TASIKMALAYA, pewarta.id — Operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) gabungan atas peristiwa kecelakaan laut di perairan Pamoekan, Desa Sindangkerta, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, resmi ditutup pada Sabtu (3/10/2026) petang. Penutupan ini dilakukan setelah korban terakhir, Ending (56), berhasil ditemukan dalam keadaan meninggal dunia usai hilang selama empat hari.
Sehari sebelumnya, tim gabungan telah mengevakuasi korban lainnya bernama Weli (30) pada Jumat malam. Dengan ditemukannya Ending, seluruh korban yang hilang dalam musibah tersebut kini telah berhasil dievakuasi.
Ditemukan Nelayan 18 Km dari Titik Awal
Komandan Tim SAR Tasikmalaya, Dedi Haryanto, menjelaskan bahwa titik terang penemuan korban terakhir berawal dari laporan nelayan setempat pada Sabtu sore pukul 16.00 WIB.
“Informasi keberadaan korban dilaporkan oleh nelayan pada pukul 16.00 WIB. Tim gabungan langsung bergerak cepat menuju lokasi penemuan di sekitar perairan Cikaengan,” ujar Dedi Haryanto, Sabtu (3/10/2026) malam.
Jasad Ending ditemukan mengapung cukup jauh dari lokasi awal musibah, yakni berjarak sekitar 18 kilometer dari titik terakhir korban terlihat (Last Known Position/LKP). Tim SAR gabungan membutuhkan waktu hampir dua jam untuk melakukan proses evakuasi di tengah perairan terbuka hingga tuntas pada pukul 17.45 WIB.

Jasad korban langsung dibawa menuju rumah duka untuk diserahkan kepada pihak keluarga guna proses pemakaman.
Operasi SAR Ditutup Pukul 18.15 WIB
Dengan terevakuasinya korban terakhir, tim SAR gabungan menyatakan misi pencarian dan pertolongan resmi selesai pada pukul 18.15 WIB.
“Dengan tuntasnya evakuasi dan penyerahan korban kepada keluarga, operasi SAR secara resmi dihentikan pada pukul 18.15 WIB. Seluruh unsur dan personel yang terlibat diinstruksikan kembali ke kesatuan masing-masing,” tegas Dedi.
Dedi menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas sinergi solid antara petugas di lapangan dan partisipasi aktif nelayan lokal. Informasi cepat dari warga menjadi kunci utama penyelesaian operasi ini di tengah dinamika laut selatan yang tidak menentu.
Strategi ‘Jendela Waktu’ Tembus Gelombang Tinggi
Selama empat hari penyisiran, tim gabungan dari Pos SAR Tasikmalaya, Pangandaran, Polairud Cipatujah, BPBD, dan relawan nelayan menghadapi kendala cuaca ekstrem berupa peningkatan gelombang laut yang signifikan pada siang hari.
Untuk mengatasinya, tim membagi Search and Rescue Unit (SRU) darat dan SRU air serta mengerahkan lima perahu nelayan dengan taktik time window (jendela waktu aman).
“Penyisiran di air kami fokuskan pada pagi, sore, hingga malam hari saat dinamika ombak relatif landai demi keselamatan personel,” jelas Dedi.
Rangkaian Tragedi Perahu Terempas Ombak
Musibah kecelakaan laut ini berawal pada Selasa (29/9/2026) malam saat perahu yang ditumpangi tiga nelayan terempas ombak pemecah pantai (amur) di perairan Pamoekan. Dari tiga penumpang tersebut, Rudi (30)—anak dari Ending—berhasil selamat setelah berenang mencapai tepian daratan.
Sementara itu, dua korban lainnya tersapu ombak hingga akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada pencarian hari ketiga dan keempat. (AST)


