlangsung dinamis. Sebagian peserta menilai bahwa meski puisi tidak lagi dominan sebagai alat perubahan sosial seperti di masa lalu, ia tetap hidup sebagai ruang perlawanan yang sunyi—mempengaruhi individu dan perlahan membentuk kesadaran kolektif.

 

Melalui kegiatan ini, Komunitas Cermin Tasikmalaya menegaskan bahwa sastra belum kehilangan tempatnya. Di ruang sederhana seperti Rumah Kuning, puisi terus menemukan napasnya—hidup dari percakapan, perenungan, dan keberanian untuk bertanya.

 

Ke depan, komunitas ini berharap Ngopi Sastra dapat terus menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk berpikir, berkarya, dan merawat kepekaan sosial. Sebab, puisi mungkin bukan sabun yang langsung membersihkan kotoran, tetapi ia adalah aliran yang perlahan menyentuh,*** menyadarkan, dan pada akhirnya mengubah.

Facebook Comments Box
Exit mobile version