Rumah Lapuk Ambruk Diguncang Gempa, Keluarga di Pamarican Terjepit Kemiskinan dan Bansos Terkendala Desil

Image of Terdampak gempa cilacap (2)

CIAMIS, pewarta.id – Guncangan gempa bumi magnitudo 5,4 yang berpusat di wilayah Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (4/9/2026) siang, bukan hanya meninggalkan kerusakan bangunan di Kabupaten Ciamis. Di balik ambruknya atap sebuah rumah warga di Desa Sukajadi, Kecamatan Pamarican, tersimpan persoalan sosial yang selama ini dihadapi keluarga pemilik rumah.

Rumah milik Iyan (54), warga Dusun Sukamaju, RT 21/06, Desa Sukajadi, Kecamatan Pamarican, bagian atap depannya ambruk setelah wilayah tersebut merasakan guncangan gempa. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Saat gempa terjadi sekitar pukul 12.00 WIB, Iyan sedang berada di dapur. Ia kemudian dikejutkan suara keras dari bagian depan rumah. Ketika keluar untuk melihat kondisi bangunan, atap rumahnya sudah roboh.

“Saya mendengar suara ‘bruk’ yang sangat keras dari arah depan. Begitu saya keluar untuk mengecek, ternyata atap bagian depan rumah sudah ambruk,” kata Iyan.

Baca Juga :  Cegah Gangguan Saat Tugas, Polres Ciamis Cek Langsung Senpi dan Kendaraan Operasional

Kerusakan tersebut semakin memperlihatkan kondisi rumah Iyan yang memang sudah cukup memprihatinkan. Sejumlah bagian bangunan terlihat lapuk sehingga diduga tidak mampu menahan guncangan yang terjadi.

Namun, persoalan keluarga Iyan tidak berhenti pada kerusakan rumah. Di tengah kondisi ekonomi yang terbatas, keluarga tersebut juga harus menjalani kehidupan dengan tanggung jawab merawat anak penyandang disabilitas.

Ironisnya, keluarga Iyan mengaku belum pernah mendapatkan bantuan sosial reguler dari pemerintah. Selama ini, bantuan yang pernah diterima hanya berupa Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD).

“Untuk bantuan sosial lainnya, saya tidak pernah menerima,” ungkap Iyan.

Image of Terdampak gempa cilacap (1)

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah Desa Sukajadi. Kepala Desa Sukajadi, Dede Sarto, mengatakan pihak desa sebenarnya telah berupaya mengusulkan bantuan bagi keluarga Iyan, termasuk melalui program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).

Baca Juga :  SILATURAHMI PPSI, DORONG PENCAK SILAT BISA MASUK DI LINGKUNGAN SEKOLAH SE JABAR

Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil karena keluarga Iyan tercatat dalam kategori Desil 6. Kondisi tersebut membuat pengajuan bantuan terbentur ketentuan yang berlaku dalam sistem pendataan penerima bantuan.

“Pihak desa sudah berusaha mengajukan, tetapi selalu terbentur aturan desil. Sejauh ini desa baru bisa mengalokasikan bantuan melalui BLT DD untuk membantu keluarga Bu Iyan,” tegas Dede.

Pasca-atap rumah ambruk, warga bersama pemerintah desa, unsur TNI-Polri dan relawan langsung bergotong royong membersihkan puing-puing bangunan. Penanganan sementara dilakukan agar material bangunan yang roboh tidak membahayakan penghuni maupun warga sekitar.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa bencana alam kerap memperlihatkan persoalan lain yang sebelumnya tersembunyi. Bagi keluarga Iyan, gempa bukan hanya soal atap rumah yang ambruk, tetapi juga tentang bagaimana keluarga rentan mendapatkan perlindungan dan bantuan ketika menghadapi kondisi darurat.(AR)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *