Sinergi “Macan Putih”, Irjen Kemendes, dan Gandara Group: Dari Tasikmalaya, Kepedulian Ditegaskan Bukan Sekadar Janji

Image of Baksos

TASIKMALAYA, pewarta.id – Pagi di Kampung Kalawagar, Desa Singasari, tak sekadar disinari matahari. Di balik langit yang cerah, ribuan harapan menggumpal, mencari kepastian: bahwa negara benar-benar hadir.

Di jantung Kabupaten Tasikmalaya, kehadiran Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 939/Macan Putih tak dimulai dengan parade kekuatan. Mereka memilih cara yang lebih berarti—menyentuh langsung denyut kehidupan masyarakat paling rentan.

Ribuan anak yatim dan kaum jompo menjadi saksi, bahwa pengabdian bisa hadir dalam bentuk paling sederhana: kepedulian.

Alih-alih menunjukkan otot militer, “Macan Putih” datang dengan wajah humanis. Melalui aksi “Satya Nagara, Raksa Jagat”, mereka membangun sinergi bersama Irjen Kemendes dan Gandara Group 37—sebuah kolaborasi yang menegaskan bahwa kekuatan negara, peran institusi, dan kepedulian dunia usaha bisa bertemu dalam satu tujuan: kesejahteraan rakyat.

Bukan Slogan, Tapi Komitmen Nyata

Komandan Batalyon 939/Macan Putih, Letkol Inf Deddy Setya Wijaya, menegaskan bahwa kehadiran mereka bukan formalitas.

“Macan Putih tidak datang sebagai tamu. Kami hadir sebagai bagian dari masyarakat. Kami ingin menjadi solusi, menjadi sandaran, dan menjadi kekuatan yang merangkul,” tegasnya.

Baca Juga :  BUBOS 6 di Kota Bandung

Filosofi Satya Nagara (setia pada negara) dan Raksa Jagat (menjaga harmoni kehidupan) tidak berhenti sebagai jargon. Ia diturunkan langsung dalam aksi nyata di lapangan.

1.100 Paket Sembako, 100 Masjid: Bukti, Bukan Retorika

Sebanyak 1.100 paket sembako disalurkan kepada masyarakat, terutama anak yatim dan lansia. Di tengah doa dan lantunan shalawat, suasana haru tak terbendung—wajah-wajah yang selama ini terpinggirkan, akhirnya merasakan perhatian.

Tak hanya kebutuhan dasar, perhatian juga menyentuh sisi spiritual. Sebanyak 100 masjid di Kabupaten Tasikmalaya mendapatkan bantuan pemeliharaan—menguatkan peran masjid sebagai pusat kehidupan umat.

Irjen Kemendes, Dr. Masyhudi, menyebut momentum ini sebagai wujud nyata kehadiran negara.

“Kita tidak hanya memberi bantuan. Kita sedang menghadirkan harapan. Nilai di balik kepedulian ini jauh lebih besar dari sekadar materi,” ujarnya.

Gandara Group: Bergerak Tanpa Banyak Bicara

Di balik kolaborasi ini, Gandara Group 37 menunjukkan bahwa peran swasta bukan sekadar pelengkap. Dipimpin H. Cahya Gandara, mereka menjadi motor penggerak aksi sosial ini.

Baca Juga :  Herdiat Sambut Ribuan Peserta Pawai Taaruf Ciamis

“Masih banyak masyarakat yang membutuhkan. Ini bukan pilihan, ini tanggung jawab. Kami akan terus bergerak, tidak hanya di Tasikmalaya, tapi di seluruh Jawa Barat,” ungkapnya.

Tanpa gemuruh, tanpa pencitraan berlebihan—aksi ini berbicara sendiri.

Dari Tasikmalaya, Harapan Itu Dinyalakan

Kehadiran para tokoh daerah, ulama, dan unsur pemerintah menegaskan bahwa gerakan ini bukan seremonial sesaat. Ia adalah titik awal.

Acara ditutup dengan doa bersama yang khidmat. Ribuan warga pulang bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga rasa yang lama hilang: diperhatikan.

Kini, Tasikmalaya memiliki wajah baru pengabdian. Seragam loreng yang tak lagi identik dengan jarak, melainkan kedekatan.

Di bawah langit Singaparna, satu pesan menguat: ketika negara, masyarakat, dan dunia usaha bersatu, harapan tidak lagi sekadar wacana—ia menjadi nyata.

Facebook Comments Box

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *