CIAMIS, pewarta.id – Kekeringan mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah dataran tinggi Desa Beber, Kecamatan Cimaragas, Kabupaten Ciamis. Sedikitnya empat RT di tiga dusun terdampak kesulitan mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut membuat warga harus mencari sumber air ke lokasi yang cukup jauh. Sebagian lainnya terpaksa membeli air untuk kebutuhan rumah tangga, terutama memasak dan keperluan sehari-hari.
Salah seorang warga, Dina, mengaku sudah cukup lama merasakan kesulitan air bersih akibat musim kemarau. Ia mengatakan kondisi tersebut membuat warga harus mencari sumber air yang lokasinya jauh dari permukiman.
“Alhamdulillah ada bantuan air. Ini untuk kebutuhan di rumah, untuk masak,” ujar Dina saat menerima bantuan air bersih.
Kepala Desa Beber, Kecamatan Cimaragas, Abdul Wahid Miftah Sofa, mengatakan wilayah desanya memiliki kondisi geografis yang berbeda. Desa Beber diapit dua aliran sungai, yakni Sungai Cikadoi dan Cikembang. Namun, wilayah dataran tinggi tetap mengalami dampak kekeringan ketika hujan tidak turun dalam waktu cukup lama.
Menurutnya, wilayah yang paling terdampak berada di Dusun Golen, Dusun Sinarasa, dan sebagian Dusun Pasir Nangka. Warga di wilayah tersebut sangat bergantung pada ketersediaan sumber air untuk kebutuhan rumah tangga maupun aktivitas pertanian.
“Dampak kekeringan itu di posisi dataran atas, yaitu Dusun Golen, Dusun Sinarasa dan sebagian Dusun Pasir Nangka. Itu yang terdampak kekeringan,” kata MIftah.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan warga, PMI dan BPBD Kabupaten Ciamis secara rutin menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak. Pengiriman air kembali dilakukan pada Senin (14/9/2026) untuk membantu warga menghadapi kondisi kemarau.
Miftah menyampaikan apresiasi kepada PMI dan BPBD yang telah membantu distribusi air bersih. Menurutnya, bantuan tersebut sangat dibutuhkan masyarakat karena mayoritas warga Desa Beber menggantungkan perekonomian pada sektor pertanian.
“Sekarang di Desa Beber kami mendapat bantuan dari PMI sama BPBD. Secara rutin dikirim air, disuplai air bersih untuk warga. Hari ini juga ada pengiriman dari PMI dan BPBD,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kebutuhan air di wilayah dataran tinggi mulai terasa ketika tidak turun hujan selama satu bulan. Jika kondisi tersebut berlangsung hingga bulan kedua, pemerintah desa biasanya mulai berkoordinasi dengan BPBD maupun PMI untuk mendapatkan bantuan air.
“Kalau ada satu bulan saja tidak hujan itu sudah mulai terasa. Bulan kedua pasti kami menghubungi BPBD atau PMI,” katanya.
Di tengah keterbatasan sumber air, warga juga berupaya memenuhi kebutuhan dengan membeli air. Sementara pemerintah desa memanfaatkan sumber air yang tersedia di wilayah dataran rendah, seperti kawasan Mutasari dan Pasir Nangka, untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
“Di daerah Mutasari dan Pasir Nangka ada sumur yang alhamdulillah agak banyak. Dari desa, kami juga mengirim air kepada warga-warga yang membutuhkan,” jelasnya.
Namun, distribusi bantuan air bersih dinilai belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan. Kepala Wilayah Dusun Sinarasa, Ahmad Gojali, mengatakan di wilayahnya terdapat enam RT dan tiga RT di antaranya terdampak langsung kekeringan, yakni RT 3, RT 5 dan RT 6.
Dengan jumlah sekitar 54 kepala keluarga setiap RT, sedikitnya 162 kepala keluarga di tiga RT tersebut membutuhkan pasokan air bersih.
Ahmad mengatakan warga selama ini memenuhi kebutuhan air dengan memanfaatkan sumber air di sekitar Sungai Cikadoi. Jika tidak memungkinkan, warga terpaksa membeli air.
Bantuan air dari pemerintah dan lembaga kemanusiaan sudah diterima warga selama tiga minggu berturut-turut. Pengiriman dilakukan setiap hari Senin.
“Sekarang sudah tiga kali, tiga minggu berturut-turut, setiap hari Senin,” ungkap Ahmad.
Meski demikian, volume bantuan yang datang masih dinilai belum mencukupi kebutuhan warga. Menurut Ahmad, idealnya setiap RT mendapatkan satu tangki air agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara lebih merata.
“Kalau cukup itu satu RT satu tangki. Sekarang dikirimnya cuma satu tangki, ya tidak cukup,” katanya.
Ahmad berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi jangka panjang, bukan hanya bantuan air ketika musim kemarau. Salah satu kebutuhan mendesak yang diharapkan warga adalah pembangunan sumur bor atau sumber air permanen di wilayah yang terdampak.
“Harapan ke depannya mudah-mudahan ada bantuan dari pemerintah untuk sumur bor atau apa. Yang penting masyarakat kami tidak terdampak seperti sekarang ini,” ujarnya.
Sementara itu, Pemerintah Desa Beber juga tengah mendapatkan program Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) dari Balai Besar Wilayah Sungai (BWS). Program tersebut diharapkan dapat membantu menyediakan sumber air sekaligus mendukung kebutuhan masyarakat, terutama sektor pertanian.
Kepala Desa Beber, berharap pembangunan jaringan tersebut dapat segera memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Beber dan menjadi salah satu solusi menghadapi persoalan kekeringan yang berulang.
“Semoga program dari BWS ini bisa bermanfaat untuk masyarakat di Desa Beber,” pungkasnya.***



