Priangan Timur, pewarta.id – Studio Radio Actari 96.6 FM Ciamis Jabar, Sabtu (13/8/2025), menjadi saksi sebuah pertemuan hangat antara insan radio dan komunitas budaya. Paguyuban Banyumas Korwil Tasikmalaya rencananya berkolaborasi dengan Radio Actari melalui program siaran Tambo Kangen.
Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi biasa. Di balik rencana siaran bareng, terselip tujuan besar: menjaga ikatan antar anggota paguyuban, memperkuat kebersamaan warga Banyumas di tanah rantau, sekaligus memberikan edukasi bagi masyarakat luas, khususnya di wilayah Prianganh Timur (Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Pangandaran dan Garut)
Penanggung jawab Radio Actari, Anggi Angriawan, menyebut kolaborasi ini menjadi bukti nyata peran radio sebagai jembatan komunikasi sosial. “Radio bukan hanya media hiburan. Dengan adanya Paguyuban Banyumas di program Tamba Kangen, kami ingin membuktikan bahwa siaran juga bisa mempererat silaturahmi dan menyebarkan pesan edukatif ke semua lapisan masyarakat,” ungkap Angi.
Ia menambahkan, di tengah derasnya arus digital, radio lokal tetap punya tempat tersendiri di hati pendengar. “Pendengar kami, yang kami sebut Nom Noman, adalah komunitas yang loyal. Mereka selalu menunggu konten yang dekat dengan keseharian, dan paguyuban memberi warna baru di udara,” jelasnya.
Anggi menegaskan, kolaborasi ini baru langkah awal. “Kami ingin ke depan program seperti ini terus berkembang. Tidak hanya nostalgia, tapi juga wadah pemberdayaan masyarakat. Radio harus menjadi cahaya yang menerangi, bukan sekadar hiburan, dan tak hanya paguyuban Banyumas, tapi sesiapapun,” katanya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Banyumas Korwil Tasikmalaya, Rusdianto, menyampaikan apresiasi atas undangan yang diberikan. Menurutnya, rencana siaran bersama Radio Actari adalah kesempatan berharga.
“Terima kasih kepada Radio Actari yang sudah memberi ruang bagi kami. Melalui udara, kami bisa mengenalkan paguyuban sekaligus berbagi hal-hal positif yang bermanfaat untuk masyarakat,” ujarnya.
Rusdianto menegaskan, keberadaan paguyuban bukan sekadar wadah kumpul-kumpul. Lebih dari itu, ada misi budaya yang ingin dijaga. “Paguyuban Banyumas ini terdiri dari lima daerah eks-Karesidenan. Meski kami hidup di tanah rantau, adat dan budaya kampung halaman tetap kami junjung tinggi,” tambahnya.
Ia juga berharap program Tamba Kangen dapat menjadi medium pengikat bagi warga Banyumas di Priangan Timur.
“Insyaallah, dengan suara kami hadir lewat radio, semakin banyak saudara di perantauan yang merasa dekat dengan rumah. Itulah tujuan utama kami,” kata Rusli penuh harap.
Di sisi lain, Rusdianto menganggap kesempatan ini sebagai wujud pengabdian. “Kami bukan hanya hadir untuk anggota, tapi juga ingin memberikan kontribusi bagi bangsa. Melalui radio, pesan persatuan dan kebersamaan bisa menjangkau lebih luas,” ungkapnya.
Kolaborasi ini turut mendapat dukungan dari Ganang Partho W.Kakiyat, broadcaster yang juga jurnalis radio yangt selama ini peduli dengan siaran seni budaya. Ia menilai sinergi antara radio dan paguyuban adalah langkah strategis.
“Siaran Tamba Kangen ini tidak hanya memperkuat silaturahmi. Lebih dari itu, program ini juga punya efek besar dalam mencerdaskan bangsa melalui konten edukatif,” tegas Ganang.
Menurutnya, di era disrupsi digital, kekuatan radio justru ada pada kedekatan emosional dengan pendengar. “Kalau kita mampu menghadirkan konten yang menyentuh hati, radio tidak akan pernah tergeser. Kolaborasi dengan paguyuban adalah bukti nyata bagaimana media lokal bisa relevan sekaligus bermanfaat,” sambungnya.
Pertemuan itu membahas meliputi peluang lanjutan, termasuk program siaran yang lebih interaktif, ruang untuk dialog publik, pelatihan atau worshop public speaking dan menulis berita singkat di medsos, hingga kegiatan sosial yang bisa melibatkan komunitas.
Ganang pun menekankan pentingnya menjaga konsistensi. “Paguyuban harus terus bersinergi dengan media. Dengan begitu, nilai kebersamaan tidak hanya terasa di ruang pertemuan, tapi juga bisa dirasakan seluruh masyarakat yang mendengar,” ujarnya.
Suasana pertemuan ditutup dengan semangat optimisme. Baik Radio Actari maupun Paguyuban Banyumas berkomitmen menjadikan siaran sebagai wadah silaturahmi, edukasi, dan pengabdian. “Selama suara radio masih bisa didengar, semangat kebersamaan ini akan terus hidup,” pungkas Angi.
Kolaborasi ini membuktikan bahwa di tengah era serba digital, media lokal tetap punya daya hidup. Radio mampu menjadi jembatan, paguyuban menjadi penguat akar budaya, dan keduanya bersama-sama menjaga denyut silaturahmi di tanah rantau. [ast]











