KOTA TASIKMALAYA, pewarta.id — Kerajinan lokal Tasikmalaya berpeluang memperluas pasar hingga ke tingkat internasional melalui pemanfaatan material alam, penguatan karakter produk, dan kolaborasi dengan praktisi desain global. Integrasi kerajinan ke dalam arsitektur kontemporer menjadi salah satu peluang yang dibahas dalam dialog bisnis yang digelar Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Tasikmalaya di Meeting Room BJB Tasikmalaya, Sabtu (24/10/2026).
Forum bertema “Dari Lokal Menuju Pasar Internasional: Integrasi Produk dalam Arsitektur Kontemporer” tersebut mempertemukan pemerintah daerah, pelaku usaha, arsitek internasional, serta pakar rantai pasok untuk menjajaki potensi produk lokal dalam memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas.
Pembahasan ini menyoroti peluang bagi kerajinan Tasikmalaya untuk memasuki ekosistem arsitektur modern, yang membutuhkan material dengan karakter khas, kualitas terjaga, serta desain yang mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan proyek dan pasar.
Ketua KADIN Kota Tasikmalaya, M. Abdul Karim, mengatakan pengembangan produk unggulan daerah perlu berjalan seiring dengan perubahan tren desain dan kebutuhan konsumen global.
Menurutnya, integrasi produk lokal dalam arsitektur kontemporer dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan nilai tambah kerajinan sekaligus membuka akses pasar baru bagi pelaku usaha.
“Produk unggulan daerah perlu memiliki ruang untuk berkembang mengikuti kebutuhan pasar global. Melalui diskusi seperti ini, kami ingin membuka peluang baru bagi pelaku usaha kreatif agar produk mereka semakin dikenal dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Material Lokal Berpeluang Masuk Ekosistem Arsitektur Global
Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindag (KUMKM Indag) Kota Tasikmalaya, Sofian Zainal, mengapresiasi penyelenggaraan temu bisnis dan coaching clinic yang dinilai dapat membantu meningkatkan kapasitas pelaku usaha, terutama dalam mengembangkan material alam lokal.
Ia melihat adanya peluang ketika produk daerah mampu menjawab kebutuhan material untuk berbagai konsep arsitektur di sejumlah kota dunia.
“Pangsa pasar ternyata begitu luas. Dari pemaparan Mr. Greg, banyak kota di dunia dengan konsep menarik membutuhkan material yang memang bisa support untuk material-material tersebut,” kata Sofian.
Menurutnya, keterlibatan mitra eksternal, termasuk AHANA, diharapkan dapat memperkuat akses informasi pasar dan membantu pelaku usaha memahami kebutuhan calon pembeli internasional.
Dengan pemahaman tersebut, pengembangan usaha tidak hanya bertumpu pada kemampuan memproduksi barang, tetapi juga pada ketepatan membaca kebutuhan pasar, menyesuaikan spesifikasi produk, dan membangun hubungan dengan calon mitra bisnis.
Identitas Produk Menjadi Modal Daya Saing
Selain potensi material, penguatan identitas produk menjadi aspek penting agar kerajinan Tasikmalaya memiliki posisi yang jelas di tengah persaingan pasar.
Pelaku usaha, Febri, menilai kolaborasi antara pengusaha, pemerintah, dan KADIN diperlukan untuk mendorong pertumbuhan industri kerajinan secara berkelanjutan.
Menurutnya, dukungan lintas pihak dapat membantu pelaku usaha mengembangkan produk sekaligus mempertahankan karakter lokal yang menjadi pembeda dari produk lain.
“Harapan ke depan, pengusaha dan pemerintah bisa terus berkolaborasi, apalagi dengan di-support oleh Kadin, supaya bisa terus mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama di bidang kerajinan sendiri,” ungkap Febri.
Kolaborasi tersebut diharapkan menghasilkan langkah konkret bagi perajin, mulai dari pengembangan desain hingga perluasan jaringan pemasaran. Dengan begitu, identitas lokal dapat tetap dipertahankan tanpa menghambat penyesuaian produk terhadap kebutuhan pasar yang terus berkembang.
Praktisi Internasional Jajaki Potensi Kolaborasi
Peluang pengembangan produk lokal juga mendapat perspektif dari Gregory Kovacs, arsitek multidisiplin sekaligus Founder Studio Kovacs. Kehadirannya bersama para praktisi desain internasional menjadi kesempatan untuk mengenal karakter produk, komunitas, serta potensi usaha di Tasikmalaya.
Gregory mengatakan, kunjungan tersebut merupakan kesempatan untuk belajar langsung dari komunitas lokal sekaligus menjajaki kemungkinan kerja sama pada masa mendatang.
“Ini adalah kesempatan yang sangat unik untuk melihat dan menjalin kedekatan dengan komunitas lokal di sini. Kami merasa ini sangat bermakna dan kami menantikan cara-cara untuk bisa berkolaborasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi yang berkelanjutan membutuhkan proses untuk saling mengenal dan memahami potensi masing-masing pihak.
“Tujuan kami datang ke sini adalah untuk belajar. Jadi akan butuh sedikit waktu untuk mengenal kalian semua dan melihat bagaimana kami bisa berkontribusi. Namun, kami di sini untuk belajar, mengenal kalian, dan membangun koneksi,” tambahnya.
Pertemuan langsung dengan praktisi internasional tersebut membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan karakter material dan produk kerajinan Tasikmalaya. Potensi ini dapat dikembangkan lebih lanjut melalui eksplorasi desain dan penjajakan kebutuhan material untuk proyek arsitektur kontemporer.
Rantai Pasok Etis Jadi Bagian dari Persaingan Global
Selain desain dan kualitas produk, kesiapan rantai pasok menjadi aspek lain yang perlu diperhatikan untuk membangun kemitraan internasional.
Hal tersebut menjadi salah satu perspektif yang dibawa Aparna Bhatnagar Saxena, Founder & CEO AHANA sekaligus pakar Inclusive Business & Ethical Supply Chains.
Aparna berbagi wawasan mengenai pentingnya menghubungkan kerajinan tradisional dengan ekosistem bisnis modern. Dalam konteks pasar global, produk yang memiliki keunikan desain perlu didukung oleh proses produksi yang bertanggung jawab, konsistensi kualitas, serta kemampuan memenuhi kebutuhan mitra bisnis.
Pendekatan tersebut menempatkan daya saing kerajinan tidak hanya pada bentuk dan nilai estetikanya, tetapi juga pada kesiapan pelaku usaha membangun rantai pasok yang dapat mendukung kerja sama jangka panjang.
Bagi perajin dan pelaku usaha lokal, pemahaman terhadap aspek tersebut dapat menjadi bekal dalam menyiapkan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar internasional.
Melalui dialog bisnis ini, KADIN Kota Tasikmalaya berharap terbangun sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, perajin, dan mitra internasional untuk mengembangkan potensi kerajinan lokal.
Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan pertukaran gagasan menjadi langkah bisnis konkret, mulai dari peningkatan kualitas material, penguatan identitas produk, penyesuaian desain, hingga perluasan jaringan pemasaran.
Dengan pengembangan yang terarah dan kolaborasi berkelanjutan, kerajinan Tasikmalaya berpeluang memperluas perannya, bukan hanya sebagai produk unggulan daerah, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem arsitektur kontemporer dan industri kreatif global. ***






