Jumat, 16 Oktober 2026
Priangan Timur

Refleksi 25 Tahun Kota Tasikmalaya Memanas, Massa Aksi Panjat Tembok dan Duduki Area Bale Kota

Image of Img 20261016 wa0042

TASIKMALAYA, pewarta.id — Aksi unjuk rasa dalam rangka refleksi 25 tahun Kota Tasikmalaya yang digelar Aliansi Cipayung Plus bersama Poros Pelajar se-Kota Tasikmalaya memanas di Kompleks Balai Kota Tasikmalaya, Jumat (16/10/2026).

 

Massa aksi berupaya menerobos barisan pengamanan kepolisian untuk memasuki area Balai Kota. Bahkan, sejumlah peserta aksi memanjat tembok untuk masuk ke kompleks pemerintahan tersebut. Setelah berhasil masuk, massa kemudian membakar ban di depan gedung Balai Kota.

 

Sebelumnya, upaya massa memasuki area melalui pintu depan sempat tertahan oleh penjagaan ketat. Namun, massa akhirnya berhasil masuk melalui pintu belakang dan bergerak menuju bagian dalam kompleks Bale Kota.

 

Setibanya di lokasi, massa tidak mendapati Wali Kota Tasikmalaya. Mereka juga tidak dapat menemui pimpinan daerah karena akses menuju ruang kerja Wali Kota terlihat tertutup rapat. Massa kemudian memilih menduduki ruangan di sebelah ruang kerja Wali Kota hingga Jumat sore.

 

Koordinator Lapangan aksi, Teni Ramdani, mengungkapkan kekecewaannya atas ketidakhadiran pejabat daerah untuk menemui massa dan merespons tuntutan yang disampaikan.

 

“Jelas bahwa hari ini kami dari Aliansi Cipayung Plus dan Poros Pelajar se-Kota Tasikmalaya merasa kecewa, merasa tidak diindahkan. Lagi dan lagi Wali Kota Tasikmalaya hari ini tidak ada dan tidak menemui kami,” tegas Teni.

 

Menurut Teni, aksi tersebut membawa sejumlah tuntutan terkait arah pembangunan Kota Tasikmalaya, terutama optimalisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029.

 

Massa menyoroti kepemimpinan pemerintah kota yang mereka nilai lebih menitikberatkan pada kegiatan seremonial dan pembangunan fisik yang bersifat kosmetik dibandingkan pemenuhan kebutuhan substantif masyarakat kecil.

 

Selain itu, massa menilai sejumlah kebijakan dan penegakan peraturan daerah, termasuk yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), belum berpihak kepada masyarakat kecil.

 

“Maka hari ini Wali Kota yang maju itu bukan pembangunannya, tapi dirinya yang terus berlari untuk dirinya sendiri. Kita sudah sangat muak,” kata Teni.

 

Terkait aksi pendudukan di dalam kompleks Balai Kota, Teni menegaskan massa telah sepakat untuk tetap bertahan hingga memperoleh jawaban atau respons langsung dari pimpinan daerah.

 

“Ketika hari ini Wali Kota Tasikmalaya maupun Ketua DPRD Kota Tasikmalaya tidak ada inisiatif menemui massa aksi, maka kami bersepakat untuk terus berdiam diri di sini. Ini menjadi alarm dan dentuman keras untuk Wali Kota Tasikmalaya yang selalu lari dari tanggung jawabnya ketika ada penyampaian pendapat di muka umum,” pungkasnya.

 

Hingga Jumat sore, massa aksi dilaporkan masih bertahan di dalam kompleks Balai Kota Tasikmalaya sambil menunggu respons dari pemerintah daerah.***

 

 

 

 

 

DST

Penulis di Pewarta ID.

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terus membaca

Berita Selanjutnya

Memuat berita selanjutnya…