Pemkab Garut Siapkan Transformasi RSUD dr. Slamet, Kapasitas Tempat Tidur Jadi Sorotan

DST

Image of Img 20261009 wa0055

GARUT, pewarta.id – Pemerintah Kabupaten Garut mulai mematangkan arah pengembangan RSUD dr. Slamet Garut melalui penyusunan masterplan jangka panjang menuju konsep Smart Hospital. Langkah ini tidak hanya menitikberatkan pada pembenahan fasilitas dan teknologi, tetapi juga peningkatan keselamatan pasien, kualitas sumber daya manusia, serta keramahan pelayanan.

Image of Img 20261009 wa0047

Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, mengatakan rencana pengembangan rumah sakit perlu disusun secara terintegrasi agar mampu menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.

 

Hal tersebut dibahas dalam kunjungan Presiden Perkumpulan Teknik Pelayanan-Kesehatan Indonesia (PTPI), Eko Supriyanto, bersama tim ke RSUD dr. Slamet Garut, Kecamatan Tarogong Kidul, Jumat (9/10/2026).

 

Syakur menjelaskan, salah satu tantangan utama yang dihadapi Kabupaten Garut adalah kesenjangan antara kebutuhan masyarakat dan ketersediaan tempat tidur rumah sakit. Dengan jumlah penduduk sekitar 2,94 juta jiwa, kapasitas tempat tidur yang tersedia saat ini disebut baru mencapai 1.183 unit.

 

“Kalau Garut memiliki 2,94 juta penduduk, secara teoritis dengan perbandingan satu tempat tidur untuk seribu orang, kebutuhannya sekitar 2.900 tempat tidur. Sementara yang tersedia sekarang baru 1.183,” ujar Syakur.

 

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan rumah sakit mengalami kelebihan kapasitas ketika jumlah pasien meningkat. Karena itu, pemerintah daerah tengah mengupayakan pembangunan rumah sakit baru sekaligus merevitalisasi fasilitas kesehatan yang sudah ada.

 

Syakur menegaskan, pengembangan tersebut harus didasarkan pada perencanaan menyeluruh, bukan sekadar penambahan fasilitas secara terpisah. Pemkab Garut juga membuka peluang pendampingan ahli untuk menyusun rencana pengembangan rumah sakit hingga 10 sampai 20 tahun ke depan.

 

Ia berharap transformasi tersebut dapat meningkatkan efektivitas pelayanan sekaligus memberikan pengalaman yang lebih baik bagi masyarakat ketika mengakses layanan kesehatan.

 

Smart Hospital Bukan Sekadar Teknologi

 

Presiden PTPI, Eko Supriyanto, menegaskan bahwa konsep Smart Hospital tidak semata-mata berkaitan dengan digitalisasi maupun kelengkapan sarana dan prasarana. Menurutnya, rumah sakit ideal harus mampu memberikan pelayanan yang aman, bermutu, nyaman, ramah, dan terjangkau.

 

Eko menjelaskan, prinsip tersebut mencakup keselamatan pasien dan pencegahan kesalahan medis, peningkatan mutu pelayanan, keamanan fasilitas, keramahan sosial, serta kepedulian terhadap lingkungan.

 

Selain itu, keterjangkauan juga menjadi aspek penting, baik dari sisi ekonomi maupun akses geografis dan karakteristik demografis masyarakat.

 

“Bukan masalah digital atau sarana-prasarana semata, tetapi bagaimana tujuan dari sebuah rumah sakit yang ideal itu bisa tercapai,” kata Eko.

 

Ia menambahkan, penerapan standar Smart Hospital membutuhkan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi bangunan, fasilitas, peralatan kesehatan, kompetensi sumber daya manusia, tata kelola organisasi, hingga aspek keselamatan pasien.

 

Melalui pendampingan dan penilaian berdasarkan kriteria yang berlaku, rumah sakit diharapkan dapat menentukan prioritas pembenahan secara bertahap dan terukur.

 

Eko juga menekankan pentingnya keramahan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan. Menurutnya, kualitas interaksi antara petugas dan pasien menjadi bagian penting dari upaya membangun kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit.

 

Kapasitas Tempat Tidur dan Tenaga Dokter Perlu Diperkuat

 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, dr. Leli Yuliani, menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas tempat tidur masih menjadi kebutuhan yang perlu terus diupayakan untuk mengantisipasi tingginya beban pelayanan kesehatan.

 

Ia menyebutkan, pemerintah daerah terus mendorong penambahan kapasitas rumah sakit agar pelayanan dapat berjalan lebih optimal dan risiko kelebihan beban bisa ditekan.

 

Sementara itu, Syakur mengungkapkan bahwa keterbatasan tenaga dokter juga menjadi tantangan dalam memenuhi kebutuhan layanan kesehatan di Kabupaten Garut.

 

Berdasarkan angka yang disampaikan dalam pertemuan tersebut, jumlah dokter di Garut saat ini sekitar 540 orang. Jika menggunakan rasio satu dokter untuk 2.000 penduduk sebagai gambaran kebutuhan, jumlah dokter yang diperlukan mencapai sekitar 1.470 orang.

 

Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, pemerintah daerah berupaya memperluas kerja sama dengan institusi pendidikan kedokteran serta menyiapkan formasi dokter baru. Penambahan tenaga medis akan dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan dan kemampuan daerah.

 

Syakur menilai, pembenahan fasilitas dan pemenuhan tenaga kesehatan harus berjalan beriringan agar peningkatan kapasitas rumah sakit benar-benar diikuti oleh perbaikan kualitas pelayanan.

 

Masterplan 15 Tahun Jadi Arah Pengembangan RSUD

 

Dari sisi pengelolaan rumah sakit, Wakil Direktur Umum dan Keuangan UOBK RSUD dr. Slamet Garut, Gita Rahayu Kania Bdi, mengatakan penyusunan masterplan untuk 15 tahun ke depan diarahkan untuk membangun sistem pelayanan yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.

 

Perencanaan tersebut mencakup penataan pelayanan, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, penguatan pengelolaan organisasi, serta upaya meningkatkan pendapatan dan mutu layanan rumah sakit.

 

Menurut Gita, masterplan diperlukan agar pengembangan RSUD dr. Slamet Garut memiliki arah yang jelas dan mampu menjawab kebutuhan pelayanan pada masa mendatang.

 

Melalui penyusunan rencana induk dan pendampingan teknis dari PTPI, Pemkab Garut berharap transformasi RSUD dr. Slamet Garut dapat berjalan lebih sistematis.

 

Pengembangan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas dan kesiapan fasilitas kesehatan, tetapi juga menghadirkan pelayanan yang lebih aman, profesional, ramah, dan mudah diakses oleh masyarakat.(Slamet Timur).

Also Read

Bagikan:

[addtoany]

DST

Tinggalkan komentar