GARUT, pewarta.id – Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasir Bajing, Kabupaten Garut, menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Selain memastikan penanganan titik api, Pemkab Garut menyiapkan pembenahan sistem pengelolaan sampah dengan anggaran yang direncanakan meningkat hingga dua kali lipat, dari Rp5 miliar menjadi Rp10 miliar pada tahun depan.

Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, mengatakan pembenahan TPA Pasir Bajing tidak bisa hanya berfokus pada penanganan kebakaran. Penataan kawasan dan perbaikan sistem pengelolaan sampah juga diperlukan untuk mengantisipasi persoalan serupa di kemudian hari.
Menurut Syakur, pemerintah daerah akan mengoptimalkan sejumlah area di TPA Pasir Bajing melalui pendekatan sanitary landfill, yakni metode pengelolaan sampah dengan penimbunan secara terencana, disertai pengendalian terhadap dampak lingkungan.
“Solusinya kita membuat kesepahaman terkait langkah-langkah ke depan, termasuk melaksanakan penataan di sini,” ujarnya saat meninjau lokasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Pasir Bajing, di Jalan Warung Peuteuy, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Selasa (13/10/2026).
TPA Pasir Bajing memiliki luas sekitar 17 hektare. Adapun titik kebakaran berada di area pembuangan yang selama ini digunakan untuk aktivitas penanganan sampah. Meski demikian, pemerintah daerah belum memastikan luas keseluruhan lahan yang terdampak.
Syakur menyebutkan, saat melakukan peninjauan pada malam sebelumnya, masih ditemukan sekitar tiga hingga empat titik api berukuran relatif kecil. Penanganan terus dilakukan secara bertahap dan kondisi di lokasi menunjukkan perkembangan.
Ia mengakui, bau tidak sedap masih tercium di sekitar kawasan, meskipun menurutnya tidak terlalu berlebihan. Proses penanganan pun tidak dapat diselesaikan seketika sehingga membutuhkan upaya berkelanjutan.

Penyebab Kebakaran Belum Dipastikan
Di tengah penanganan kebakaran, penyebab munculnya api di TPA Pasir Bajing hingga kini belum diketahui secara pasti. Syakur menegaskan, belum ada investigasi khusus yang menghasilkan kesimpulan mengenai penyebab kebakaran tersebut.
Karena itu, ia meminta masyarakat turut berperan dalam mengawasi kawasan TPA, terutama pada malam hari. Pengawasan dinilai penting untuk mendeteksi kemunculan api sejak dini dan mempercepat langkah penanganan sebelum kebakaran meluas.
“Salah satunya kita minta partisipasi masyarakat ikut mengawasi kondisi di sini. Karena ternyata saya baru tahu bahwa pada malam hari tidak banyak yang menjaga di sini,” katanya.
Menurut Syakur, kemunculan api perlu diantisipasi sejak awal karena titik kebakaran dapat bermula dari sumber api yang kecil. Oleh sebab itu, keterlibatan masyarakat diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat pengawasan di kawasan pembuangan sampah tersebut.
Pemkab Garut juga tengah menyiapkan kebutuhan peralatan yang berkaitan langsung dengan penanganan kebakaran. Pemerintah daerah berupaya mengidentifikasi kebutuhan di sejumlah lokasi, termasuk kawasan Pasir Bajing, agar penanganan dapat dilakukan secara lebih efektif.
Anggaran Pembenahan Diusulkan Naik Dua Kali Lipat
Selain penanganan darurat, perhatian pemerintah daerah diarahkan pada solusi jangka panjang. Syakur mengungkapkan, anggaran pembenahan TPA yang pada tahun sebelumnya sekitar Rp5 miliar direncanakan meningkat menjadi Rp10 miliar pada tahun depan.
Bahkan, anggaran tersebut masih berpeluang ditambah dengan mempertimbangkan kebutuhan di lapangan dan kemampuan fiskal daerah.
“Kita mengalokasikan hampir dua kali lipat dana untuk pembenahan di sini. Tahun kemarin Rp5 miliar, kita akan tahun depan Rp10 miliar. Ini juga mungkin kita tambah lagi, melihat kondisi fiskal yang kita miliki,” ungkapnya.
Rencana peningkatan anggaran tersebut menjadi salah satu bentuk komitmen Pemkab Garut untuk memperbaiki pengelolaan TPA Pasir Bajing. Namun, efektivitas pembenahan nantinya akan bergantung pada pelaksanaan program, kesiapan sarana dan prasarana, serta penerapan sistem pengelolaan sampah yang lebih terencana.
Syakur juga mengakui bahwa mencari lahan pengganti dengan luas setara bukan perkara mudah. Karena itu, optimalisasi lahan yang tersedia menjadi salah satu opsi yang perlu dipertimbangkan, dengan tetap memperhatikan perbaikan tata kelola dan dampak lingkungan.
Pembenahan TPA Jadi Pekerjaan Jangka Panjang
Kebakaran ini sekaligus menyoroti pentingnya pengawasan rutin dan kesiapan sarana pemadaman di kawasan pengelolaan sampah. Pemerintah daerah dituntut tidak hanya merespons ketika api muncul, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan agar risiko kebakaran dapat ditekan.
Penataan melalui pendekatan sanitary landfill, peningkatan anggaran, pemenuhan peralatan pemadaman, dan pelibatan masyarakat menjadi sejumlah langkah yang disampaikan Bupati Garut untuk menangani persoalan tersebut.
Meski begitu, penyebab kebakaran yang belum terungkap masih menjadi pekerjaan rumah. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan faktor pemicu kejadian sekaligus menjadi dasar penyusunan langkah pencegahan yang tepat.
Dengan luas kawasan mencapai 17 hektare, pembenahan TPA Pasir Bajing bukan sekadar persoalan memadamkan api, melainkan juga upaya memperkuat sistem pengelolaan sampah agar lebih tertata, aman, dan berkelanjutan. (Slamet Timur).


