Banjar – Tyto Alba dikenal sebagai burung yang sangat bermanfaat di alam bagi manusia, terutama untuk mengontrol hama tikus. Saking bermanfaatnya keberadaan Burung Tyto Alba ini bagi para petani, Kementerian Pertanian melalui Dirjen Tanaman Pangan melakukan Gerakan Pengendalian kepada Dinas Pertanian Kota/Kabupaten untuk menggerakkan petugas lapang (POPT, Penyuluh Pertanian, PBT) bersama Babinsa, Babinkamtibmas, dan Poktan untuk membangun Rumah Burung Hantu (Rubuha) minimal 1 unit di setiap Poktan.
Dimana rasio ideal untuk Rubuha ini adalah, satu Rubuha di setiap lima hektar sawah.
Namun sayang, di tengah-tengah gencarnya para petani untuk melestarikan keberadaan burung pemangsa tikus ini, masih ada saja oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, mencoba menangkap burung Tyto Alba ini, yang diperkirakan untuk dijadikan hewan peliharaan.
Cara penangkapan burung Tyto Alba dengan cara dijerat, terkadang mengakibatkan burung tersebut melakukan perlawanan, sehingga berakibat burung tersebut mati.
Penemuan beberapa ekor bangkai Tyto Alba akibat tali jerat yang dipasang oknum tak bertanggung jawab ini, dialami oleh Ketua Gapoktan Lestari Langensari Kota Banjar, Sutono.
Dan baru-baru ini, bangkai Tyto Alba ditemukan di Blok Panggang Kelompok Tani Mitra Sejahtera Kelurahan Muktisari Langensari.
Kepada media, Sutono menyampaikan rasa keprihatinannya atas ditemukannya hewan yang sangat bermanfaat bagi para petani ini.
” Saya kembali menemukan bangkai Tyto Alba, dengan kondisi kaki terikat tali jerat.
Sangat disayangkan sekali, padahal Tyto Alba ini sangat diperlukan untuk menjaga ekosistem di area pertanian untuk pengendalian hama tikus, ” katanya, Selasa ( 17/9/2024).
Sebelumnya, Sutono pernah menemukan 4 bangkai burung Tyto Alba, yang diduga dijerat oleh oknum tak bertanggung jawab, padahal Kementerian Pertanian telah memerintahkan untuk melestarikan keberadaan burung Tyto Alba ini.
” Semoga Pemerintah juga ikut terlibat dalam penyelamatan burung Tyto Alba ini. Sehingga keberadaan Tyto Alba ini tetap sesuai dengan fungsi ekosistemnya, yaitu membasmi hama tikus di sawah, ” ucapnya penuh harap.
Sementara itu, melalui sambungan telpon, Koordinator POPT ( Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan) Kota Banjar, Dadang, menyampaikan untuk melestarikan keberadaan Tyto Alba, telah dibangun sebanyak 66 Rubuha, yang didapat dari bantuan Provinsi, Dinas Pertanian Kota dan swadaya petani sendiri.
” Kami terus mendorong petani untuk membuat Rubuha untuk melestarikan Tyto Alba sebagai musuh alami hama tikus, ” ucapnya.
Namun ketika ditemukan masih ada saja masyarakat yang kurang kesadaran akan manfaat dari Tyto Alba, sehingga melakukan hal-hal yang bisa mengganggu keberadaan Tyto Alba, Dadang berharap adanya dorongan baik Perwal atau Perdes untuk mengatur agar keberadaan burung tersebut terlindungi.
” Kemudian juga harus ada sanksi sosial bagi si pelaku yang melanggar Perwal atau Perdes tersebut, ” harapnya.











