Banjar, Pewarta.id – Kondisi bangunan Kantor Kelurahan Muktisari di Kota Banjar kian memprihatinkan. Atap yang sudah lapuk menjadi biang keladi masuknya air hujan ke dalam ruangan, bahkan sejumlah bagian plafon dilaporkan jebol akibat tidak mampu lagi menahan beban air yang terus menggenang di atas. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius, bukan hanya soal kenyamanan pelayanan publik, tetapi juga keselamatan para pegawai yang setiap hari beraktivitas di dalamnya.
Lurah Muktisari, Yeni, membenarkan kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama dan semakin memburuk seiring meningkatnya intensitas hujan. Ia menjelaskan bahwa setiap kali hujan deras mengguyur wilayah tersebut, air langsung merembes masuk ke dalam ruangan dan menyebabkan genangan.
“Kalau hujan deras, air masuk ke dalam ruangan dan menyebabkan banjir. Plafon juga banyak yang jebol karena tidak kuat menahan air,” ujar Yeni saat ditemui di kantornya.
Kerusakan yang terjadi bukan hanya mengganggu kenyamanan pegawai dalam bekerja, tetapi juga berpotensi merusak dokumen-dokumen penting milik kelurahan serta peralatan kantor. Dalam situasi seperti itu, para pegawai terpaksa harus mengamankan berkas-berkas administrasi agar tidak basah atau rusak terkena air.
Lebih mengkhawatirkan lagi, kondisi atap yang rapuh dan sudah melewati batas usia pemakaian dinilai dapat mengancam keselamatan jiwa. Yeni mengungkapkan kecemasan pihaknya apabila hujan lebat disertai angin kencang datang sewaktu-waktu.
“Kami khawatir jika terjadi hujan besar disertai angin, atap bisa ambruk dan menimpa pegawai yang sedang bekerja,” tambahnya dengan nada serius.
Pihak kelurahan mengaku tidak tinggal diam menghadapi situasi ini. Yeni menyampaikan bahwa permohonan perbaikan telah diajukan kepada instansi terkait, termasuk Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Banjar serta langsung kepada Wali Kota Banjar. Namun demikian, hingga berita ini diturunkan, realisasi perbaikan belum juga dilakukan.
Lambatnya respons dari pemerintah daerah menambah keresahan pegawai kelurahan yang setiap hari harus bekerja dalam kondisi yang tidak layak. Apalagi, kantor kelurahan merupakan ujung tombak pelayanan publik yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Kondisi fisik bangunan yang buruk tentu berdampak pada kualitas layanan yang diberikan kepada warga.
Kelurahan Muktisari sendiri merupakan salah satu kelurahan aktif di Kota Banjar yang melayani berbagai kebutuhan administrasi warganya, mulai dari pengurusan surat keterangan, administrasi kependudukan, hingga berbagai layanan sosial kemasyarakatan. Dengan kondisi bangunan yang terus memburuk, kelancaran operasional pelayanan pun terancam terganggu.
Yeni berharap agar pemerintah daerah segera memberikan perhatian serius dan mengambil langkah cepat untuk merealisasikan perbaikan gedung kantor kelurahan tersebut. Menurutnya, perbaikan tidak bisa terus ditunda mengingat risiko yang ditimbulkan semakin besar, terutama menjelang musim hujan yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam waktu dekat.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah daerah agar perbaikan segera dilakukan, sehingga aktivitas pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan dengan aman dan nyaman,” tegasnya.
Perbaikan infrastruktur gedung pemerintahan di tingkat kelurahan sejatinya menjadi tanggung jawab pemerintah kota melalui dinas terkait. Anggaran pemeliharaan dan rehabilitasi gedung pemerintah seharusnya dialokasikan secara berkala agar fungsi bangunan dapat terjaga dengan baik. Namun, fakta di lapangan menunjukkan masih banyak fasilitas pemerintahan di tingkat bawah yang kondisinya jauh dari standar kelayakan.
Masyarakat dan pegawai kelurahan kini menanti kepastian dari pemerintah Kota Banjar agar persoalan ini segera mendapat solusi konkret, bukan sekadar janji. Pasalnya, setiap hari aktivitas pelayanan publik harus tetap berjalan meski kondisi gedung terus memprihatinkan.











