TASIKMALAYA, pewarta.id – Kesiapsiagaan menghadapi bencana perlu ditanamkan sejak dini, termasuk kepada anak-anak di lingkungan sekolah. Upaya tersebut dilakukan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Tasikmalaya melalui edukasi mitigasi bencana kepada siswa SDN 3 Arjasari, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (27/10/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman siswa mengenai berbagai potensi bencana sekaligus membekali mereka dengan pengetahuan dasar untuk menyelamatkan diri ketika situasi darurat terjadi.
Ketua Tagana Kabupaten Tasikmalaya, Jembar Adisetya, mengatakan pengenalan kebencanaan kepada anak-anak sangat penting agar mereka memahami risiko bencana serta mengetahui tindakan yang harus dilakukan untuk melindungi diri.
Menurutnya, edukasi tersebut mencakup pengenalan jenis-jenis bencana, langkah penyelamatan diri, serta tindakan yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.
“Kami kenalkan kepada anak-anak agar mereka paham dan tahu apa yang harus dilakukan,” kata Jembar.
Ia menjelaskan, materi disampaikan menggunakan bahasa yang sederhana dan metode edukatif agar mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar. Dengan begitu, pengetahuan yang diberikan diharapkan tidak hanya menjadi informasi, tetapi juga dapat diterapkan ketika mereka menghadapi kondisi darurat.
“Kami sampaikan dengan bahasa dan pemahaman yang mudah dicerna oleh anak. Harapannya, materi dan praktik yang disampaikan benar-benar mudah diterima oleh anak,” ujarnya.
Jembar menambahkan, pembentukan kesadaran kebencanaan sejak usia dini merupakan salah satu langkah penting dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana. Anak-anak perlu dibekali pemahaman mengenai risiko di lingkungan sekitar serta cara bertindak secara tepat ketika terjadi keadaan darurat.
Melalui edukasi di lingkungan sekolah, Tagana Kabupaten Tasikmalaya berharap para siswa dapat menjadi generasi yang lebih waspada, tanggap, dan memiliki pengetahuan dasar tentang keselamatan diri.
Sementara itu, para siswa SDN 3 Arjasari tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Penyampaian materi secara interaktif membuat siswa lebih bersemangat dalam mengenal berbagai potensi bencana dan memahami pentingnya kesiapsiagaan.
Edukasi ini diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun budaya sadar bencana di lingkungan pendidikan, sehingga kesiapsiagaan tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga bagian dari kebiasaan sehari-hari.***






