CIAMIS,PEWARTA.id- Program Sekolah Lapang Pertanian Ramah Lingkungan yang diinisiasi oleh Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis terus mendapatkan tanggapan positif dari para petani.
Program ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pertanian melalui pembelajaran kolaboratif antara penyuluh dan petani, khususnya terkait praktik pertanian berkelanjutan.
Salah satu fokus utama dalam program ini adalah penerapan metode pertanian organik, yang diharapkan dapat meningkatkan hasil panen sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.
Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Ciamis, Novi Nuryanti menyampaikan bahwa program ini sudah dilaksanakan di 26 kecamatan, dengan 22 kecamatan fokus pada budidaya padi, sementara 4 kecamatan lainnya mengembangkan komoditas sayuran.
“Melalui sekolah lapang ini, kami berharap petani dapat lebih memahami pentingnya pertanian yang ramah lingkungan,” kata Novi saat ditemui di Kantor Dinas Pertanian Ciamis, Senin (14/10/2024).
Banjarsari Jadi Contoh Sukses Pertanian Organik
Kecamatan Banjarsari menjadi contoh keberhasilan penerapan metode pertanian organik di Kabupaten Ciamis.
Menurut Novi, praktik pertanian organik di Banjarsari telah menunjukkan hasil yang positif, baik dari segi produktivitas maupun keberlanjutan lingkungan.
“Kami menerapkan metode pertanian organik di Banjarsari, dan hasilnya sangat memuaskan dengan peningkatan produktivitas yang signifikan,” ungkap Novi.
Ia menyebut, meskipun tahun ini metode SRI (System of Rice Intensification) belum diterapkan, hasil dari pertanian organik di Banjarsari bisa menjadi inspirasi bagi kecamatan lain.
“Rencananya, penerapan metode SRI organik akan dimulai pada tahun depan, dengan harapan dapat memperluas area lahan pertanian ramah lingkungan,” ucapnya.
Tantangan di Lapangan: Kekeringan dan Hama
Meskipun hasil yang diperoleh cukup menggembirakan, Novi mengakui bahwa ada tantangan yang harus dihadapi petani, terutama terkait kondisi alam seperti kekeringan dan serangan hama.
Namun, ia menekankan bahwa sekolah lapang memberikan kesempatan bagi petani untuk belajar mengatasi tantangan tersebut.
“Karena ini adalah sekolah lapang, kita semua belajar dari pengalaman, termasuk menghadapi kendala seperti kekeringan dan hama,” jelasnya.
Penggunaan Dana Alokasi Khusus untuk Komoditas Cabai
Selain budidaya padi, beberapa kecamatan juga fokus pada pengembangan komoditas lain, salah satunya adalah cabai keriting di Kecamatan Banjaranyar.
Program pengembangan cabai ini didanai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) non-fisik, yang diharapkan dapat meningkatkan produksi komoditas cabai di wilayah tersebut.
“DAK non-fisik kami gunakan untuk pengembangan cabai keriting di Banjaranyar, sebagai bagian dari diversifikasi komoditas pertanian,” ungkap Novi.
Sekolah Lapang sebagai Sarana Belajar Bersama
Sekolah lapang yang diadakan di Kabupaten Ciamis bukan hanya menjadi tempat untuk mengembangkan keterampilan teknis, tetapi juga sebagai wadah belajar bersama antara petani dan penyuluh.
Menurut Novi, pendekatan pembelajaran orang dewasa yang diterapkan dalam sekolah lapang memungkinkan petani lebih aktif dalam proses belajar dan memberikan umpan balik langsung terkait kondisi lapangan.
“Sekolah lapang ini menggunakan pendekatan pembelajaran orang dewasa, sehingga petani bisa lebih aktif dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran,” katanya.
Harapan untuk Masa Depan Pertanian Ramah Lingkungan
Melalui program sekolah lapang ini, Dinas Pertanian Ciamis berharap dapat mendorong adopsi metode pertanian ramah lingkungan di seluruh kecamatan.
Dengan metode pertanian organik, petani diharapkan dapat meningkatkan produktivitas tanpa harus merusak ekosistem.
“Harapan kami, petani bisa mengadopsi metode pertanian yang lebih ramah lingkungan, sekaligus meningkatkan produktivitas mereka secara berkelanjutan,” tutup Novi.
Dinas Pertanian Ciamis juga berkomitmen untuk terus memberikan pendampingan kepada petani melalui program-program penyuluhan dan sekolah lapang di masa mendatang.

