Harga Telur Anjlok ke Rp20.500 per Kilogram, Peternak Ayam Petelur Ciamis Terancam Merugi

DST

Image of Peternak ayam petelor cipaku ciamis (3)

CIAMIS, pewarta.id  — Harga jual telur ayam di Kabupaten Ciamis mengalami penurunan hingga berada di kisaran Rp20.500 per kilogram. Kondisi tersebut dikeluhkan peternak ayam petelur karena tidak sebanding dengan tingginya biaya produksi, terutama harga pakan yang kini mencapai sekitar Rp8.000 per kilogram.

Bagi peternak skala kecil, kondisi ini membuat usaha semakin tertekan. Penurunan harga telur terjadi bersamaan dengan naiknya harga pakan serta turunnya produktivitas ayam akibat kondisi cuaca panas dan kemarau.

Salah seorang peternak ayam petelur asal Cigebot, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Aris Sugianto, mengatakan harga telur saat ini berada di kisaran Rp20.500 per kilogram.

Menurutnya, harga tersebut sangat berat bagi peternak karena biaya operasional justru terus meningkat.

“Harga telur per hari ini ada di kisaran Rp20.500. Hal ini sangat berat bagi kami, khususnya sebagai peternak kecil. Ketika harga telur menurun dan harga pakan naik, otomatis operasional harus nombok,” kata Aris.

Aris menyebut harga pakan jadi saat ini mencapai sekitar Rp8.000 per kilogram. Sementara sebelumnya, harga pakan berada di kisaran Rp6.500 per kilogram.

Kenaikan tersebut membuat selisih biaya produksi semakin besar. Peternak pun kesulitan mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan telur.

“Jangankan untuk mendapatkan keuntungan dari penjualan telur, untuk operasional saja sudah harus nombok,” ujarnya.

Produksi Telur Turun 20 Persen

Tekanan terhadap peternak tidak hanya berasal dari harga pakan dan harga jual telur. Kondisi cuaca yang panas dan kemarau juga berdampak langsung terhadap produktivitas ayam.

Aris mengatakan produktivitas telur yang sebelumnya bisa mencapai sekitar 80 persen dari populasi ayam, kini turun menjadi sekitar 60 persen.

Penurunan produktivitas tersebut otomatis membuat jumlah telur yang dihasilkan ikut berkurang.

Dalam satu kandang, misalnya, produksi yang sebelumnya mampu mencapai sekitar 30 kilogram atau dua peti telur, kini hanya sekitar 24 kilogram.

“Faktor cuaca, terutama panas ekstrem seperti sekarang, sangat memengaruhi produktivitas telur. Yang tadinya bisa 80 persen, sekarang turun menjadi sekitar 60 persen,” jelasnya.

Harga Jagung Mahal, Bahkan Sulit Didapat

Di tengah tingginya biaya pakan, peternak juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan baku pakan, khususnya jagung.

Aris mengatakan dirinya bersama sejumlah peternak di wilayahnya hingga kini belum mendapatkan subsidi jagung yang diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi.

Untuk memenuhi kebutuhan pakan secara mandiri atau self mixing, peternak harus membeli jagung dari masyarakat dengan harga yang dinilai masih cukup tinggi.

Bahkan, persoalan bukan hanya soal harga. Ketersediaan jagung di lapangan juga disebut semakin terbatas.

“Untuk subsidi jagung sampai detik ini saya dan rekan-rekan peternak di sini belum mendapatkannya. Untuk self mixing saja kami harus membeli jagung dari masyarakat. Harganya mahal, bahkan sekarang barangnya juga sulit didapat,” ungkapnya.

Menurut Aris, kondisi tersebut menjadi persoalan berlapis bagi peternak. Harga pakan meningkat, produktivitas ayam menurun, sementara harga telur justru anjlok.

Peternak Bisa Nombok Rp600 Ribu Per Hari

Beratnya tekanan usaha bahkan membuat peternak harus mengeluarkan uang tambahan untuk menutup biaya operasional.

Aris mencontohkan, pada populasi sekitar 600 ekor ayam dalam satu kandang, peternak dapat mengalami kerugian atau nombok hingga sekitar Rp600 ribu per hari.

Sementara bagi peternak dengan populasi sekitar 1.000 ekor, beban kerugian berpotensi semakin besar.

Perhitungan tersebut salah satunya dipengaruhi kenaikan harga pakan dari sekitar Rp6.500 menjadi Rp8.000 per kilogram.

“Untuk populasi yang 600 ekor saja, kami bisa nombok sekitar Rp600 ribu per hari. Kalau populasinya lebih banyak, tentu bisa lebih banyak lagi,” katanya.

Menurutnya, kebutuhan pakan ayam juga cukup besar. Dengan asumsi konsumsi sekitar 100 gram pakan per ekor setiap hari, populasi 1.000 ekor membutuhkan sekitar 100 kilogram pakan per hari.

Dengan kenaikan harga pakan sekitar Rp1.500 per kilogram, tambahan biaya yang harus ditanggung peternak bisa mencapai sekitar Rp150 ribu per hari untuk setiap 1.000 ekor ayam, belum termasuk komponen biaya produksi lainnya.

Distribusi Telur Ikut Melambat

Persoalan peternak semakin kompleks karena pemasaran telur juga disebut tidak secepat biasanya.

Aris mengatakan ketika harga telur turun sementara daya beli masyarakat melemah, distribusi telur dari produsen menuju distributor maupun konsumen ikut melambat.

“Ketika pakan mahal kemudian harganya sudah jatuh, memasarkannya juga susah. Biasanya barang bisa cepat keluar-masuk, sekarang lebih lambat,” katanya.

Ia menduga kondisi tersebut berkaitan dengan menurunnya daya beli masyarakat dan berkurangnya pembelian telur.

Selain itu, menurut Aris, mekanisme harga telur di Ciamis juga turut dipengaruhi perkembangan harga dari sentra perdagangan telur di luar daerah, termasuk Blitar.

Harga tersebut dapat berubah setiap hari mengikuti kondisi pasar, sehingga peternak harus menghadapi ketidakpastian harga jual.

Peternak Minta Subsidi dan Harga Telur Kembali Normal

Menghadapi kondisi tersebut, Aris berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap keberlangsungan peternak ayam petelur, khususnya peternak skala kecil.

Ia berharap subsidi jagung benar-benar dapat diakses peternak yang membutuhkan. Selain itu, ketersediaan pakan dengan harga terjangkau dinilai penting untuk menekan biaya produksi.

“Kalau ada subsidi jagung, kami mohon ada subsidi. Kemudian tersedianya pakan dengan harga terjangkau. Kalau bisa kembali di angka Rp6.500, jangan sampai Rp8.000 seperti sekarang karena sangat berat bagi kami,” ujarnya.

Peternak juga berharap harga telur kembali membaik dan berada pada level yang mampu menutup biaya produksi sekaligus memberikan keuntungan.

Aris berharap harga telur dapat kembali berada di kisaran Rp23 ribu hingga Rp24 ribu per kilogram atau lebih, sehingga biaya operasional peternak dapat tertutupi.

“Harapan kami harga telur bisa normal kembali, tidak di Rp20.500. Kalau bisa Rp23 ribu atau Rp24 ribu ke atas, insyaallah operasional bisa tertutup,” pungkasnya.

Kondisi ini menunjukkan tekanan yang dihadapi peternak ayam petelur bukan hanya soal turunnya harga telur, tetapi juga kombinasi antara mahalnya pakan, terbatasnya bahan baku, penurunan produktivitas akibat cuaca, hingga melambatnya distribusi. Bagi peternak kecil, kombinasi persoalan tersebut membuat margin usaha semakin tergerus dan risiko kerugian semakin besar.***

Also Read

Bagikan:

[addtoany]

DST

Tinggalkan komentar