PAMARICAN, Pewarta.id – Semangat para perempuan tani di Dusun Golempang, Desa/Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, tidak surut meski harga cabai keriting di pasaran mengalami penurunan drastis hingga lebih dari 50 persen. Kelompok Wanita Tani (KWT) Geger Bentang justru tampak sumringah saat menggelar panen raya cabai keriting jenis roket, Kamis (23/04/2026).
Keberhasilan panen kali ini bukan tanpa kerja keras. KWT Geger Bentang saat ini mengelola tidak kurang dari 4.000 pohon cabai keriting yang ditanam di atas lahan seluas 150 ubin. Hasilnya pun tidak mengecewakan — meski pasar sedang lesu, produktivitas lahan mereka tetap terjaga dengan baik.
Pengurus KWT Geger Bentang, Endun, menuturkan bahwa hingga kini pihaknya telah melakukan panen sebanyak 11 kali dengan hasil yang terus konsisten.
“Alhamdulillah, untuk saat ini kami sudah melaksanakan panen sebanyak 11 kali. Total hasil panen yang sudah terkumpul mencapai 1 ton lebih, dengan rata-rata per sekali panen itu lebih dari satu kuintal,” ujar Endun kepada Pewarta.id, Kamis (23/04/2026).
Harga turun, semangat tidak ikut turun
Meskipun hasil panen melimpah, kondisi pasar cabai saat ini tengah mengalami tekanan. Endun mengakui adanya penurunan harga yang cukup signifikan, di mana hasil panen mereka kini hanya terserap tengkulak di kisaran Rp 50 ribu per kilogram — jauh di bawah harga sebelumnya yang sempat menyentuh lebih dari Rp 100 ribu per kilogram.
“Kalau dibilang turun memang iya, bahkan lebih dari 50 persen. Karena sebelumnya harga masih di kisaran Rp 100 ribu lebih per kilonya. Namun karena hasil panen kali ini melimpah, hasilnya tetap lumayan dan mampu menutup semua biaya produksi,” jelasnya.
Pernyataan Endun mencerminkan optimisme yang tidak mudah goyah. Bagi KWT Geger Bentang, volume panen yang tinggi menjadi penyelamat di tengah tekanan harga. Strategi menanam dalam jumlah banyak terbukti menjadi penyangga ketika harga pasar berfluktuasi.
BPP Pamarican beri apresiasi
Keberhasilan KWT Geger Bentang menarik perhatian dari Badan Penyuluhan Pertanian (BPP) Wilayah Pamarican. Kepala Koordinator BPP Wilayah Pamarican, Ani Alviah, yang turut hadir meninjau lokasi panen, menyampaikan rasa bangganya atas konsistensi dan dedikasi para ibu tani tersebut.
“Kami sangat mengapresiasi langkah KWT Geger Bentang yang telah beberapa kali berhasil membuktikan bahwa penanaman cabai ini bisa menghasilkan panen yang memuaskan,” ungkap Ani.
Lebih lanjut, Ani menegaskan bahwa pihak BPP tidak akan berhenti pada apresiasi semata. Pembinaan dan edukasi akan terus diberikan agar produktivitas lahan para anggota KWT dapat ditingkatkan secara berkelanjutan.
“Ini menjadi bukti bahwa kelompok wanita tani bisa maju jika memiliki kemauan yang tinggi. Bertani ini tentu dapat menjadi penopang ekonomi keluarga yang cukup besar,” imbuhnya.
Dukungan pemerintah desa jadi kunci
Kepala Desa Pamarican, Endang Rahman, menyebut keberhasilan KWT Geger Bentang tidak terlepas dari sinergi antara semangat warga dan dukungan nyata dari pemerintah desa. Menurutnya, pihak desa telah menggelontorkan anggaran ketahanan pangan sebagai stimulan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di sektor pertanian.
“KWT ini sudah kami bina sejak beberapa tahun ke belakang. Pada tahun 2025 lalu, kami mengalokasikan bantuan anggaran melalui program ketahanan pangan,” kata Endang.
Endang juga mengungkapkan rasa syukurnya karena bantuan yang diberikan pemerintah desa tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan benar-benar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan warga.
“Alhamdulillah, hingga saat ini KWT Geger Bentang terus menunjukkan komitmennya dan selalu melakukan terobosan-terobosan baru di bidang pertanian,” pungkasnya.
Kisah KWT Geger Bentang menjadi cerminan bahwa pertanian berbasis kelompok, didukung pembinaan yang konsisten dan anggaran yang tepat sasaran, mampu menjadi pilar ketahanan ekonomi keluarga — bahkan di tengah guncangan harga pasar sekalipun. Semangat para srikandi tani dari Pamarican ini layak menjadi inspirasi bagi kelompok tani lainnya di Kabupaten Ciamis.

