TASIKMALAYA, pewarta.id – Semangat kebersamaan, sportivitas, dan penguatan profesi mewarnai penyelenggaraan Pekan Olahraga Radiografer (POR) yang diinisiasi oleh Perhimpunan Radiografer Indonesia (PARI) melalui Pengurus Daerah (Pengda) III Jawa Barat. Kegiatan ini menjadi momentum mempererat silaturahmi antar radiografer sekaligus menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 PARI yang jatuh pada 1 Oktober 2026.
Ajang tersebut tidak sekadar menjadi ruang kompetisi olahraga, tetapi juga wadah membangun komunikasi, memperkuat solidaritas, serta menjaga kebugaran fisik di tengah padatnya tanggung jawab para tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Ketua Pengda PARI Jawa Barat, Drs. Yusuf Iskandar, S.ST., mengatakan, POR menjadi kesempatan berharga bagi para radiografer dari berbagai rumah sakit, klinik, dan institusi pelayanan kesehatan untuk berkumpul dalam suasana kebersamaan di luar rutinitas pekerjaan.
“Pekan Olahraga Radiografer ini menjadi tempat bersilaturahmi bagi para radiografer sejawat. Kami berharap melalui kegiatan ini, hubungan komunikasi antar radiografer semakin erat dan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan tugas serta pengabdian sebagai radiografer,” ujarnya.
Menurutnya, kebersamaan dan komunikasi yang terbangun melalui kegiatan olahraga diharapkan dapat memperkuat jejaring profesi. Dengan demikian, para radiografer tidak hanya berkembang dalam aspek keterampilan teknis, tetapi juga memiliki solidaritas dan semangat kolaborasi yang kuat.
Pemerintah Apresiasi Kebersamaan Radiografer
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, dr. Aa Ahmad Nurdin, M.M., M.H., yang hadir mewakili pemerintah daerah Kabupaten dan Kota Tasikmalaya.
Ia menyampaikan apresiasi atas berkumpulnya keluarga besar radiografer di Kota Tasikmalaya. Menurutnya, momentum ini menjadi kesempatan untuk memperkuat kebersamaan sekaligus meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan tenaga profesional di bidang teknologi radiologi.
“Luar biasa, keluarga radiografer bisa berkumpul di Kota Tasikmalaya,” ungkapnya.
Ia menegaskan, keberadaan radiografer memiliki peran penting dalam mendukung pelayanan kesehatan, terutama seiring berkembangnya teknologi medis dan transformasi digital di sektor kesehatan.
Kebutuhan terhadap radiografer profesional pun dinilai semakin penting. Ke depan, ketersediaan tenaga radiografer perlu diperkuat agar pelayanan pemeriksaan radiologi dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas, termasuk melalui fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas.

Ketua Umum PARI: Radiografer Menjadi Mata Dunia Kedokteran
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat PARI, Dr. H. Sugiyanto, S.Pd., M.App.Sc. (MRI), menegaskan bahwa perjalanan 70 tahun PARI menjadi bukti kematangan organisasi, ketangguhan, dan konsistensi dalam mendukung pembangunan kesehatan bangsa.
Ia juga menyampaikan penghormatan kepada para perintis, senior, penasihat, serta pendahulu organisasi yang telah meletakkan fondasi kuat bagi perkembangan profesi radiografer di Indonesia.
Menurut Sugiyanto, radiografer mempunyai posisi strategis dalam sistem pelayanan kesehatan karena berperan mendukung proses penegakan diagnosis melalui berbagai teknologi pencitraan dan pelayanan radiologi.
“Peran radiografer ini menjadi mata dunia kedokteran,” tegasnya.
Peran tersebut mencakup pelaksanaan pemeriksaan menggunakan sinar-X atau X-ray, ultrasonografi (USG), CT scan, magnetic resonance imaging (MRI), kedokteran nuklir, hingga dukungan terhadap pelayanan radioterapi sesuai kompetensi dan kewenangan masing-masing.
Melalui pemeriksaan tersebut, tenaga medis dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi bagian dalam tubuh pasien sebagai salah satu dasar dalam menegakkan diagnosis dan menentukan penanganan yang tepat.
Sugiyanto menekankan, profesionalisme radiografer harus selalu diiringi dengan kepatuhan terhadap prinsip keselamatan radiasi, perlindungan masyarakat dan lingkungan, serta penerapan kode etik profesi.
“Tanpa radiografer, pelayanan medis modern tidak akan berjalan secara maksimal,” ujarnya.
Dukung Program Eliminasi TBC, Ribuan Perangkat X-ray Disiapkan
Selain berperan dalam pelayanan diagnostik, radiografer juga menjadi bagian penting dalam mendukung program penanggulangan tuberkulosis (TBC) di Indonesia.
Sugiyanto menjelaskan, pemeriksaan menggunakan X-ray menjadi salah satu metode yang dapat dimanfaatkan dalam skrining untuk membantu mengidentifikasi masyarakat yang memerlukan pemeriksaan lanjutan terkait TBC.
Ia menyampaikan bahwa pemerintah tengah menyiapkan program penempatan sekitar 5.700 perangkat X-ray di puskesmas. Program tersebut membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang kompeten agar peralatan dapat dioperasikan secara tepat, aman, dan sesuai standar pelayanan.
“Jangan sampai nanti ada X-ray, tetapi tidak ada radiografer,” ujarnya.
Menurut Sugiyanto, pengoperasian perangkat radiologi tidak dapat dilepaskan dari aspek keselamatan radiasi, kualitas pemeriksaan, dan kompetensi tenaga yang menjalankannya. Karena itu, penempatan alat perlu berjalan seiring dengan ketersediaan radiografer profesional.
PARI pun mendorong pengurus daerah dan pengurus cabang untuk turut mendukung kesiapan tenaga radiografer di berbagai wilayah.
Keberadaan radiografer di puskesmas diharapkan dapat membantu memperluas akses masyarakat terhadap pemeriksaan radiologi, sekaligus mendukung upaya deteksi dini penyakit dan penguatan pelayanan kesehatan.
Tantangan Transformasi Digital dan Perkembangan Kecerdasan Buatan
Perkembangan teknologi kesehatan yang semakin pesat juga menjadi tantangan tersendiri bagi profesi radiografer. Digitalisasi layanan, kemajuan perangkat pencitraan medis, dan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menuntut tenaga profesional untuk terus memperbarui pengetahuan dan kompetensi.
Sugiyanto mengingatkan para radiografer agar tidak berhenti belajar dan selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.
Ia menilai, peningkatan kompetensi secara berkelanjutan menjadi kunci agar radiografer mampu beradaptasi dengan perubahan sekaligus menjaga kualitas pelayanan kepada pasien.
“Jangan pernah lelah untuk belajar. Terus belajar, belajar sepanjang hidup,” pesannya.
Menurutnya, kemajuan teknologi harus menjadi dorongan bagi radiografer untuk semakin profesional, bukan alasan untuk mengabaikan pentingnya penguasaan kompetensi dan tanggung jawab dalam pelayanan kesehatan.
POR Berpotensi Berkembang ke Tingkat Nasional
Tidak hanya menjadi agenda olahraga di tingkat daerah, POR juga membuka peluang untuk dikembangkan menjadi kegiatan berskala nasional yang melibatkan radiografer dari berbagai wilayah Indonesia.
Sugiyanto mengatakan, gagasan penyelenggaraan kegiatan olahraga bagi radiografer secara lebih luas telah menjadi bahan diskusi di tingkat pusat. Momentum pertemuan radiografer Asia yang direncanakan berlangsung di Yogyakarta pada 3–5 Juni 2027 juga berpotensi menjadi ruang untuk menyisipkan kegiatan olahraga dan kebersamaan profesi.
Rencana tersebut masih memerlukan pembahasan lebih lanjut, termasuk penentuan cabang olahraga yang memungkinkan diikuti oleh para radiografer dari berbagai daerah.
Sejumlah cabang olahraga yang dapat menjadi pilihan dalam kegiatan sejenis antara lain futsal, bulu tangkis, tenis meja, dan olahraga elektronik atau e-sports.
Selain kompetisi olahraga, kegiatan radiografer juga dapat dipadukan dengan seminar, lokakarya, atau forum ilmiah untuk memperkuat pertukaran pengetahuan dan memperbarui kompetensi profesi.
Dengan demikian, kegiatan olahraga tidak hanya menjadi sarana menjaga kebugaran, tetapi juga dapat berjalan beriringan dengan pengembangan kapasitas sumber daya manusia kesehatan.
Kolaborasi Organisasi dan Mitra untuk Kemajuan Profesi
Dukungan terhadap kegiatan pengembangan profesi juga melibatkan berbagai mitra. Dalam kegiatan ini, Agus Salim dari PT Scan Presisi turut menjadi bagian dari unsur mitra yang disebutkan dalam rangkaian acara.
Kolaborasi antara organisasi profesi, pemerintah, institusi pelayanan kesehatan, dan mitra terkait diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia serta pemanfaatan teknologi radiologi secara optimal.
Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan diagnostik, penguatan kompetensi, ketersediaan tenaga profesional, dan pemanfaatan peralatan medis perlu berjalan beriringan agar masyarakat memperoleh pelayanan yang berkualitas dan aman.
Momentum Memperkuat Solidaritas dan Pengabdian
Penyelenggaraan Pekan Olahraga Radiografer dalam rangka HUT ke-70 PARI menjadi pengingat bahwa kemajuan profesi tidak hanya dibangun melalui penguasaan teknologi, tetapi juga melalui kebersamaan, komunikasi, dan komitmen untuk terus berkembang.
Bagi para radiografer, olahraga menjadi ruang untuk menjaga kesehatan fisik sekaligus mempererat hubungan antarsejawat. Sementara itu, tantangan pelayanan kesehatan ke depan menuntut profesi ini untuk semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.
Melalui semangat kebersamaan yang terbangun di Tasikmalaya, PARI diharapkan terus memperkuat perannya dalam meningkatkan profesionalisme radiografer, mendukung program kesehatan nasional, serta memastikan pelayanan radiologi dilaksanakan secara aman, berkualitas, dan bertanggung jawab.
Tujuh dekade perjalanan PARI menjadi momentum untuk melangkah lebih jauh: memperkuat solidaritas, meningkatkan kompetensi, dan meneguhkan pengabdian radiografer bagi kesehatan bangsa.***






