Rp2,6 Miliar Amblas, SMKN 1 Cijeungjing Jadi Monumen Korupsi di Tebing Cimuntur

Image of Smk cijeunjing 04

CIAMIS, pewarta.id  – Bukan mercusuar pendidikan, melainkan monumen korupsi. Begitulah nasib proyek pembangunan SMKN 1 Cijeungjing. Tiga bangunan permanen di tepi Sungai Cimuntur, hasil kucuran APBD Jawa Barat senilai Rp2,6 miliar, kini membusuk ditelan ilalang. Sepi, terbengkalai, dan menjadi saksi bisu bagaimana uang rakyat raib tanpa manfaat.

Tanah Hibah, Harapan yang Dikhianati

Di balik gedung mangkrak itu ada pengorbanan seorang putra daerah, H. Elih Sudiapermana, dosen UPI yang rela melepas satu hektare tanah pribadi demi masa depan anak-anak Cijeungjing.

“Saya hibahkan tanah murni tanpa kompensasi, hanya agar anak-anak punya sekolah negeri,” ujarnya, menahan getir.

Namun niat suci itu berbalik pahit. Alih-alih dihormati, Elih justru berkali-kali dipanggil kejaksaan, seolah dirinya bagian dari permainan kotor. “Sudah jelas tanah tidak bermasalah. Yang bermasalah pembangunan, bukan saya,” tegasnya.

Baca Juga :  Menjelajahi Tempat Wisata Ciamis: Destinasi Alam dan Budaya yang Memikat

Sekolah Mati Sebelum Hidup

Bangunan megah itu hanya sempat diisi 20 siswa selama tiga bulan. Setelah itu, aktivitas terhenti total. Ruang kelas kosong, kursi berdebu, papan tulis membisu. Letaknya di bibir jurang menjadikannya ancaman keselamatan, bukan rumah ilmu.

Yang tersisa hanyalah kekecewaan. Anak-anak yang seharusnya bersekolah di tempat layak, kini menjadi korban salah kelola dan manipulasi anggaran.

Jaksa Tegaskan Ada Korupsi

Kasi Pidsus Kejari Ciamis, Herris Priyadi, terang-terangan menyebut adanya penyimpangan.

“Ada indikasi kuat korupsi. Bangunan tidak sesuai spesifikasi, kualitas buruk, hingga tidak layak dipakai. Negara jelas dirugikan,” ujarnya.

Baca Juga :  Pasca Demo Ricuh, Aparat Gelar Patroli Gabungan Skala Besar di Ciamis

Pernyataan itu menampar keras: Rp2,6 miliar anggaran publik raib, meninggalkan beton rapuh yang tak pernah berfungsi.

Simbol Bobroknya Tata Kelola Pendidikan

Kasus SMKN 1 Cijeungjing bukan sekadar proyek gagal, melainkan potret telanjang betapa lemahnya pengawasan dan betapa mudahnya dana publik dipelintir.

“Harapan kami mulia, anak-anak bisa sekolah di tempat layak. Tapi yang ada sekarang hanya kecewa dan masalah hukum,” kata Elih lirih.

Kini, di tebing Cimuntur berdiri tugu bisu: bangunan sekolah yang mati muda, bukti nyata bagaimana korupsi tak hanya mencuri uang, tapi juga masa depan generasi muda.(dn)

Facebook Comments Box

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *