Jumat, 16 Oktober 2026
Hiburan

Ribuan Warga Saksikan Prosesi Adat Nyangku Panjalu, Warisan Leluhur yang Tetap Terjaga

Image of Img 20250918 wa0105

Ciamis, pewarta.id – Suasana Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, pada Kamis (19/9/2025) dipadati ribuan warga dan peziarah dari berbagai daerah. Mereka datang untuk menyaksikan prosesi adat Nyangku Panjalu, sebuah tradisi sakral yang sudah berlangsung turun-temurun sejak ratusan tahun silam.

Prosesi adat Nyangku digelar setiap tahun di bulan Maulid, sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur Panjalu sekaligus simbol penyucian pusaka kerajaan yang diyakini sebagai peninggalan para penyebar Islam di Tatar Galuh.

Ketua Pemangku Adat Panjalu, Agus Gusnawan, menuturkan bahwa Nyangku tidak hanya sekadar tradisi budaya, melainkan juga sarat dengan nilai spiritual. Kata Nyangku sendiri berasal dari bahasa Arab nyangkok yang berarti membersihkan.

“Nyangku ini dari dulu sudah ada. Selain melestarikan budaya, prosesi ini juga menjadi sarana syiar agama. Pusaka yang dicuci bukan hanya benda sejarah, tapi simbol perjuangan leluhur dalam menyebarkan Islam,” ujar Agus saat ditemui di lokasi acara.

Dalam prosesi kali ini, hanya tiga pusaka utama yang dicuci, meski sebenarnya jumlah pusaka yang tersimpan di Panjalu lebih banyak. Tiga pusaka tersebut yaitu Pedang Utama, Kuja, dan Pedang Perabuhari Kuning.

Agus menjelaskan bahwa selain tiga pusaka itu, Panjalu masih menyimpan beragam benda pusaka lainnya seperti Pedang Julfi Karju, Stokomando, Pedang Mas, Keris Mas, Kris Kalawas, Tukensana, Kris Chakradewa, hingga Pedang Gunungbidung. Sebagian besar pusaka tersebut diyakini berasal dari abad ke-6.

Menurut Agus, keberadaan pusaka itu menjadi bukti sejarah bahwa Panjalu merupakan salah satu pintu awal masuknya Islam di Nusantara. “Beliau yang membawa pusaka ini adalah pembawa Islam pertama ke Panjalu, bahkan diyakini salah satu yang pertama ke Indonesia,” ujarnya.

Ribuan warga tampak antusias menyaksikan jalannya prosesi. Mereka memadati area sekitar Situ Lengkong Panjalu sejak pagi hari. Suasana penuh khidmat terasa ketika pusaka satu per satu dikeluarkan untuk kemudian dicuci dengan air dari mata air keramat.

Agus mengaku terharu melihat antusiasme masyarakat. “Alhamdulillah, saya sangat bangga. Nyangku ini bukan milik Panjalu saja, bukan milik Ciamis atau Jawa Barat, tapi milik semua orang yang ingin menghormati leluhur penyebar Islam,” katanya.

Ia berharap, prosesi Nyangku tidak hanya menjadi tontonan atau keramaian belaka, tetapi juga mampu meningkatkan kesadaran spiritual masyarakat, terutama generasi muda.

“Harapan kami, Nyangku ke depan bukan hanya meriah secara budaya, tapi juga memberi dampak pada peningkatan iman, Islam, serta rasa hormat kepada leluhur. Ini penting agar nilai luhur yang diwariskan tetap hidup,” tambah Agus.

Prosesi pencucian pusaka dilakukan dengan sangat hati-hati. Air yang digunakan berasal dari beberapa sumber mata air di Panjalu yang diyakini memiliki nilai kesakralan. Setelah dicuci, pusaka kemudian dikeringkan dan dikembalikan ke tempat penyimpanan khusus.

Kehadiran masyarakat yang datang dari berbagai daerah juga menjadi bukti bahwa Nyangku sudah menjadi daya tarik wisata budaya sekaligus religi. Tidak hanya warga lokal, banyak tamu dari luar Jawa Barat ikut menyaksikan acara ini.

Pemerintah Kabupaten Ciamis turut memberikan dukungan penuh. Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disbudpora) Ciamis, Dian Budiana, menyebutkan bahwa prosesi Nyangku adalah warisan berharga yang harus dijaga bersama.

“Tradisi ini adalah kekayaan budaya kita. Pemerintah daerah berkomitmen melestarikannya. Saat ini kami tengah menyusun peraturan daerah tentang pemajuan kebudayaan agar upacara adat seperti Nyangku bisa terus berjalan,” ujar Dian.

Ia menambahkan, prosesi adat ini tidak hanya berdampak pada pelestarian budaya, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi melalui sektor pariwisata. “Antusiasme masyarakat dan peziarah jelas memberikan nilai tambah bagi Panjalu,” katanya.

Dian berharap Nyangku ke depan bisa lebih dikenal luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. “Kami ingin prosesi ini tetap terjaga, bukan hanya sebagai atraksi budaya, tapi juga sebagai identitas religius dan historis Ciamis,” ujarnya.

Dengan semangat kebersamaan antara masyarakat adat, pemerintah, dan peziarah, prosesi Nyangku Panjalu diyakini akan terus bertahan lintas generasi. Tradisi ini bukan hanya wujud penghormatan kepada leluhur, tetapi juga menjadi cermin bagaimana budaya dan agama bisa berpadu dalam harmoni.

DST

Penulis di Pewarta ID.

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terus membaca

Berita Selanjutnya

Priangan Timur

Aksi Nyata Pelestarian Satwa, Dedi Kusnadi Warga Nasol Beli Elang Ular Bido untuk Dikembalikan ke Alam Melalui BKSDA

CIAMIS, PEWARTA.ID – Kepedulian terhadap kelestarian satwa liar ditunjukkan Dedi Kusnadi, warga Nasol, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Dengan menggunakan uang pribadi, ia…

DST · 3 hari lalu
Jawa Barat

Menjaga Asa di Tengah Tekanan Fiskal: Siasat Ciamis Lawan Tuberkulosis demi Ketahanan Ekonomi

CIAMIS, pewarta.id — Kabupaten Ciamis kini berada di persimpangan jalan yang penuh tantangan. Di satu sisi, daerah yang didominasi sektor pertanian ini…

DST · 4 minggu lalu
Jawa Barat

Mencegah Sebelum Terlambat: Kemenkes Genjot Program CKG demi Tekan Kasus TB dan Gagal Ginjal Usia Muda

CIAMIS, pewarta.id — Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Kesehatan resmi memindahkan arah kebijakan kesehatan nasional. Pendekatan yang selama ini berfokus pada pengobatan…

DST · 4 minggu lalu
Priangan Timur

Bupati Ciamis Tekankan Pengawasan Ketat Pilkades Serentak

CIAMIS, pewarta.id – Menjelang apel pagi, Bupati Ciamis Herdiat Sunarya melakukan peninjauan mendadak ke sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Kamis (17/09/2026). Selain…

DST · 4 minggu lalu
Priangan Timur

Rumah Lapuk Ambruk Diguncang Gempa, Keluarga di Pamarican Terjepit Kemiskinan dan Bansos Terkendala Desil

CIAMIS, pewarta.id – Guncangan gempa bumi magnitudo 5,4 yang berpusat di wilayah Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (4/9/2026) siang, bukan hanya meninggalkan kerusakan…

oez26 trisno · 4 Sep 2026
Memuat berita selanjutnya…