Tasikmalaya, Pewarta.id — Dapur SPPG CV Alaska Rasa Nusantara milik Moena Rosliana di Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, siap beroperasi akhir Juni 2025.
Dapur ini digadang-gadang jadi salah satu model nasional program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdiri di atas lahan seluas 460 meter persegi, dapur milik CV Alaska Rasa Nusantara itu dilengkapi fasilitas yang tak umum dijumpai di dapur skala UMKM.
Dua unit cold storage berkapasitas masing-masing dua ton, ruang masak dan pengepakan yang luas, serta rice steamer berkapasitas jumbo.
Ruang pendukung seperti musala, loker karyawan, kamar mandi terpisah, serta kantor untuk kepala SPPG, tenaga ahli gizi dan akuntansi juga tersedia.
”Kami siap melayani 3.700 porsi per hari untuk tahap awal. Dalam waktu dekat ditingkatkan menjadi 5.000,” ujar Moena saat ditemui di lokasi dapur, Senin (16/6/2025).
Perjalanan Tak Mulus
Dibalik kesiapan tersebut, perjalanan Moena mewujudkan dapur MBG ini bukan tanpa rintangan.
Pada akhir 2024, ia menjadi korban penipuan bermodus rekrutmen penyedia dapur MBG oleh kelompok yang menamakan diri sebagai Paguyuban Jakwir.
Kelompok itu mengklaim memiliki kedekatan dengan pejabat tinggi negara dan aparat keamanan.
Bersama 34 UMKM lainnya, Moena diminta menyetorkan dana Rp 8,5 juta untuk keperluan administrasi dan sertifikasi halal.
Tak lama berselang, muncul permintaan tambahan sebesar Rp 2,5 juta untuk bimbingan teknis.
Total kerugian yang dialami para korban mencapai belasan juta rupiah per orang.
Namun, bukan hanya dana yang raib. Tergiur janji proyek nasional, Moena nekat membangun dua dapur umum dengan total investasi mencapai Rp 1,1 miliar.
Program yang dijanjikan tak pernah terwujud, dan komunikasi dengan para perekrut pun terputus.
Pada Februari 2025, ia bersama sejumlah korban melapor ke Polres Tasikmalaya Kota, mewakili lebih dari 180 korban dari Tasikmalaya, Ciamis, dan Banjar.
Bangkit
Meski sempat kecewa, Moena memilih bangkit.
Ia menginisiasi pembangunan dapur resmi dan menghubungi Badan Gizi Nasional (BGN).
Dukungan datang dari Wakil Ketua BGN Mayjen (Purn) Lodewijk Pusung.
Relawan Nawasena 08 yang mendampingi program MBG turut melakukan verifikasi kesiapan dapur dan melaporkan temuan di lapangan ke Kantor Komunikasi Kepresidenan.
“Moena adalah contoh pelaku UMKM yang mampu bertransformasi dari korban menjadi penggerak. Dapur ini sangat layak beroperasi,” ujar Giuseppe Kapoyos, Ketua Nawasena 08, di Tasikmalaya.
Kini, dapur SPPG milik Moena telah menyelesaikan simulasi operasional pada awal Mei 2025.
Dalam simulasi tersebut, sebanyak 3.569 porsi makanan disiapkan dan didistribusikan ke 12 sekolah, melibatkan personel TNI, Polri, dan tenaga relawan.
Minimnya jumlah dapur MBG menjadi tantangan tersendiri bagi pelaksanaan program ini di daerah.
Dari 83 satuan pendidikan penerima MBG di Kota Tasikmalaya, hanya sembilan yang memiliki dapur terverifikasi. Di Kabupaten Tasikmalaya, jumlahnya lebih rendah, hanya tujuh.
Moena menjadi satu dari hanya tiga korban penipuan MBG yang berhasil lolos verifikasi dan mendirikan dapur resmi.
Ia yakin, dapur miliknya dapat menjadi model replikasi di wilayah lain.
Pengalaman bertahun-tahun sebagai pengusaha katering menjadi modal utama dalam membangun sistem pengolahan makanan yang aman dan efisien.
“Kalau niatnya untuk gizi anak-anak, saya tak akan menyerah. Penipuan kemarin jadi pelajaran berharga,” kata Moena.
Jalan Baru
SPPG CV Alaska Rasa Nusantara diharapkan mulai menyuplai makanan pada akhir Juni 2025.
Pelatihan relawan dan pekerja dapur terus dilakukan untuk menjaga standar kualitas makanan dan mencegah kejadian keracunan massal yang pernah mencoreng pelaksanaan program MBG di tempat lain.
Keberadaan dapur seperti milik Moena sangat krusial dalam pemerataan program MBG.
Intervensi pemerintah pusat juga menjadi kunci agar praktik serupa penipuan yang menimpa Moena tidak terulang di daerah lain.
Bagi Moena, perjuangannya belum selesai.
Namun, satu hal pasti, dari dapur yang dibangun dengan keringat dan air mata, ia kini melihat masa depan yang lebih cerah bagi generasi muda di Tasikmalaya.***

