BANDUNG. Pewarta.id — Semangat berbagi dan kepedulian sosial terpancar jelas di Studio Askara Indonesia, Kota Bandung, Sabtu (5/9/2026). Komunitas tunanetra The Blind Moms kembali membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menebar kebaikan melalui gelaran aksi Donor Darah Disabilitas (Dordardis) yang kelima kalinya.
Bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung, Askara Indonesia, Cinta Budaya Nusantara (CBN), serta didukung berbagai mitra sponsor termasuk Atalia Collaboration, aksi sosial ini diikuti oleh sekitar 60 peserta tunanetra yang datang dari berbagai pelosok Bandung.
Ketua Pelaksana Dordardis The Blind Moms, Nenden Shintawati, menegaskan bahwa kegiatan yang rutin digelar sejak 2021 ini menjadi sarana edukasi publik bahwa kelompok disabilitas bukanlah objek yang selalu harus dikasihani atau sekadar menunggu bantuan.
“Kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa kami, penyandang disabilitas tunanetra, bukan untuk dikasihani. Kami hadir untuk memberikan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan berbagi empati lewat setetes darah sejuta kasih sayang. Kami ingin membuktikan bahwa kami mampu berkarya dan berkontribusi jika diberikan kepercayaan yang sama,” ujar Nenden.
Nenden menambahkan, kegiatan yang diselenggarakan masih dalam suasana peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 RI ini dimaknai sebagai momentum untuk merdeka dari diskriminasi dan stigma negatif. Kendati ajang ini masih dijalankan secara swadaya, ia berharap kelak kedepan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemkot Bandung dapat memberikan dukungan berkelanjutan agar agenda donor darah ini bisa menjadi agenda rutin tahunan.
Antusiasme Peserta: Dari Terapis asal Ciamis hingga Ibu Rumah Tangga
Aksi kemanusiaan ini disambut antusias oleh para anggota komunitas. Rahmat (31), seorang disabilitas netra asal Ciamis yang kini menetap di Sukajadi, Kota Bandung, mengaku sengaja ikut serta untuk membantu sesama sekaligus bersilaturahmi. Alumni Pelatihan Panti Sosial Wyata Guna yang sehari-hari bekerja sebagai terapis pijat ini dinyatakan lolos pemeriksaan kesehatan oleh tim medis PMI.
“Awalnya saya ingin donor darah untuk membantu orang lain sekaligus silaturahmi dengan teman-teman. Alhamdulillah hasil screening lolos dan sehat. Semoga darah yang disumbangkan bisa bermanfaat dan membuat penerimanya sehat kembali,” ungkap Rahmat.
Kisah senada datang dari Murti (51), warga Cihanjuang, Cimahi Utara. Demi memastikan kadar hemoglobinnya (HB) memenuhi syarat, ia secara khusus menjaga pola makan dan istirahat sebelum hari pelaksanaan.
“Biasanya HB saya di bawah 12, tapi alhamdulillah tadi pas dites dapat 13 lebih jadi bisa ikut donor. Senang sekali bisa bermanfaat untuk orang lain,” tutur Murti penuh rasa syukur.
Kolaborasi dan Apresiasi Antarkomunitas
Aksi mulia The Blind Moms menuai pujian tinggi dari berbagai mitra penyelenggara. Perwakilan Askara Indonesia, Anthony, menilai keberanian dan kepedulian para ibu tunanetra ini menjadi tamparan sekaligus motivasi bagi masyarakat umum yang tidak memiliki keterbatasan fisik.
“Ibu-ibu tunanetra ini bisa melakukan kegiatan kemanusiaan yang sangat mulia. Di balik keterbatasan visual, mereka memiliki kelebihan lain seperti publik figur, kemampuan bermusik, dan empati tinggi. Ini mengingatkan kita untuk terus membuka ruang dan kesempatan yang setara bagi teman-teman disabilitas,” kata Anthony.
Apresiasi senada disampaikan perwakilan Cinta Budaya Nusantara (CBN), Melok Besari. Menurutnya, kesediaan para tunanetra mendonorkan darahnya merupakan teladan nyata bagi seluruh elemen masyarakat.
“Kami sangat kagum. Mereka memiliki keterbatasan penglihatan, tetapi mampu melakukan aksi mulia bagi orang yang membutuhkan. Orang yang fisiknya utuh saja belum tentu mau donor darah. Harapan kami, teman-teman disabilitas ke depan mendapatkan ruang dan hak yang makin layak di tengah masyarakat,” pungkas Melok. (GPWK)











