Jejak Remy Sylado Nyaris Hilang dari Arsip, Buku Akademisi Jepang Bongkar Kembali Sejarah Sang Maestro di Bandung

Image of Img 20260907 wa0077

BANDUNG, pewarta.id — Jejak perjalanan Remy Sylado di panggung seni dan budaya Bandung kembali diungkap setelah bertahun-tahun nyaris tenggelam dalam ingatan sejarah.

Image of Img 20260907 wa0076

Sosok seniman multitalenta bernama asli Yapi Panda Abdiel Tambayong itu memang telah meninggal dunia pada akhir 2022. Namun, kiprahnya sebagai sastrawan, musisi, aktor, pelukis, sekaligus pekerja teater kembali menjadi perhatian melalui peluncuran buku “Remy Sylado dan Dua Brouwer” di Perpustakaan Ajip Rosidi, Kota Bandung, Minggu (6/9/2026).

 

Buku setebal 67 halaman tersebut ditulis oleh Ai Takeshita, akademisi sekaligus dosen Tokyo University of Foreign Studies (TUFS). Menariknya, penelitian mengenai perjalanan Remy Sylado di Bandung justru dilakukan oleh seorang akademisi asal Jepang.

 

Kondisi tersebut sekaligus membuka pertanyaan lebih besar: mengapa jejak tokoh seni dan budaya Indonesia justru harus kembali ditemukan melalui penelitian dari luar negeri?

 

Ai Takeshita mencoba menjawab persoalan itu dengan melakukan penelusuran terhadap perjalanan Remy Sylado, khususnya pada periode ketika sang maestro aktif berkesenian di Bandung pada dekade 1970-an.

 

Penelitian tersebut tidak hanya mengandalkan cerita mengenai sosok Remy Sylado, tetapi juga menelusuri berbagai hubungan, peristiwa, serta lingkungan kebudayaan yang membentuk karakter dan pemikiran sang seniman.

 

Salah satu bagian menarik dalam buku tersebut adalah pengungkapan hubungan Remy Sylado dengan dua tokoh asal Belanda yang sama-sama memiliki nama Brouwer.

 

Dari persinggungan tersebut, Ai mencoba melihat Remy Sylado bukan sekadar sebagai seorang maestro seni, tetapi sebagai sosok kompleks dengan pemikiran, pengalaman, dan perjalanan intelektual yang tidak sederhana.

 

Bukan Sekadar Mengenang Remy Sylado

 

Peluncuran buku tersebut akhirnya berkembang menjadi ruang untuk mengingat kembali bagaimana Remy Sylado membentuk generasi muda yang pernah bersentuhan langsung dengannya.

 

Salah satunya adalah Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, Dr. Buky Wibawa Karya Guna atau yang dikenal dengan nama Boky Wikagoe.

 

Bagi Buky, Remy Sylado bukan hanya seorang seniman besar. Ia merupakan salah satu sosok yang ikut membentuk karakter dan disiplin dirinya ketika mulai meniti karier sebagai wartawan di Majalah Vista.

Baca Juga :  Terjaring 174 pelanggar dalam waktu 3 Jam

 

Buky bahkan mengenang masa ketika dirinya masih muda dan kerap menginap di kediaman Remy Sylado di Jakarta.

 

Ia masih mengingat bagaimana keluarga Remy, termasuk Emmy Tambayong, menerima dirinya dengan hangat. Bahkan, Emmy disebut selalu menyiapkan sarapan untuknya layaknya anggota keluarga sendiri.

 

Pertemuan kembali dengan Emmy dalam momentum peluncuran buku tersebut pun menjadi bagian emosional bagi Buky.

 

Namun, di balik nostalgia tersebut, ada warisan pemikiran Remy Sylado yang hingga kini masih dipegangnya, terutama mengenai bagaimana seorang wartawan harus bekerja secara independen.

 

Salah satu pesan yang paling melekat dalam ingatannya adalah perintah sederhana, “Buki, Baca!”

 

Pesan tersebut menurut Buky menggambarkan bagaimana Remy menempatkan aktivitas membaca sebagai fondasi utama seorang pekerja intelektual, termasuk wartawan.

 

Selain itu, Remy juga mengingatkan agar seorang jurnalis tidak terjebak menjadi wartawan yang bekerja berdasarkan pesanan atau kepentingan tertentu.

 

“Kamu jangan jadi wartawan kapling. Maksudnya wartawan pesanan. Itu yang selalu saya ingat sampai sekarang,” kata Buky.

 

Menurutnya, Remy Sylado juga sangat ketat dalam urusan penulisan. Mulai dari penyusunan naskah, proses penyuntingan hingga keberanian memperkaya tulisan dengan kosakata daerah agar karya jurnalistik memiliki karakter dan kehidupan.

 

Bagi Buky, pelajaran tersebut menjadi warisan yang jauh lebih penting dibanding sekadar kenangan personal.

 

Ketika Arsip Budaya Tak Terawat

Kehadiran buku karya Ai Takeshita juga memunculkan persoalan mengenai lemahnya tradisi dokumentasi terhadap perjalanan tokoh seni dan budaya di Indonesia.

 

Moderator diskusi dari Dapur Teater 23761, Boy Worang atau Albert Lefran Worang, menilai kondisi tersebut patut menjadi perhatian serius.

 

Menurutnya, seorang tokoh besar tidak cukup hanya dikenang ketika masih hidup. Perjalanan, pemikiran, karya, dan kontribusinya harus didokumentasikan agar dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

 

Ironisnya, penelitian terhadap perjalanan Remy Sylado di Bandung justru dilakukan oleh akademisi dari Jepang.

 

“Orang asing seperti Ai Takeshita justru begitu mengagumi dan mau meneliti sosok Remy Sylado. Kita sendiri justru jarang sekali membuat penulisan terhadap maestro,” ujar Boy.

Baca Juga :  Wali Kota Bandung Puji Dedikasi Relawan FPRB dalam Mitigasi Bencana

 

Menurut Boy, minimnya dokumentasi berpotensi membuat perjalanan tokoh-tokoh kebudayaan Indonesia menghilang bersama wafatnya mereka.

 

Padahal, sejarah bangsa tidak hanya dibangun melalui catatan politik maupun perjuangan bersenjata. Seni dan kebudayaan juga memiliki peran penting dalam membentuk identitas serta merekatkan masyarakat.

 

Karena itu, penelitian terhadap Remy Sylado dinilai tidak semata-mata berbicara mengenai satu nama besar dalam sejarah seni Indonesia.

 

Lebih jauh, buku tersebut menjadi pengingat bahwa dokumentasi kebudayaan merupakan pekerjaan yang harus dilakukan secara berkelanjutan sebelum jejak para pelaku sejarah benar-benar hilang.

 

Membawa Remy Sylado kepada Generasi Z

Ai Takeshita sendiri berharap bukunya tidak berhenti menjadi dokumen nostalgia bagi orang-orang yang pernah mengenal Remy Sylado.

 

Ia ingin buku tersebut menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal sosok dan perjalanan kebudayaan yang mungkin selama ini tidak mereka ketahui.

 

Menurutnya, generasi yang pernah hidup sezaman dengan Remy dapat menjadikan buku tersebut sebagai ruang untuk kembali mengenang sang maestro.

 

Sementara bagi Generasi Z yang belum mengenal Remy Sylado, buku itu diharapkan menjadi sumber untuk memahami akar perjalanan kebudayaan Indonesia.

 

“Semoga buku ini dibaca oleh mereka yang pernah muda dan tahu tentang Remy Sylado sebagai tempat untuk merindukan beliau. Dan semoga buku ini juga dibaca oleh banyak Generasi Z yang belum pernah mendengar namanya,” tutur Ai Takeshita.

 

Harapan tersebut sekaligus menegaskan bahwa persoalan utama buku “Remy Sylado dan Dua Brouwer” bukan hanya tentang menghidupkan kembali nama seorang maestro.

 

Lebih dari itu, buku ini menjadi pengingat bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan ingatan kolektif sebelum hilang ditelan zaman.

 

Sebab ketika seorang seniman meninggal, yang seharusnya tidak ikut terkubur adalah karya, gagasan, perjalanan, dan jejak kebudayaannya.

 

Dan dari Bandung, jejak Remy Sylado kembali ditemukan—bukan hanya sebagai kenangan masa lalu, tetapi sebagai pertanyaan bagi generasi hari ini tentang seberapa serius Indonesia merawat sejarah para tokoh budayanya.(GPWK)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *