CIAMIS, pewarta.id – Upaya serius Pemerintah Desa Cintaratu, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, dalam memerangi stunting membuahkan hasil nyata. Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Ahmad Musadad, sebanyak 31 kasus stunting yang sebelumnya menimpa balita usia satu hingga lima tahun berhasil dituntaskan hanya dalam waktu dua tahun, hingga kini mencapai angka nol kasus.
Capaian tersebut menjadi bukti keberhasilan strategi terpadu yang menggabungkan kebijakan anggaran desa, kolaborasi lintas sektor, serta inovasi berbasis masyarakat. Desa Cintaratu yang berada di wilayah perbatasan Kabupaten Cilacap dan Kota Banjar ini kini menjadi rujukan penanganan stunting di tingkat desa.
Ahmad Musadad mengungkapkan, saat awal menjabat dirinya dihadapkan pada kondisi puluhan balita yang mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis. Menyikapi persoalan tersebut, pihaknya langsung mengarahkan fokus pembangunan desa pada sektor kesehatan, khususnya penanganan stunting secara terencana dan berkelanjutan.
“Penanganan kami lakukan secara serius melalui intervensi gizi spesifik. Anggaran desa kami arahkan, ditambah dukungan dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas,” ujar Ahmad Musadad, Selasa (13/1/2026).
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah penyelenggaraan rutin Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan formula khusus. PMT tersebut disusun berdasarkan rekomendasi ahli gizi, menggunakan bahan pangan lokal bernutrisi tinggi. Balita stunting diberikan olahan belut yang diperkaya daun kelor sebagai sumber protein dan mikronutrien.
Tak hanya fokus pada intervensi gizi, Desa Cintaratu juga memperkuat layanan kesehatan dasar melalui pembentukan enam Posyandu berstandar Standar Pelayanan Minimal (SPM). Keenam Posyandu tersebut dilengkapi layanan lintas bidang, mulai dari kesehatan, pendidikan, sosial, pekerjaan umum, perumahan rakyat, hingga ketertiban dan perlindungan masyarakat (Tantibum Linmas).
Sebanyak 90 kader posyandu yang telah mendapatkan pelatihan menjadi garda terdepan pelayanan, menjangkau 40 Rukun Tetangga (RT) di wilayah desa. Keberadaan kader yang aktif dan terorganisir menjadi kunci keberhasilan pendampingan keluarga berisiko stunting.
Inovasi lain yang turut mendukung keberhasilan ini adalah pemanfaatan teknologi informasi melalui pengembangan Sistem Informasi Bebas Stunting (Sibesti). Aplikasi digital ini memungkinkan pencatatan dan pemantauan data secara akurat dan berkelanjutan, mulai dari calon pengantin, ibu hamil, balita, hingga ibu menyusui.
“Pencegahan stunting kami lakukan sejak hulu. Mulai dari calon pengantin, ibu hamil, balita, sampai ibu menyusui, semuanya terdata dan terpantau,” jelas Iin Inayati, Kader Posyandu Nusa Indah 1.
Keberhasilan enam Posyandu SPM yang memiliki gedung khusus ini bahkan telah menarik perhatian daerah lain. Sejumlah desa dari berbagai kabupaten dan kota datang untuk melakukan studi tiru terhadap sistem pelayanan dan inovasi yang diterapkan di Desa Cintaratu.
Ahmad Musadad menegaskan, capaian nol stunting bukanlah tujuan akhir, melainkan pijakan untuk memperkuat pencegahan jangka panjang.
“Kami berkomitmen menjaga capaian ini. Pencegahan akan terus dilakukan agar tidak ada lagi anak-anak Desa Cintaratu yang mengalami stunting,” tegasnya.***











