Tasikmalaya, pewarta.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tasikmalaya mengingatkan masyarakat Priangan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan digital atau skem yang kian marak. Kepala OJK Tasikmalaya, Nofa Hermawati, menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk menguras dana nasabah tanpa disadari.
“Ketika pelaku sudah mendapatkan OTP, mereka langsung beraksi mengambil dana korban. Modus yang kini paling menjadi perhatian kami adalah silent call, yaitu panggilan telepon tanpa suara yang ternyata digunakan untuk merekam sampel suara korban,” ungkap Nofa, Jumat (21/8/2026).
Modus Penipuan Digital
Nofa menjelaskan, selain silent call, terdapat berbagai jenis skem lain yang beredar di masyarakat, di antaranya:
– Love skem: penipuan dengan pendekatan asmara.
– Sex skem: memanfaatkan jebakan konten dewasa.
– Call skem: panggilan telepon dengan identitas palsu.
– Silent call: panggilan hening untuk mencuri data suara.
Pelaku sering menyamar sebagai pihak bank atau lembaga resmi melalui WhatsApp dengan profil menyerupai institusi keuangan. “Kadang masyarakat tidak sadar membedakan antara akun resmi dan abal-abal. Begitu OTP diberikan, dana langsung terkuras,” jelasnya.
Kerugian Bisa Capai Miliaran
Menurut Nofa, kerugian akibat skem bisa mencapai miliaran rupiah. Ia mencontohkan kasus seorang pengusaha yang tanpa sadar memberikan OTP kepada pelaku dengan dalih membantu mengembalikan dana. “Padahal justru dari OTP itu uang korban dikuras,” katanya.
Pentingnya Laporan Cepat
OJK Tasikmalaya menekankan pentingnya masyarakat segera melapor ke Indonesia Anti-Skem Center (IASJ).
“Jika laporan dilakukan kurang dari 30 menit, peluang dana kembali masih ada. Namun jika terlambat, uang biasanya sudah berpindah ke banyak rekening dalam hitungan menit,” ujar Nofa.
Kasus Titip Limit dan Investasi Ilegal
Selain skem digital, OJK juga menyoroti kasus titip limit dan investasi ilegal berbasis skema ponzi. Nofa menegaskan, korban titip limit sebenarnya sadar ikut dalam investasi berisiko. “Mereka sempat menikmati bagi hasil, namun ketika skema ponzi runtuh, baru mengaku sebagai korban,” jelasnya.
Literasi Keuangan Jadi PR Besar
OJK menilai rendahnya literasi keuangan masyarakat menjadi tantangan utama. “Banyak yang tergiur keuntungan instan tanpa kerja keras. Padahal itu jebakan. Literasi masyarakat harus terus ditingkatkan agar tidak mudah terjerat skem,” tegas Nofa.











