Site icon Pewarta ID

Geger Rekrutmen Relawan MBG di Purwasari, Seorang Pria Jadi Korban Pembacokan

Image of Geger perekrutan relawan mbg di purwasari ciamis berujung pembacokan korban alami luka di lengan 768x432

Korban berinisial DM tengah mendapatkan perawatan medis di ruang IGD Puskesmas Banjarsari usai mengalami luka sabetan senjata tajam akibat insiden keributan terkait perekrutan relawan MBG di Desa Purwasari, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Kamis (29/04/2026). (Foto Via: harapanrakyat.com)

CIAMIS, Pewarta.id – Suasana mencekam tiba-tiba menyelimuti Desa Purwasari, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, pada Kamis (29/04/2026). Seorang pria berinisial DM menjadi korban penganiayaan menggunakan senjata tajam jenis golok, yang diduga dipicu oleh ketegangan seputar perekrutan relawan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tersebut. Akibat serangan itu, DM mengalami luka sabetan pada bagian jemari dan lengannya, dan harus segera dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Puskesmas Banjarsari untuk mendapatkan penanganan medis intensif.

Insiden berdarah ini menambah panjang daftar keresahan warga Desa Purwasari, yang sebelumnya sudah memanas akibat polemik mekanisme perekrutan relawan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang baru beroperasi di desa tersebut. Puluhan warga bahkan sempat mendatangi lokasi dapur SPPG untuk memprotes proses seleksi yang dinilai tidak transparan, sebelum akhirnya insiden penganiayaan ini terjadi.

Berawal dari Status WhatsApp yang Memancing Emosi

Kepada awak media yang menemuinya di ruang IGD Puskesmas Banjarsari, korban DM menceritakan bagaimana perselisihan itu bermula. Menurutnya, akar masalah berawal dari sebuah unggahan status WhatsApp milik seorang warga yang ia anggap bersifat provokatif.

“Awalnya saya terpancing oleh status WA dia, lalu saya buat status balasan. Akhirnya suasana memanas dan berujung keributan,” ujar DM kepada wartawan.

Situasi yang semula hanya berupa adu status di media sosial itu kemudian merembet menjadi konfrontasi fisik yang berujung kekerasan. DM mengakui bahwa kondisi psikologis warga memang tengah sensitif saat ini, mengingat banyak dari mereka yang gagal diterima sebagai relawan oleh dapur SPPG yang baru di Desa Purwasari.

“Saat ini warga sedang tegang karena banyak yang tidak diterima menjadi relawan oleh dapur SPPG baru di Desa Purwasari,” tambahnya.

Pelaku Diduga Anak Perangkat Desa

DM juga menyayangkan identitas pelaku yang melakukan penyerangan terhadap dirinya. Ia menyebut bahwa pelaku merupakan anak kandung dari seorang perangkat desa atau pamong. Menurutnya, sebagai bagian dari keluarga pamong, pelaku seharusnya mampu menjaga sikap dan turut berperan menenangkan situasi, bukan justru memperkeruh keadaan.

“Saya yakin jika Sekdes tidak bicara kasar seperti itu, anaknya tidak akan ikut-ikutan sampai nekat berbuat keji membawa golok dan menyerang saya,” terang DM.

Korban memaparkan bahwa kejadian semakin tak terkendali ketika Sekretaris Desa (Sekdes) setempat diduga mengeluarkan kata-kata kasar di teras rumah warga sekitar. Ucapan tersebut dinilai DM sebagai pemantik yang mendorong anak sang Sekdes untuk nekat bertindak agresif dengan membawa senjata tajam dan menyerangnya.

Atas luka fisik yang dideritanya, DM menegaskan dirinya tidak tinggal diam. Ia menyatakan akan segera menempuh jalur hukum dan melaporkan kasus penganiayaan ini secara resmi kepada pihak kepolisian.

Polisi Turun ke Lokasi, Penyelidikan Masih Berjalan

Secara terpisah, Kanit Reskrim Polsek Banjarsari, Bripka Wardana, membenarkan adanya insiden keributan di Desa Purwasari tersebut. Meski demikian, pihak kepolisian mengaku masih dalam proses mendalami kronologis kejadian secara menyeluruh di lapangan.

“Kami belum mengetahui secara pasti duduk persoalannya. Namun, untuk menjaga kondusivitas wilayah, saat ini anggota kami tengah melakukan penjagaan di lokasi,” kata Wardana.

Wardana juga menyampaikan bahwa hingga berita ini ditulis, belum ada laporan resmi yang masuk ke Mapolsek Banjarsari terkait kejadian penganiayaan tersebut. Pihaknya pun menyarankan agar konfirmasi juga dilakukan kepada pihak pengelola dapur SPPG guna mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.

“Informasi sementara, pemicunya memang terkait perekrutan relawan dapur MBG yang baru. Kami sarankan konfirmasi juga ke pihak pengelola dapur, karena kepolisian masih mengumpulkan keterangan lebih lengkap,” pungkasnya.

Ketegangan di Balik Program MBG

Insiden di Desa Purwasari ini menjadi cerminan nyata dari potensi gesekan sosial yang bisa muncul di tengah pelaksanaan program strategis nasional seperti MBG. Program yang bertujuan menyediakan makanan bergizi bagi masyarakat ini membutuhkan tenaga relawan dalam jumlah besar untuk mengoperasikan dapur-dapur SPPG di seluruh penjuru negeri. Namun, ketika mekanisme perekrutan dianggap tidak adil atau tidak transparan oleh warga, situasinya bisa berubah menjadi sumber konflik di tingkat akar rumput.

Di Desa Purwasari, ketidakpuasan warga yang gagal direkrut sebagai relawan telah terakumulasi dan berujung pada aksi protes ke lokasi dapur SPPG. Kondisi itu diperparah oleh peran oknum perangkat desa yang diduga justru memperburuk situasi alih-alih menjadi mediator yang menenangkan. Hasilnya, ketegangan yang tadinya bersifat kolektif akhirnya berujung pada kekerasan yang melukai seorang warga.

Kini, aparat kepolisian masih terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap kronologis lengkap peristiwa dan memastikan pelaku mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum. Warga Desa Purwasari pun berharap situasi segera kembali kondusif agar program MBG dapat berjalan sebagaimana mestinya tanpa menimbulkan perpecahan di antara mereka.

Facebook Comments Box
Exit mobile version