GARUT, pewarta.id – Musim kemarau yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir mulai memunculkan ancaman serius terhadap sektor pertanian di Kabupaten Garut. Setelah sejumlah wilayah lebih dulu menghadapi krisis air bersih sejak Mei 2026, kini giliran lahan persawahan yang terdampak akibat menurunnya pasokan air irigasi.
Pemerintah Kabupaten Garut mencatat sekitar 90 hektare sawah yang tersebar di 11 kecamatan mulai mengalami kekeringan. Meski kondisinya masih tergolong ringan, pemerintah daerah bergerak cepat agar dampaknya tidak berkembang menjadi kerusakan tanaman hingga gagal panen.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Ardhy Firdian, mengatakan pihaknya telah melakukan langkah antisipatif melalui rapat koordinasi bersama para camat dan sejumlah instansi terkait. Pertemuan tersebut bertujuan memetakan wilayah yang mengalami kekeringan sekaligus menyusun strategi percepatan penanganan di lapangan.
Menurut Ardhy, pemetaan tidak hanya difokuskan pada lokasi persawahan terdampak, tetapi juga terhadap sumber-sumber air yang masih dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengairan bagi lahan pertanian.
“Langkah yang kami lakukan meliputi identifikasi daerah yang mengalami kekeringan, pemetaan titik pengambilan sumber air, hingga memastikan pembangunan irigasi perpompaan dan irigasi perpipaan berjalan optimal sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan petani,” ujarnya usai mengikuti rapat koordinasi bersama Bupati Garut dan jajaran perangkat daerah di Aula Setda Garut, Jalan Pembangunan, Tarogong Kidul, Senin (6/7/2026).
Berdasarkan hasil pendataan sementara, Ardhy menjelaskan tanaman padi di lokasi terdampak masih berada pada fase kekeringan ringan. Kondisi tersebut belum menyebabkan tanaman menguning maupun mengalami puso. Namun, apabila curah hujan tidak kunjung turun dan pasokan air terus berkurang, risiko kerusakan tanaman dipastikan akan meningkat.
Ia menegaskan, pemerintah daerah tidak ingin menunggu hingga kerusakan meluas. Karena itu, berbagai upaya penyelamatan tanaman terus dipercepat agar produktivitas lahan tetap terjaga selama musim kemarau berlangsung.
Saat ini, luas lahan sawah yang mengalami kekeringan mencapai sekitar 90 hektare dan tersebar di 11 kecamatan. Walaupun angkanya masih relatif kecil dibandingkan total areal persawahan di Kabupaten Garut, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian karena berpotensi bertambah apabila kemarau berlangsung lebih lama.
Sebagai langkah mitigasi, Dinas Pertanian mengoptimalkan berbagai program penyediaan air, mulai dari pembangunan irigasi perpompaan, jaringan irigasi perpipaan, hingga pemanfaatan sumber-sumber air yang masih tersedia di sekitar kawasan pertanian.
Ardhy menilai, secara umum kondisi tersebut belum memberikan dampak berarti terhadap produksi padi Kabupaten Garut. Kendati demikian, pihaknya tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat kekeringan yang berkepanjangan dapat mengganggu musim tanam berikutnya dan memengaruhi target produksi pangan daerah.
“Kami terus memprioritaskan penyelamatan tanaman padi sebagai komoditas utama untuk menjaga ketahanan pangan. Namun kami juga memperhatikan komoditas pertanian lainnya karena seluruh sektor budidaya berpotensi terdampak apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang,” pungkasnya.(Slamet Timur).

