CIAMIS, pewarta.id — Jajaran Kepolisian Daerah Jawa Barat menggelar doa bersama lintas agama untuk para korban bencana di Indonesia, khususnya yang terjadi di sejumlah wilayah di Pulau Sumatera. Kegiatan ini dilaksanakan serentak di seluruh jajaran kepolisian di Jawa Barat, termasuk Polres Ciami.
Doa bersama di Polres Ciamis dihadiri oleh berbagai tokoh lintas agama, mulai dari pemuka agama Islam, Katolik, Protestan, Buddha, hingga Khonghucu. Kebersamaan ini menjadi simbol kepedulian semua umat beragama dalam mendoakan keselamatan dan pemulihan masyarakat yang terdampak bencana.
Kapolres Ciamis AKBP Hidayattuloh menyampaikan bahwa doa lintas agama ini merupakan instruksi langsung dari Kapolda Jawa Barat sebagai bentuk empati dan solidaritas nasional atas musibah yang menimpa sejumlah daerah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Kegiatan doa bersama lintas agama ini menghadirkan pendeta, ustaz, dan pemuka agama dari Katolik, Protestan, Buddha, Konghucu, dan tentunya agama Islam. Tujuan kita adalah mendoakan saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah di Pulau Sumatera,” ujar AKBP Hidayattuloh, usai kegiatan do`a bersama di Mapolres Ciamis, Kamis, (4/12/2025).
Ia menegaskan bahwa seluruh jajaran Polda Jabar melaksanakan kegiatan ini secara serentak sebagai wujud kebersamaan dalam menghadapi bencana, sekaligus mendoakan agar keadaan di wilayah terdampak segera pulih.
“Musibah tidak ada yang tahu kapan terjadi. Sebagai sesama bangsa Indonesia dan sesama umat beragama, kita mendoakan sekaligus memberikan dukungan,” tambahnya.
Tambah Kapolres, Pak Kapolda juga telah menyalurkan bantuan sembako yang terpusat di Polda Jabar dan sudah dikirimkan ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Ciamis, DR. Sumadi, turut memberikan pandangannya. Ia menekankan bahwa doa lintas iman menjadi kekuatan moral bagi bangsa, terutama bagi mereka yang sedang menghadapi ujian berat akibat bencana.
“Doa kita panjatkan bagi saudara-saudara di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Karena mereka yang terdampak juga lintas agama, maka doa semua agama dan keyakinan menjadi kekuatan besar bagi mereka,” ujarnya.
Menurut Sumadi, Kehadiran lintas agama dalam suka dan duka adalah kekuatan kita sebagai bangsa. Ini bagian dari menjaga ketahanan bersama, termasuk resiliensi dalam menghadapi musibah.
Selain doa bersama, FKUB juga mendorong aksi sosial yang dilakukan melalui jejaring masing-masing agama.
“Setiap agama melalui networking-nya melakukan donasi sosial, memberikan bantuan sesuai kemampuan dengan cara masing-masing. Ini sudah disampaikan ke seluruh komunitas lintas agama,” tambahnya.
Sementara itu, Rohaniawan Khonghucu, Jiao Sheng Widiprianto menyampaikan keprihatinan mendalam. Mereka memastikan bahwa selain doa, komunitas Khonghucu melalui Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) telah menyalurkan bantuan ke daerah terdampak.
“Doa lintas agama ini bentuk dukungan moral dan spiritual bagi saudara-saudara kita yang terkena bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara,” jelasnya.
Kami dari Majelis Agama Khonghucu Indonesia sudah menyalurkan bantuan melalui Matakin Pusat di Jakarta. Semoga bisa meringankan beban mereka dan memberikan ketabahan. Untuk yang meninggal, semoga amal kebajikannya diterima dan ditempatkan di tempat mulia.
Kegiatan doa bersama ini menjadi simbol kuatnya persatuan dalam keberagaman. Melalui doa, solidaritas, dan aksi nyata, seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat saling menguatkan dalam menghadapi bencana yang terjadi di Tanah Air.***











