Site icon Pewarta ID

BUMDes Mekarahayu Kembangkan Hortikultura Untuk Perkuat Ketahanan Pangan Desa

Image of Whatsapp image 2026 04 17 at 10.38.41

Lahan budidaya hortikultura cabai dan timun yang dikelola BUMDes Mekarahayu, Desa Kertahayu, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Jumat (17/04/2026).

PAMARICAN, Pewarta.id – Pemerintah Desa Kertahayu, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mengambil langkah konkret dalam mendukung peningkatan perekonomian warga sekaligus memperkuat ketahanan pangan desa melalui pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mekarahayu. Program ini memanfaatkan alokasi Dana Desa sebesar 20 persen yang difokuskan pada sektor pertanian produktif, Jumat (17/04/2026).

BUMDes Mekarahayu mengembangkan budidaya hortikultura berupa tanaman cabai dan timun di atas lahan pertanian seluas kurang lebih setengah hektare yang tersebar di dua lokasi berbeda. Pengelolaan usaha dilakukan secara langsung oleh tim BUMDes dan kini mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan, baik dari sisi produksi maupun pemasaran hasil panen.

Sekretaris BUMDes Mekarahayu, Yandri Andriana, menjelaskan bahwa pemilihan komoditas hortikultura bukan tanpa alasan. Selain dinilai relatif mudah dalam perawatan, kondisi geografis wilayah Desa Kertahayu pun dinilai sangat mendukung pertumbuhan tanaman cabai dan timun.

“Program ketahanan pangan ini kami arahkan ke hortikultura karena perawatannya tidak terlalu sulit dan kondisi tanah serta cuaca di wilayah kami sangat mendukung,” ujar Yandri.

Saat ini, BUMDes Mekarahayu tengah mengelola sekitar 10.000 pohon timun yang ditanam secara bertahap dalam tiga masa tanam. Sementara itu, untuk komoditas cabai, terdapat sekitar 5.700 pohon yang dirawat secara intensif oleh tim pengelola.

Hasil panen timun terbilang cukup melimpah. Dalam sekali panen, rata-rata produksi mencapai sekitar tiga kuintal per hari. Hingga saat ini, total hasil panen timun telah mencapai sekitar enam ton, sebuah pencapaian yang cukup membanggakan untuk program yang baru berjalan dalam skala desa.

Untuk pemasaran, BUMDes Mekarahayu menjual hasil panen timun kepada para pengepul dengan kisaran harga Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per kilogram. Selain melalui jalur pengepul, hasil panen juga dijual langsung kepada warga yang datang ke lokasi pertanian, sehingga masyarakat sekitar turut merasakan manfaat langsung dari program ini.

Meski demikian, pelaksanaan program tidak berjalan tanpa tantangan. Kendala utama yang dihadapi BUMDes Mekarahayu adalah keterbatasan akses sumber air di lahan pertanian. Meski sumber air tersedia, distribusinya ke lahan masih menjadi hambatan yang perlu segera diatasi.

“Kendala utama kami ada pada ketersediaan air. Sumber air ada, tetapi cukup sulit untuk dialirkan ke lahan,” tambah Yandri.

Tantangan irigasi ini menjadi salah satu prioritas yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah desa maupun pihak terkait agar produktivitas lahan dapat terus ditingkatkan. Dengan pengelolaan air yang lebih baik, potensi hasil panen diyakini masih bisa berkembang jauh lebih optimal.

Terlepas dari kendala tersebut, program ketahanan pangan berbasis BUMDes yang dijalankan Desa Kertahayu ini dinilai mampu menjadi model bagi desa-desa lain di wilayah Kecamatan Pamarican maupun Kabupaten Ciamis secara lebih luas. Pengelolaan potensi pertanian secara terorganisir melalui kelembagaan BUMDes dinilai lebih efektif dan akuntabel dibanding pengelolaan perseorangan.

Upaya ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan di tingkat desa, tetapi juga berkontribusi nyata dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat setempat. Keberhasilan BUMDes Mekarahayu dalam mengoptimalkan lahan pertanian dengan dana desa diharapkan dapat menginspirasi desa-desa lain untuk turut mengembangkan potensi lokal mereka secara lebih produktif dan berkelanjutan.

Facebook Comments Box
Exit mobile version