TASIKMALAYA, pewarta.id — Kontestasi Musyawarah Kota (Mukota) V Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Tasikmalaya mulai mendapat perhatian dari berbagai elemen dunia usaha.
Sejumlah asosiasi dan organisasi pelaku usaha turut hadir mengantarkan sekaligus memberikan dukungan terhadap pencalonan Muhamad Abdul Karim dalam kontestasi Ketua KADIN Kota Tasikmalaya periode 2026–2031.
Dukungan tersebut datang dari berbagai unsur dan sektor dunia usaha, di antaranya Asosiasi Pengusaha Konstruksi Indonesia (Aspekindo), Gabungan Perusahaan Konstruksi Nasional Indonesia (Gapeksindo), Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi), Asosiasi Kontraktor Listrik dan Mekanikal Indonesia (AKLI), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), serta Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).
Kehadiran sejumlah asosiasi tersebut menjadi sinyal bahwa Muskota V KADIN Kota Tasikmalaya tidak hanya menjadi agenda internal organisasi, tetapi juga menjadi momentum bagi berbagai kelompok usaha untuk ikut menentukan arah dunia usaha daerah dalam lima tahun mendatang.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Muhamad Abdul Karim yang maju sebagai calon Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Tasikmalaya periode 2026–2031.
Menurut Karim, tantangan utama dunia usaha saat ini bukan sekadar bagaimana mempertahankan usaha agar tetap berjalan, tetapi bagaimana pelaku usaha lokal mampu naik kelas dan memperluas pasar di tengah persaingan yang semakin terbuka.
Ia menilai banyak produk dan potensi usaha asal Tasikmalaya sebenarnya memiliki daya saing. Namun, sebagian pelaku usaha masih menghadapi kendala ketika hendak memperbesar skala bisnis, terutama dalam hal akses pembiayaan, pemasaran, teknologi dan jaringan usaha.
“Banyak pengusaha kita memiliki produk yang bagus dan potensial. Tetapi persoalannya bagaimana mereka bisa mendapatkan akses pasar, pembiayaan, teknologi dan jejaring yang lebih luas. Ini yang harus menjadi perhatian bersama,” ujar Karim.
Karim mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah pola persaingan bisnis. Pelaku usaha tidak lagi hanya berhadapan dengan kompetitor dari daerah sekitar, tetapi juga dengan produk dari berbagai wilayah bahkan pasar internasional.
Karena itu, menurutnya, pelaku usaha di Tasikmalaya harus mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Digitalisasi, kata dia, tidak boleh hanya dipandang sebagai tren, tetapi harus menjadi instrumen untuk memperluas pemasaran dan meningkatkan efisiensi usaha.
“Jangan sampai produk Tasikmalaya hanya kuat di daerah sendiri. Kita harus berani membawa produk lokal keluar daerah, masuk pasar nasional bahkan membuka peluang ke pasar internasional,” katanya.
Akses Pasar Jadi Persoalan Utama
Karim menilai salah satu tantangan yang perlu segera dijawab adalah membuka akses pasar bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah.
Menurutnya, banyak pelaku UMKM masih berjalan secara individual sehingga peluang kerja sama dan ekspansi bisnis belum optimal.
Kondisi itu membuat potensi ekonomi daerah belum sepenuhnya terkonsolidasi.
“Kita punya banyak pengusaha hebat, produk yang bagus dan kreativitas yang kuat. Tetapi kalau bergerak sendiri-sendiri, daya dorongnya tentu tidak maksimal,” ujarnya.
Ia berpandangan KADIN harus mengambil peran sebagai penghubung antarpelaku usaha sekaligus membuka jejaring dengan dunia usaha di luar Tasikmalaya.
Dengan jaringan tersebut, produk lokal diharapkan tidak hanya bergantung pada konsumen di pasar lokal.
“Yang kita butuhkan adalah konektivitas. Pengusaha besar, menengah, kecil dan mikro harus bisa saling terhubung. Begitu juga dengan pemerintah, perbankan, investor, perguruan tinggi dan stakeholder lainnya,” kata Karim.
Pembiayaan dan Investasi Harus Lebih Mudah Diakses
Selain pasar, persoalan pembiayaan juga menjadi perhatian.
Karim menilai akses permodalan harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas pelaku usaha agar pembiayaan yang diperoleh benar-benar mampu mendorong pertumbuhan bisnis.
Menurutnya, dunia usaha membutuhkan ekosistem pembiayaan yang tidak hanya berorientasi pada penyaluran modal, tetapi juga pendampingan.
“Pembiayaan penting, tetapi jangan berhenti pada modal. Pengusaha juga membutuhkan pendampingan, peningkatan kapasitas dan akses pasar. Kalau tiga hal ini terhubung, peluang usaha untuk berkembang akan jauh lebih besar,” tuturnya.
Karim juga mendorong agar peluang investasi di Kota Tasikmalaya dapat dipetakan dan dikomunikasikan secara lebih aktif.
Ia menilai daerah membutuhkan lebih banyak kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha untuk menciptakan iklim bisnis yang menarik sekaligus memberikan kepastian bagi investor.
KADIN Jangan Hanya Jadi Forum Pertemuan
Dari berbagai persoalan tersebut, Karim menilai KADIN harus bergerak lebih konkret.
Ia berharap organisasi dunia usaha tidak hanya aktif ketika menggelar kegiatan atau forum, tetapi mampu menghasilkan program yang dirasakan langsung manfaatnya oleh pengusaha.
“KADIN jangan hanya menjadi tempat bertemu. Harus ada hasil yang bisa dirasakan pengusaha. Misalnya membuka akses pasar, mempertemukan pengusaha dengan lembaga pembiayaan, membangun kemitraan dan membantu peningkatan kapasitas,” katanya.
Karim juga menilai KADIN memiliki posisi strategis untuk menjembatani kepentingan dunia usaha dengan pemerintah.
Aspirasi pengusaha, menurutnya, perlu dikonsolidasikan sehingga dapat menjadi masukan dalam penyusunan kebijakan ekonomi daerah.
Sebaliknya, kebijakan pemerintah juga harus dikomunikasikan dengan baik kepada pelaku usaha agar dapat dipahami dan diimplementasikan di lapangan.
“Hubungan pemerintah dan dunia usaha harus dibangun melalui komunikasi yang terbuka. KADIN bisa menjadi jembatan agar kebutuhan pengusaha bisa disampaikan secara konkret dan berbasis data,” ujarnya.
Pengusaha Muda dan Ekonomi Kreatif Perlu Ruang
Karim turut menyoroti perkembangan pengusaha muda dan sektor ekonomi kreatif di Tasikmalaya.
Menurutnya, generasi muda memiliki kemampuan besar dalam memanfaatkan teknologi dan menciptakan model bisnis baru. Namun, mereka tetap membutuhkan ruang untuk berkembang, termasuk akses terhadap mentor, jaringan bisnis, pembiayaan dan pasar.
“Kita harus memberikan ruang yang lebih besar bagi pengusaha muda. Mereka punya kreativitas dan keberanian mencoba hal baru. Tinggal bagaimana ekosistemnya kita siapkan,” katanya.
Ia juga mendorong kemitraan antara pelaku usaha besar dengan UMKM sehingga terjadi transfer pengetahuan, perluasan pasar dan penguatan rantai pasok lokal.
Dengan pola tersebut, pertumbuhan dunia usaha diharapkan tidak hanya dinikmati kelompok tertentu, tetapi menciptakan efek berantai bagi perekonomian daerah.
Momentum Menentukan Arah Dunia Usaha
Karim mengatakan kontestasi Ketua KADIN Kota Tasikmalaya periode 2026–2031 seharusnya tidak berhenti pada persoalan pergantian kepemimpinan.
Menurutnya, momentum tersebut harus menjadi ruang untuk membicarakan persoalan dan arah dunia usaha Tasikmalaya dalam lima tahun ke depan.
“Yang harus kita bicarakan bukan hanya siapa yang menjadi ketua. Yang lebih penting adalah apa yang akan kita kerjakan dan apa manfaatnya bagi dunia usaha,” ujarnya.
Ia menegaskan pencalonannya didorong keinginan untuk ikut memperkuat ekosistem dunia usaha di Kota Tasikmalaya.
Karim ingin KADIN ke depan mampu mempertemukan berbagai kekuatan ekonomi, mulai dari pengusaha mikro hingga besar, pemerintah, lembaga keuangan, investor, akademisi dan komunitas ekonomi kreatif.
“Target akhirnya sederhana, bagaimana pengusaha Tasikmalaya bisa naik kelas. Produk lokal semakin luas pasarnya, pengusaha semakin kuat, dan ekosistem bisnis semakin terkoneksi,” katanya.
Ia meyakini Tasikmalaya memiliki modal ekonomi yang cukup besar untuk berkembang. Tantangannya kini adalah menghubungkan berbagai potensi tersebut agar tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Kita punya produk, kreativitas, SDM dan pengusaha yang memiliki jaringan. Tinggal bagaimana semua potensi itu kita koneksikan dan dorong menjadi kekuatan ekonomi bersama,” pungkas Karim.






