BANJAR, PEWARTA.ID — Usaha keras dan pantang menyerah dari Tim Search and Rescue (SAR) Gabungan selama dua hari berturut-turut akhirnya membuahkan hasil. Insiden nahas kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sebuah truk trowing—yang sebelumnya dilaporkan hilang kendali, menabrak rumah warga, hingga akhirnya terjun bebas ke aliran deras Sungai Citanduy—kini memasuki babak akhir. Sopir truk yang sempat dinyatakan hilang tertelan arus sungai tersebut akhirnya berhasil ditemukan, meski dalam kondisi yang menyisakan duka mendalam bagi pihak keluarga dan kerabat korban.
Penemuan ini menjadi titik terang dari operasi pencarian darurat yang telah menyedot perhatian warga setempat dan melibatkan berbagai unsur kedaruratan lintas wilayah. Korban ditemukan di kawasan aliran Sungai Citanduy, tepatnya pada titik sebelum lokasi penyeberangan Cikoronjo, yang masuk ke dalam wilayah administratif Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Jenazah korban berhasil dievakuasi pada hari Kamis (2/4/2026), tepat pada pukul 13.49 Waktu Indonesia Barat (WIB).
Menilik kembali kronologi kejadian, peristiwa tragis ini bermula dari sebuah rentetan kecelakaan dramatis di wilayah Kota Banjar. Sebuah truk trowing dilaporkan kehilangan kendali saat melaju, menghantam keras bangunan rumah warga di sekitar area bantaran, dan terperosok ke dalam perairan yang dikenal memiliki jeram serta arus bawah yang cukup membahayakan. Sesaat setelah kejadian memilukan tersebut, laporan terkait hilangnya sang sopir langsung memicu respons tanggap darurat dari otoritas terkait. Tim SAR Gabungan langsung terjun ke lokasi kejadian, berkoordinasi secara intensif, dan memetakan titik terakhir korban terlihat atau yang dalam istilah operasi penyelamatan dikenal dengan sebutan Last Known Position (LKP). Pemetaan LKP ini menjadi langkah krusial sebagai landasan utama dalam menentukan arah penyisiran jalur darat maupun air.
Upaya pencarian korban ini jelas bukanlah tugas yang mudah di tengah kondisi medan alam yang sangat dinamis. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjar, melalui Kepala Seksi (Kasi) Darurat dan Logistik, Yudi Andriana, menegaskan bahwa seluruh personel gabungan telah mengerahkan segala daya, alat, dan upaya secara maksimal. Operasi ini tidak hanya mengandalkan satu instansi saja, melainkan merupakan wujud nyata sinergitas dari berbagai elemen kemanusiaan.
“Tim SAR Gabungan yang terjun langsung ke lapangan terdiri dari personel tangguh BPBD Kota Banjar, BPBD Kabupaten Ciamis, relawan Palang Merah Indonesia (PMI), serta mendapat dukungan penuh dari jajaran instansi terkait lainnya. Kami berupaya menyisir secara komprehensif untuk memaksimalkan operasi penyelamatan ini,” ungkap Yudi dalam keterangan resminya.
Untuk menembus medan air yang sangat menantang, tim gabungan mengerahkan sedikitnya empat armada unit perahu karet bermesin atau Landing Craft Rubber (LCR). Keempat armada air ini bergerak serentak membelah arus Sungai Citanduy, melakukan manuver penyisiran secara intensif dari pagi hingga petang. Mereka secara teliti memeriksa setiap pusaran air, tumpukan puing sisa material, ranting pohon, dan area bantaran sungai yang dicurigai berpotensi menjadi tempat tersangkutnya jasad korban.
Kerja keras tanpa lelah yang menuntut ketelitian serta kesabaran tingkat tinggi itu akhirnya terjawab pada siang hari.
“Setelah dilakukan penyisiran secara maraton di sejumlah titik krusial yang sudah kami petakan, korban akhirnya berhasil ditemukan oleh tim operasi. Jarak penemuannya terbilang cukup jauh, yakni sekitar 18 kilometer dari titik awal insiden atau LKP. Tepatnya, korban ditemukan sebelum area penyeberangan Cikoronjo, Desa Baregbeg, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis,” papar Yudi menjelaskan rute panjang evakuasi jasad korban yang terseret derasnya arus sungai.
Berdasarkan hasil identifikasi cepat di lokasi penemuan, dipastikan bahwa korban bernama Abdul Haris, seorang pria yang tercatat sebagai warga daerah Cisadap, Kabupaten Ciamis. Saat ditemukan oleh petugas penyelamat, Abdul Haris sudah dalam keadaan meninggal dunia. Tubuhnya ditemukan mengambang setelah terbawa oleh kekuatan arus deras Sungai Citanduy.
Sesaat setelah jasad korban terpantau oleh tim yang berada di atas perahu LCR, proses evakuasi yang menegangkan segera dilakukan. Operasi pengangkatan jenazah ini membutuhkan koordinasi yang sangat presisi antara tim pemandu yang berada di atas permukaan air dan tim evakuasi darat yang telah bersiaga penuh di pinggir tebing sungai.
“Usai ditemukan dan dipastikan posisinya, korban segera dievakuasi dengan prosedur standar operasional menggunakan kantong jenazah. Sinergi antara tim darat dan air dalam proses pemindahan ini berjalan dengan sangat baik. Selanjutnya, jenazah korban langsung dibawa menggunakan ambulans menuju Instalasi Pemulasaraan Jenazah (IPJ) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Banjar,” jelas Yudi.
Di ruang IPJ RSUD Kota Banjar, jenazah Abdul Haris menjalani proses penanganan medis lebih lanjut sesuai prosedur yang berlaku. Identifikasi lanjutan dan pembersihan jenazah mutlak dilakukan oleh tim medis sebelum akhirnya diserahkan secara resmi kepada pihak keluarga yang telah berkumpul dengan perasaan duka dan cemas. Penyerahan jenazah ini menutup segala ketidakpastian, sehingga korban dapat segera dibawa pulang ke rumah duka untuk kemudian dikebumikan dengan layak di tempat peristirahatan terakhirnya.
Seiring dengan telah diserahkannya jenazah almarhum Abdul Haris kepada pihak keluarga, Operasi SAR Gabungan kemanusiaan ini secara resmi dinyatakan ditutup. Seluruh personel lintas sektoral yang tergabung dalam misi berat ini telah ditarik mundur untuk kembali bertugas ke kesatuan atau instansi masing-masing.
Meski upaya pencarian dan evakuasi telah dituntaskan dengan baik, teka-teki mengenai penyebab pasti insiden mematikan ini masih berada dalam ranah penyelidikan pihak kepolisian. Peristiwa kecelakaan truk trowing yang menghantam hunian warga dan menelan korban jiwa ini telah menciptakan kehebohan besar di tengah masyarakat Kota Banjar. Hingga berita ini diturunkan, pihak berwajib terus melakukan penyelidikan mendalam, mengumpulkan keterangan dari para saksi mata, serta mendalami temuan dari olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) guna mengurai kronologi lengkap dan memastikan faktor utama pemicu tragedi lalu lintas tersebut.











