BANDUNG , pewarta.id — Diiringi alunan musik karawitan yang bersemangat, gending Lancaran 45—karya monumental Presiden ke-1 RI Ir. Soekarno bersama seniman legendaris Ki Nartosabdo—berkumandang dengan derap penuh rasa patriotisme. Uniknya, irama ritmis dan dinamis ini dibawakan dengan penuh rasa percaya diri oleh kelompok warga paruh baya dan lansia yang tergabung dalam Unit Karawitan Sanyuri Priangan.
Sanyuri, yang merupakan singkatan dari Santi Paguyuban Kediri, merupakan wadah berkumpulnya warga asal Kediri, Jawa Timur, yang merantau dan bermukim di wilayah Priangan (Bandung dan sekitarnya).
Dengan balutan busana dan atribut serba merah putih, para lansia dan warga perantau ini melantunkan lirik Lancaran 45 beriringan dengan tabuhan gamelan jaranan. Lirik gending tersebut sarat akan makna sejarah, melukiskan kebanggaan atas kemerdekaan Indonesia yang diraih pada 17 Agustus 1945 berlandaskan Pancasila, serta menggelorakan semangat gotong royong untuk membangun bangsa.
Makna Lirik Gendhing “Lancaran 45”
Gendhing ciptaan Ir. Soekarno dan Ki Nartosabdo ini melukiskan kibaran Sang Dwiwarna serta ajakan bersatu mengisi kemerdekaan:
“Galo kae genderane kumlebet angawe-awe,
Abang Putih sang Dwiwarna iku lambang sejatine,
Negara kita wus merdika, Kang adhedhasar Pancasila,
Tumandang bareng maju nunggal tekad rahayu.”
— Ir. Soekarno & Ki Nartosabdo
Kutipan bait tersebut menggambarkan kibaran Bendera Merah Putih yang memanggil seluruh elemen bangsa untuk melangkah bersama, menyatukan tekad demi mewujudkan kemerdekaan yang sejati. Tembang ini ditutup dengan pekik “Merdeka! Merdeka! Merdeka!” sebagai penanda ketetapan jiwa atas bumi kelahiran.
Konsep “Ngiras Ngirus”: Latihan Rutin Sekaligus Syukuran Kemerdekaan
Ketua Sanyuri Priangan, Wartono Purwanto atau yang akrab disapa Mas Ipung, menjelaskan bahwa paguyubannya tidak menggelar perayaan HUT ke-81 RI secara khusus di luar ruangan. Hal ini mengingat para anggota Sanyuri tersebar di berbagai sudut Kota Bandung dan sekitarnya, sehingga mereka juga mengikuti kegiatan kemerdekaan di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
“Anggota Sanyuri Priangan ini tersebar di berbagai wilayah Bandung. Namun, sekalian karena Unit Karawitan Sanyuri rutin menggelar Gladen (latihan) Karawitan setiap Sabtu di Ruang Karawitan basement Gedung Telkom Jalan Japati Bandung, kami gunakan istilah Jawa ‘ngiras ngirus’ atau sekali jalan. Selain latihan, kami selipkan perayaan Agustusan, lomba terbatas, dan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan syukur,” ujar Ipung di lokasi acara, Sabtu (15/8/2026).
Merekatkan Silaturahmi Lintas Paguyuban dan Kemeriahan Lomba Bumbu Pecel
Lebih dari sekadar ajang unjuk kebolehan seni tradisional, momentum perayaan ini dirancang khusus sebagai wadah untuk semakin merekatkan tali silaturahmi serta memperkuat rasa kekeluargaan antarsesama perantau di tanah Pasundan. Kehadiran para anggota dan tamu undangan menciptakan ruang melepas rindu akan kampung halaman melalui obrolan hangat, gelak tawa, dan kebersamaan di ruang latihan.
Pengurus Sanyuri Priangan yang juga aktif di unit karawitan, Sri Radianti (Mbak Tanti), menyebutkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 18 penabuh gamelan dari internal Sanyuri. Ikatan persaudaraan tersebut terasa makin erat dengan hadirnya perwakilan paguyuban warga Banyumasan (Asmari) serta perwakilan karawitan Rekso Budoyo 2 PTDI Bandung, yang turut membaur dan bersinergi dalam suasana keharmonisan lintas komunitas.
Rangkaian acara diawali dengan sesi gladen yang sukses memainkan 5 lagu karawitan secara kompak, kemudian dilanjutkan dengan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan. Kebersamaan makin cair saat perlombaan khas Kemerdekaan digelar.
“Lombanya sangat seru, salah satunya lomba lempar bola. Uniknya, semua peserta paling mengincar hadiah utama berupa bumbu pecel asli Kediri yang disediakan sebanyak 20 bungkus, selain hadiah snack dan bahan pangan lainnya,” tutur Tanti.
Selain lomba lempar bola, kemeriahan dilanjutkan dengan lomba mengambil permen menggunakan sumpit, lomba baris-berbaris, hingga lomba joget balon berpasangan. Usai perlombaan, para peserta kembali memainkan 6 lagu karawitan hingga acara ditutup menjelang sore hari.
Kendati digelar secara tertutup di dalam ruangan (indoor), seluruh peserta mengaku puas dan bahagia. Peringatan HUT ke-81 RI ala perantau Kediri di Bandung ini tidak hanya sukses melestarikan budaya tradisional, tetapi juga menjadi jembatan hangat untuk mempererat tali silaturahmi, menjaga kekompakan, serta meneguhkan rasa persaudaraan sesama warga perantauan di tanah Priangan. [gpwk]











