PADALARANG, pewarta.id — Peta krisis air bersih di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kian mengkhawatirkan. Hingga Senin (5/10/2026), bencana kekeringan tercatat telah menghempas 11 kecamatan dan melumpuhkan pasokan air bagi sedikitnya 50.856 jiwa warga di 34 desa.
Eskalasi dampak kekeringan yang kian meluas ini memaksa petugas bekerja ekstra tanpa kenal libur. Wilayah-wilayah seperti Batujajar dan Cipatat yang sebelumnya menjadi langganan krisis, kini makin terdesak seiring melonjaknya permintaan bantuan dari Kecamatan Ngamprah.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bandung Barat, Yoga Ali Imbran, mengungkapkan bahwa krisis telah merambah ke 166 titik lokasi pemukiman. Saban hari, armada tangki dikerahkan penuh demi menembus wilayah-wilayah krisis tersebut.
“Kami distribusi air bersih setiap hari, bahkan Sabtu dan Minggu permintaan selalu ada. Volume pengiriman bisa mencapai 10 ribu liter air lebih per hari,” tegas Yoga, Selasa (6/10/2026).
Kejar Waktu Pangkas Jalur Distribusi
Menghadapi lonjakan kebutuhan warga yang makin memuncak, BPBD KBB menggandeng PDAM Tirta Raharja dan BUMD Perumda Wibawa Mukti untuk memperkuat armada dan pasokan.
Guna memangkas waktu tempuh pengiriman tangki ke pemukiman warga, titik pengambilan air (water filling station) kini didekatkan ke wilayah terdekat seperti Cisarua dan Kota Baru Parahyangan. Langkah ini diambil agar armada tidak habis waktu di jalan di tengah tingginya antrean warga yang menanti pasokan.
Secara akumulatif, BPBD mencatat total bantuan air bersih yang disalurkan telah mencapai 877 ribu liter (ditulis 877 ribu liter sesuai penyesuaian data volume tangki) yang tersebar ke puluhan ribu penerima manfaat.
11 Kecamatan Cengkeram Kekeringan
Berdasarkan data BPBD KBB per 5 Oktober 2026, 11 kecamatan yang kini resmi berstatus terdampak kekeringan meliputi Batujajar, Cipatat, Cikalongwetan, Ngamprah, Padalarang, Cisarua, Sindangkerta, Cihampelas, Parongpong, Cipeundeuy, dan Gununghalu.
Kondisi geografis KBB yang berbukit serta sebaran 166 titik krisis menjadi tantangan berat bagi tim gabungan di lapangan. Tanpa adanya penambahan armada dan koordinasi lintas sektor yang presisi, ancaman krisis air bersih di Bandung Barat diprediksi masih akan terus membayangi hingga musim penghujan benar-tiba. (GPWK)


