CIAMIS,PEWARTA.id– Pondok Pesantren Darussalam Ciamis kembali menggelar tradisi tahunan yang penuh makna, Lailah Dzikrayah, sebuah malam keakraban dan kenangan yang mempertemukan pemimpin lama dan baru Kabupaten Ciamis.
Acara yang berlangsung pada Senin (10/2) malam di Gedung Nadwatul Ummah ini menjadi momen istimewa bagi masyarakat Ciamis untuk mengenang perjalanan kepemimpinan daerah sekaligus merajut kebersamaan dalam suasana penuh kebersahajaan.
Lailah Dzikrayah Tradisi Sejak Tahun 70-an: Simbol Keberlanjutan Pemimpin Ciamis

Kang Icep, Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam, menjelaskan bahwa Lailah Dzikrayah telah menjadi tradisi turun-temurun sejak tahun 1970-an sebagai bentuk penghormatan dan peralihan kepemimpinan di Kabupaten Ciamis.
“Ini merupakan tradisi yang baik dari pondok pesantren, di mana setiap pergantian bupati, kami mengadakan malam keakraban untuk mendoakan kedua pemimpin—baik yang baru maupun yang telah purna tugas,” ujar Kang Icep.
Pada kesempatan ini, dua sosok penting hadir dalam satu panggung, yaitu PJ Bupati Ciamis Budi Waluya (2024-2025) dan Bupati Ciamis terpilih, Herdiat Sunarya (2024-2029).
PJ Bupati Ciamis: Tiga Bulan yang Penuh Makna
Dalam sambutannya, Budi Waluya mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan memimpin Kabupaten Ciamis selama tiga bulan terakhir.
“Saya merasa bahagia bisa mengemban amanah ini sejak awal November 2024. Selama di sini, saya dan keluarga merasakan penerimaan yang luar biasa dari masyarakat Ciamis, mulai dari bupati, tokoh agama, pemuda, hingga rekan-rekan media. Rasanya seperti menambah saudara baru,” ujar Budi Waluya.
Sebagai penjabat bupati, tugas utamanya adalah memastikan Pilkada Ciamis berjalan aman dan tertib. Dengan dukungan dari Forkopimda dan masyarakat, tugas itu dapat dijalankan dengan baik.
“Tentunya, sebagai manusia biasa, saya tidak luput dari kekurangan. Jika ada hal yang kurang berkenan dalam sikap maupun keputusan saya, saya mohon maaf. Saya juga banyak belajar dari Kang Icep, termasuk dalam bermusik, yang mengajarkan saya tentang harmoni dan kejujuran dalam hidup,” tambahnya.
Di akhir sambutannya, Budi Waluya turut mendoakan agar Herdiat Sunarya dapat menjalankan amanah dengan penuh keberkahan dan membawa Kabupaten Ciamis semakin maju.
Herdiat Sunarya: Apresiasi dan Harapan untuk Masa Depan Ciamis
Sementara itu, Herdiat Sunarya, yang kembali terpilih sebagai Bupati Ciamis, memberikan apresiasi tinggi kepada Budi Waluya atas dedikasi dan pengabdian selama tiga bulan memimpin Ciamis.
“Saya sering mendengar ungkapan positif dari masyarakat tentang Pak Budi. Beliau begitu familier, selalu bertegur sapa dengan warga Tatar Galuh. Padahal, awalnya ada kekhawatiran karena beliau berasal dari KPK. Tapi ternyata, kepemimpinannya selama tiga bulan penuh dengan persahabatan,” ujar Herdiat.
Ia juga menyampaikan harapan agar Budi Waluya sukses menjalankan tugasnya di tempat baru setelah kembali ke instansi asalnya.
“Selamat kembali bertugas di Gedung Merah Putih. Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT,” tambahnya.
Sebagai bupati terpilih, Herdiat meminta doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Ciamis agar kepemimpinannya lima tahun ke depan dapat membawa kabupaten ini lebih maju dan berkembang.
Malam Penuh Keakraban dan Harapan
Lailah Dzikrayah bukan sekadar ajang perpisahan, tetapi juga momentum refleksi dan silaturahmi.
Acara ini diisi dengan sesi refleksi, sambutan, serta doa bersama untuk keberkahan Kabupaten Ciamis.
Masyarakat yang hadir di Gedung Nadwatul Ummah terlihat khidmat mengikuti rangkaian acara.
Malam itu menjadi bukti bahwa peralihan kepemimpinan di Ciamis selalu dilakukan dengan penuh kekeluargaan, menjunjung tinggi nilai kebersamaan, dan tetap menjaga tradisi luhur yang telah diwariskan sejak puluhan tahun lalu.
Acara Lailah Dzikrayah ditutup dengan momen penuh kehangatan, di mana PJ Bupati Ciamis, Budi Waluya, dan Bupati Ciamis terpilih, Herdiat Sunarya, bersama-sama menyanyikan sebuah lagu. Suasana semakin akrab ketika keduanya menyampaikan pesan melalui lantunan musik, mencerminkan harmoni dan kebersamaan yang telah terjalin selama masa kepemimpinan.
Momen ini menjadi simbol bahwa peralihan kepemimpinan di Ciamis bukan sekadar serah terima jabatan, tetapi juga estafet kebersamaan untuk membangun daerah yang lebih baik.











