TASIKMALAYA, pewarta.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tasikmalaya mulai menghadirkan pola penyajian berbeda. Siswa kini tidak lagi menerima makanan yang sudah dikemas dalam wadah, tetapi mengambil sendiri menu makanan melalui sistem prasmanan.
Pola baru tersebut diuji coba di SMK Darud Dakwah melalui SPPG Leuwisari Ciawang 1. Sistem ini menjadi salah satu pilot project untuk melihat efektivitas penyajian MBG sebelum kemungkinan diterapkan lebih luas.
Kepala SPPG Leuwisari Ciawang 1, Heru Lesmana, mengatakan penerapan sistem prasmanan memberikan pengalaman berbeda bagi siswa sebagai penerima manfaat.
“SPPG Tasikmalaya Leuwisari Ciawang menjadi salah satu pilot project yang melaksanakan MBG rasa baru, namanya prasmanan. Itu dilaksanakan di SMK Darud Dakwah,” ujar Heru.
Pada tahap awal, metode tersebut baru diterapkan kepada siswa di dua kelas. Meski masih terbatas, respons siswa disebut cukup tinggi.
Heru mengatakan, siswa terlihat antusias karena memiliki kesempatan mengambil makanan secara langsung sesuai pola pelayanan yang telah ditentukan.
“Antusias penerima manfaat sangat luar biasa. Biasanya mereka sudah terbiasa dengan makanan di dalam ompreng yang sudah tertata. Sekarang kita mulai menggunakan metode baru, di mana siswa mengambil sendiri,” katanya.
Tidak Sekadar Makan, Siswa Dilibatkan dalam Proses
Penerapan sistem prasmanan tidak hanya mengubah cara makanan disajikan, tetapi juga membuat siswa terlibat langsung dalam proses pengambilan makanan.
Sebelum kegiatan dimulai, pihak SPPG memberikan sosialisasi kepada siswa mengenai tata cara pelaksanaan prasmanan, termasuk penggunaan alat pelindung diri atau APD.
“Jadi sebelum memulai prasmanan itu sendiri, kami melaksanakan sosialisasi penggunaan alat pelindung diri. Memang karena ini sifatnya harus menggunakan APD,” jelas Heru.
Menurut Heru, pola tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari edukasi kepada siswa. Selain mendapatkan makanan bergizi, siswa juga dikenalkan dengan tata cara pelayanan makanan yang memperhatikan kebersihan dan kesehatan.
Namun, keterlibatan siswa dalam proses tersebut juga menjadi salah satu hal yang masih dievaluasi. Pelaksana perlu memastikan mekanisme prasmanan tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Efektivitas Masih Dievaluasi
SPPG Leuwisari Ciawang 1 saat ini melayani sekitar 1.731 penerima manfaat. Dengan jumlah tersebut, penerapan sistem prasmanan secara menyeluruh membutuhkan evaluasi agar pola pelayanan tetap efektif dan tidak menimbulkan kendala baru.
Heru mengatakan, pihaknya masih melakukan evaluasi terhadap berbagai aspek, termasuk kesiapan relawan dan kemampuan penerima manfaat beradaptasi dengan sistem baru.
“Untuk sekarang mungkin kita menunggu hasil evaluasi program, dikarenakan masih banyak kendala, berikut dengan adaptasi dari relawan dan penerima manfaat,” ujarnya.
Karena itu, sistem prasmanan belum langsung diterapkan kepada seluruh penerima manfaat. Hasil uji coba di SMK Darud Dakwah akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan apakah metode tersebut layak diperluas.
Jika hasil evaluasi menunjukkan sistem tersebut lebih efektif dan memberikan manfaat bagi penerima, Heru berharap konsep prasmanan dapat diterapkan di lebih banyak SPPG.
“Kalau memang ini yang terbaik untuk penerima manfaat, ingin saya ini dilanjutkan dan bisa diterapkan di semua SPPG,” katanya.
Jadi Bahan Pertimbangan Kebijakan MBG
Koordinator BGN Wilayah Tasikmalaya, Andi Risky Hermawan, mengatakan sistem prasmanan di SPPG Leuwisari Ciawang 1 merupakan salah satu proyek percontohan dari ratusan SPPG yang beroperasi di Kabupaten Tasikmalaya.
“Ini adalah salah satu pilot project yang dilaksanakan di SPPG Tasikmalaya Leuwisari Ciawang 1, dari total jumlah 299 yang ada di wilayah Kabupaten Tasikmalaya,” ujar Andi.
Menurutnya, penerapan sistem serupa di SPPG lainnya akan bergantung pada hasil evaluasi. Efektivitas pelayanan, kesiapan dapur, relawan, penerima manfaat hingga dampaknya terhadap kegiatan sekolah menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
“Untuk ke depannya mungkin nanti dilihat apakah ini efektif atau lebih bagus untuk diterapkan di setiap dapur. Nanti mungkin ada kebijakan dari Badan Gizi Nasional,” katanya.
Andi juga melihat sistem prasmanan memiliki potensi sebagai sarana edukasi bagi siswa, terutama dalam membangun kebiasaan hidup sehat.
“MBG prasmanan ini mungkin menjadi salah satu bentuk edukasi juga terhadap para siswa, salah satunya mungkin untuk menjaga pola hidup sehat,” ujarnya.
Dengan demikian, uji coba di SPPG Leuwisari Ciawang 1 bukan sekadar perubahan cara penyajian makanan. Program tersebut menjadi ruang evaluasi untuk mengukur apakah sistem prasmanan mampu membuat pelaksanaan MBG lebih efektif sekaligus memberikan pengalaman edukatif bagi siswa.
Hasil uji coba inilah yang nantinya akan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan apakah “MBG rasa baru” tersebut dapat diterapkan secara lebih luas di SPPG lainnya.***


