CIAMIS, pewarta.id – Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ciamis meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau. Langkah mitigasi dilakukan dengan memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan, menyiapkan kegiatan rehabilitasi kawasan, hingga menyalurkan bantuan air bersih bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Administratur (Adm) Perum Perhutani KPH Ciamis, Tofik Hidayat, mengatakan musim kemarau memiliki dua sisi yang harus dihadapi secara serius. Di satu sisi, kondisi tersebut dibutuhkan dalam sejumlah aktivitas kehutanan, namun di sisi lain kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan kekurangan ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
“Alhamdulillah, kita memang diberi musim kemarau. Dalam kondisi tertentu musim kemarau memang kita butuhkan, tetapi ada juga hal-hal yang harus kita waspadai. Pertama terkait dengan kebakaran hutan dan juga ketersediaan air,” ujar Tofik, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, menghadapi meningkatnya potensi kebakaran selama musim kemarau, Perhutani KPH Ciamis terus melakukan berbagai kegiatan preventif. Selain pencegahan, kesiapan penanganan dan pemadaman juga menjadi perhatian untuk mengantisipasi apabila terjadi kebakaran di kawasan hutan.
Tofik menyebut potensi kebakaran tidak hanya terdapat pada beberapa titik tertentu. Seluruh kawasan hutan yang berada dalam pengelolaan Perhutani KPH Ciamis, dengan luas mencapai sekitar 30.585 hektare, memiliki potensi terdampak kebakaran selama kondisi kemarau berlangsung.
“Kita tidak bisa hanya menyebut titik tertentu. Seluruh kawasan hutan seluas 30.585 hektare, saya kira potensial untuk terjadi kebakaran. Karena sekarang dari titik paling utara, selatan, timur sampai barat semuanya dalam kondisi kemarau, sehingga potensi kebakaran tetap ada,” katanya.
Meski demikian, Perhutani tetap memberikan perhatian lebih terhadap sejumlah kawasan yang dinilai memiliki tingkat kerawanan tertentu. Di antaranya kawasan hutan yang sering dilalui masyarakat maupun berada di sekitar jalur jalan umum.
Namun, Tofik menegaskan langkah pencegahan tidak hanya difokuskan pada titik-titik rawan tersebut. Kegiatan preventif dilakukan di seluruh kawasan sebagai bagian dari upaya menjaga hutan dari ancaman kebakaran.
“Memang ada tempat-tempat tertentu yang biasanya sering dilalui masyarakat atau berada di pinggir jalan umum. Tetapi kita fokus melakukan kegiatan preventif untuk mencegah terjadinya kebakaran di seluruh lokasi,” ungkapnya.
Selain meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan, Perhutani KPH Ciamis juga memberikan perhatian terhadap persoalan kekeringan yang dirasakan sebagian masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Sebagai bentuk kepedulian sosial, Perhutani mulai menyalurkan bantuan air bersih. Program tersebut rencananya akan dilakukan secara berkala selama musim kemarau dengan sasaran masyarakat yang mengalami keterbatasan akses terhadap sumber air.
Dalam penyaluran bantuan, Perhutani mengerahkan satu mobil tangki air yang dilengkapi dengan toren. Meski jumlah bantuan tersebut terbatas, Tofik berharap langkah itu dapat membantu meringankan beban masyarakat, terutama warga yang selama ini harus berjalan jauh untuk mendapatkan air.
“Kita mulai hari ini dan ke depan selama musim kemarau akan melakukan bantuan air bersih. Memang secara jumlah mungkin tidak terlalu besar, tetapi mudah-mudahan bisa meringankan masyarakat,” katanya.
Tofik mengaku prihatin melihat kondisi masyarakat di beberapa titik yang harus mengambil air dari sumber yang cukup jauh. Air kemudian dipikul untuk dibawa menuju rumah masing-masing, sehingga membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit.
Menurutnya, terdapat warga yang harus menempuh jarak puluhan meter, bahkan lebih dari seratus meter menuju sumber air. Setelah mendapatkan air, masyarakat masih harus membawa atau memikulnya kembali ke rumah.
“Kita sedikit berempati dan ingin membantu meringankan beban masyarakat. Paling tidak untuk satu atau dua hari mereka tidak harus mengambil dan memikul air dari tempat yang jauh,” ujarnya.
Perhutani KPH Ciamis pun berkomitmen melanjutkan program bantuan air bersih secara periodik. Lokasi penyaluran akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat di sejumlah wilayah sekitar kawasan hutan.
“Secara periodik akan kita lakukan, walaupun titiknya nanti akan bergeser ke tempat-tempat lain. Kita harus berbagi dengan lokasi lain yang mungkin mengalami kekurangan air bersih, airnya terbatas, atau sumber airnya ada tetapi lokasinya jauh,” kata Tofik.
Bantuan tersebut diharapkan dapat memberikan sedikit keringanan bagi masyarakat yang terdampak kekeringan. Perhutani juga terus memantau kondisi di lapangan untuk menentukan wilayah-wilayah yang membutuhkan dukungan air bersih selama musim kemarau.
Di sisi lain, mitigasi jangka panjang juga terus dipersiapkan. Tofik mengatakan Perhutani KPH Ciamis secara rutin menyiapkan berbagai kegiatan rehabilitasi kawasan hutan untuk menghadapi siklus musim kemarau dan musim penghujan.
Saat musim kemarau, salah satu kegiatan yang dilakukan adalah mempersiapkan persemaian dan pembibitan tanaman. Persiapan tersebut dilakukan agar bibit telah tersedia dan siap ditanam ketika musim penghujan tiba.
“Mitigasi itu sudah menjadi hal yang pasti kita lakukan. Saat musim kemarau, kita melakukan persiapan untuk kegiatan rehabilitasi yang nantinya dilakukan pada musim penghujan,” katanya.
Ia menjelaskan, periode musim kemarau dimanfaatkan untuk mempersiapkan bibit. Selanjutnya, ketika memasuki November, Desember hingga Januari dan curah hujan kembali mendukung, kegiatan penanaman dapat segera dilaksanakan.
“Misalnya sekarang waktunya membuat persemaian dan pembibitan. Sehingga pada saat November, Desember atau Januari, ketika hujan sudah datang, bibit sudah siap tanam dan kegiatan penanaman bisa langsung kita lakukan,” tutur Tofik.
Menurutnya, pola tersebut terus dilakukan setiap tahun sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kawasan hutan. Kegiatan rehabilitasi tidak hanya bertujuan menjaga tutupan lahan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya jangka panjang menjaga fungsi ekologis hutan.
Dalam upaya mencegah kebakaran hutan, Perhutani KPH Ciamis tidak bekerja sendiri. Peran masyarakat sekitar kawasan hutan menjadi bagian penting dalam menjaga dan mengawasi kondisi hutan selama musim kemarau.
Tofik mengatakan jajaran internal Perhutani terus berkoordinasi dan bekerja bersama masyarakat desa sekitar hutan serta Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Mereka dinilai menjadi salah satu garda terdepan karena memiliki aktivitas dan kedekatan langsung dengan kawasan hutan.
“Kita bersama-sama, baik teman-teman internal Perhutani maupun masyarakat desa sekitar hutan, khususnya LMDH yang memang menjadi garda terdepan bersama teman-teman kita di lapangan, terus menjaga hutan dan mencegah terjadinya kebakaran hutan,” ujarnya.
Kolaborasi tersebut diharapkan semakin memperkuat pengawasan kawasan hutan. Masyarakat juga diimbau turut menjaga lingkungan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kejadian yang berpotensi menimbulkan kebakaran.
Sementara itu, musim kemarau tidak berdampak terhadap kegiatan produksi Perhutani KPH Ciamis. Tofik memastikan aktivitas produksi, baik produksi kayu maupun getah pinus, tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Bahkan, kondisi cuaca kering dalam beberapa hal memberikan kemudahan terhadap akses menuju lokasi produksi. Kendaraan dapat lebih mudah masuk ke sejumlah kawasan karena tidak terkendala kondisi jalan yang becek akibat hujan.
“Kalau dalam konteks produksi kayu dan produksi getah pinus, tetap kita lakukan. Bahkan dalam satu sisi musim kemarau menjadi lebih mudah karena hambatan musim penghujan tidak ada. Akses lebih mudah dan kendaraan juga bisa lebih mudah masuk,” katanya.
Meski aktivitas produksi tetap berjalan, Perhutani KPH Ciamis menegaskan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran tetap menjadi perhatian utama. Selama musim kemarau berlangsung, pencegahan kebakaran, kesiapan penanganan, kepedulian terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan air, serta persiapan rehabilitasi hutan akan terus dilakukan secara berkesinambungan.
Melalui langkah tersebut, Perhutani KPH Ciamis berharap masyarakat dan seluruh pihak dapat bersama-sama menjaga kawasan hutan, khususnya di tengah meningkatnya risiko kekeringan dan kebakaran selama musim kemarau.










