Kota Banjar, Pewarta.id,- Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (Distan) Kota Banjar menetapkan enam program prioritas demi memajukan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan secara terintegrasi.
Program ini mencakup mulai dari revitalisasi perbenihan hingga penyediaan asuransi usaha tani gratis berbasis kelompok.
“Enam program ini dirancang menyeluruh, mulai dari benih, SDM, alat mesin, hingga dukungan risiko usaha lewat asuransi,” jelas Kepala Distan Kota Banjar, Yoyon Cuhyon, Selasa (15/4/2025) di ruang kerjanya.
Enam Pilar Distan Banjar untuk Petani Mandiri dan Modern
Enam program prioritas yang dimaksud meliputi:
1. Revitalisasi perbenihan (pertanian dan perikanan).
2. Peningkatan SDM pertanian.
3. Modernisasi alat dan mesin pertanian.
4. Pengembangan pertanian organik.
5. Rehabilitasi sarana dan prasarana (SAPRAS).
6. Jaminan pemerintah melalui asuransi pertanian (AUTP).
Menurut Yoyon, lima dari enam program tersebut telah berjalan, dan untuk jaminan usaha, pemerintah kota memberikan akses asuransi gratis kepada kelompok tani.
“Kami biayai dari APBD, asalkan kelompoknya resmi dan terdaftar,” tegasnya.
Benih Gratis Dongkrak Produktivitas
Sebagai contoh, program revitalisasi benih telah menghasilkan peningkatan distribusi benih padi dan benih ikan secara gratis.
Sejak 2024, Distan Kota Banjar telah menyebar hampir 20 ton benih padi dan ratusan ribu benih ikan kepada petani dan peternak.
“Dampaknya tidak instan, tapi dalam 1–3 tahun ke depan produktivitas akan melonjak. Karena kita gunakan benih unggul dan bersertifikat,” ujarnya.
Integrated Farming
Lebih lanjut, Yoyon menekankan pentingnya integrasi sektor pertanian.
Menurutnya, pengembangan pertanian organik tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada kolaborasi antara peternakan, perikanan, dan pertanian.
Salah satu contoh nyata adalah Galuh Farm di Banjar.
“Di sana sudah berjalan integrasi pertanian, perikanan, dan peternakan. Ada pengolahan pakan, pupuk organik, hingga perikanan dalam satu sistem,” jelas Yoyon.
Dengan sistem ini, limbah peternakan bisa menjadi bahan baku pupuk organik, yang digunakan kembali ke lahan pertanian—mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Kemudian, Distan Kota Banjar juga mendukung penuh arahan Presiden RI terkait pengurangan pemakaian pupuk kimia.
Dalam acara panen raya daring di Desa Sukamukti, Presiden menekankan perlunya langkah-langkah pertanian organik dan alami,
Selain itu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi juga menyampaikan bahwa tanah di Jawa Barat mengalami penurunan kualitas akibat terlalu banyak penggunaan pupuk kimia.
“Kami siap menyambut arahan Presiden. Kita sudah punya SDM, pakar organik, dan sumber daya yang memadai,” tutur Yoyon.
Pilot Project Pertanian Organik Dimulai di Waringinsari
Untuk mendukung program ini, Banjar telah menetapkan Waringinsari sebagai lokasi pilot project pertanian organik.
Lokasi ini dikelola langsung oleh pakar organik lokal dan mendapat dukungan dari Bank Indonesia.
“Mulai dari sawah, pengolahan pupuk, hingga ke integrasi peternakan. Ke depan, akan mengarah ke integrated farming system, yang sepenuhnya berkelanjutan,” pungkasnya.***

