TPA Pasirbajing Diblokir Warga, Kota Garut Dikepung Ribuan Ton Sampah Yang Tak Terangkut

DST

Image of Img 20261012 wa0074

GARUT, Pewarta.id.- Akibat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Pasirbajing, Jl. Warungpeuteuy, Kecamatan Banyuresmi diblokir warga, dalam beberapa hari terakhir wajah Kota Garut berubah kumuh oleh tumpukan sampah di berbagai lokasi perkotaan karena tak bisa diangkut. Hal ini menyusul terjadianya kebakaran TPA Pasirbajing yang tak kunjung padam dan berdampak buruk pada kesehatan sehingga memicu protes warga sekitar.

 

Di sisi lain, tumpukan sampah yang dibiarkan berserakan tidak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga menimbulkan bau tidak sedap yang mengusik kenyamanan masyarakat. Warga pun mulai khawatir kondisi tersebut dapat berdampak terhadap kebersihan lingkungan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila tidak segera ditangani.

 

Keluhan warga perkotaan diantaranya diungkapkan Rian (38), warga Jalan Ahmad Yani, Kampung Candramerta, Kelurahan Kota Wetan, Kecamatan Garut Kota. Menurutnya, penumpukan sampah di twmpat pembuangan sementara (TPS) yang berada di pinggir Jalan Ahmad Yani sudah berlangsung selama lima hari terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut semakin meresahkan karena TPS berada di kawasan yang setiap hari dilalui masyarakat dan ada di wilayah permukiman warga.

 

‘Bukan hanya tak sedap dipandang, tumpukan sampah itu juga sangat mengganggu akibat bau tak sedap yang ditimbulkannya. Bahkan jika kondisi seperti ini terus dibiarkan, tak menutup kemungkinan akan menimbulkan penyakit yang mengancam kesehatan warga,” kata Rian.

 

 

Penumpukan sampah di sejumlah tempat pembuangan sementara (TPS) di wilayah perkotaan Kabupaten Garut, Jawa Barat, dikeluhkan warga. Kondisi tersebut terjadi sejak beberapa hari terakhir menyusul pemblokiran akses menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasirbajing oleh warga yang kesal terhadap dampak kebakaran yang dinilai sangat mengganggu lingkungan sekitar.

 

Tumpukan sampah yang dibiarkan menggunung tidak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga menimbulkan bau tidak sedap yang mengusik kenyamanan masyarakat. Warga pun mulai khawatir kondisi tersebut dapat berdampak terhadap kebersihan lingkungan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila tidak segera ditangani.

 

Rian (38), warga Jalan Ahmad Yani, Kampung Candramerta, Kelurahan Kota Wetan, Kecamatan Garut Kota, mengatakan penumpukan sampah di TPS yang berada di pinggir Jalan Ahmad Yani sudah berlangsung selama lima hari terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut semakin meresahkan karena TPS berada di kawasan yang setiap hari dilalui masyarakat dan ada di wilayah permukiman warga.

 

‘Bukan hanya tak sedap dipandang, tumpukan sampah itu juga sangat mengganggu akibat bau tak sedap yang ditimbulkannya. Bahkan jika kondisi seperti ini terus dibiarkan, tak menutup kemungkinan akan menimbulkan penyakit yang mengancam kesehatan warga,” kata Rian.

 

Keluhan serupa disampaikan Dadang (63), warga Jalan Guntur, Kampung Bentar, Kelurahan Ciwalen, Kecamatan Garut Kota. Ia menyebutkan, tumpukan sampah juga terlihat di beberapa titik sepanjang Jalan Guntur sehingga mengganggu aktivitas masyarakat yang tinggal maupun melintas di kawasan tersebut.

Image of Img 20261012 wa0072

Sebaiknya Pemkab segera mencari solusi, jangan menunggu warga kian kesal dan bereaksi,” tegas Dadang.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Garut, Jujun Juhana, membenarkan bahwa penanganan sampah mengalami kendala sejak akses menuju TPA Pasirbajing diblokir warga beberapa hari terakhir. Pemblokiran tersebut dilakukan menyusul kebakaran yang dampaknya dinilai mengganggu masyarakat di sekitar lokasi.

 

Jujun menjelaskan, warga menginginkan agar asap akibat kebakaran benar-benar hilang sebelum akses menuju TPA kembali dibuka. Selama tuntutan tersebut belum terpenuhi, warga belum mengizinkan sampah masuk ke area pembuangan akhir. Akibatnya, armada pengangkut sampah tidak dapat menjalankan kegiatan pembuangan seperti biasanya.

 

“Karena aksesnya diblokir, warga menginginkan sampai asapnya hilang. Sampah tidak boleh masuk sehingga kami juga tidak bisa melakukan penanganan,” ujar Jujun.

 

Ia menambahkan, dampak pemblokiran tersebut kini dirasakan langsung oleh petugas di lapangan. Truk-truk pengangkut sampah masih dipenuhi muatan, sementara bak penampungan juga telah terisi. Kondisi itu membuat proses pengangkutan berikutnya terkendala karena sampah yang sudah dikumpulkan tidak dapat dibuang ke TPA.

 

Ia menuturkan, pihaknya sempat menghadapi situasi serupa ketika melakukan kegiatan pemadaman kebakaran dan membutuhkan truk untuk mengangkut tanah yang digunakan dalam penanganan kebakaran. Saat itu, truk yang dibawa petugas masih berisi sampah sehingga sempat menimbulkan keberatan dari warga. Namun, melalui komunikasi intensif, warga akhirnya mengizinkan truk tersebut masuk ke area TPA.

 

Menurut Jujun, persoalan tersebut menjadi semakin sulit karena Kabupaten Garut saat ini hanya memiliki satu TPA, yakni TPA Pasirbajing, sebagai tempat pembuangan akhir sampah. Ketika akses menuju lokasi tersebut ditutup, DLH tidak memiliki tempat pembuangan alternatif yang dapat langsung digunakan untuk menampung sampah dari berbagai TPS.

 

Disampaikannya, volume sampah yang masuk ke TPA Pasirbajing dalam kondisi normal mencapai sekitar 270 ton per hari. Dengan terhambatnya pengangkutan selama empat hari, yakni Kamis hingga Minggu, jumlah sampah yang belum dapat dibuang diperkirakan mencapai 1.080 ton.

 

“Kondisi inilah yang menjadi salah satu penyebab penumpukan sampah di sejumlah TPS, termasuk di kawasan pusat perkotaan Garut saat ini,” jelasnya. (Slamet Timur).

Also Read

Bagikan:

[addtoany]

DST

Tinggalkan komentar