Buku: Yuk! Kembali Ke Desa Soroti Kepemimpinan dan Kolaborasi untuk Membangun Desa

Image of Img 20260824 wa0053

Jakarta, Pewarta.id — Pandangan bahwa desa merupakan tempat yang harus ditinggalkan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik kembali dipertanyakan melalui buku Yuk! Kembali Ke Desa karya Teddy Poernama.

 

Buku tersebut membahas desa tidak hanya sebagai wilayah asal, tetapi juga sebagai ruang yang memiliki potensi sosial, ekonomi, budaya, dan pengetahuan yang dapat menjadi bagian dari pembangunan masa depan.

 

Teddy yang berlatar belakang birokrat, akademisi, dan pegiat sosial melihat persoalan pembangunan desa tidak semata-mata berkaitan dengan ada atau tidaknya potensi. Menurut dia, pengelolaan potensi menjadi faktor penting yang menentukan apakah sebuah desa mampu berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakatnya.

 

Salah satu persoalan yang disoroti adalah pengembangan desa wisata. Keberadaan potensi wisata, menurut perspektif yang dibangun dalam buku tersebut, tidak dengan sendirinya menghasilkan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

 

Pengelolaan membutuhkan kepemimpinan, kelembagaan, serta keterlibatan berbagai pihak agar potensi yang ada tidak berhenti sebagai objek wisata, tetapi dapat memberikan dampak terhadap ekonomi dan kehidupan masyarakat setempat.

 

*Kepemimpinan Tidak Hanya Berada di Tangan Kepala Desa*

 

Dalam buku tersebut, kepemimpinan inovatif ditempatkan sebagai salah satu unsur penting dalam perubahan di tingkat desa.

 

Peran tersebut tidak hanya dikaitkan dengan kepala desa. Penggerak BUMDes, Pokdarwis, Karang Taruna, maupun tokoh masyarakat juga dinilai memiliki posisi strategis dalam menggerakkan potensi yang ada di lingkungan mereka.

Baca Juga :  HUT RI ke-81 di RW 10 Dunguscariang: Warga Rayakan Kemerdekaan dengan Toleransi dan Optimisme

 

Namun, pembangunan desa dinilai tidak dapat bergantung pada satu figur.

 

Kerja sama antarkelompok dan antardesa diperlukan, termasuk dengan pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, komunitas, serta media. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk membangun ekosistem yang mendukung pengembangan desa secara berkelanjutan.

 

Perspektif itu menempatkan pembangunan desa dalam cakupan yang lebih luas. Infrastruktur dan kunjungan wisatawan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Pembangunan manusia, penguatan kelembagaan, ekonomi lokal, serta kemampuan masyarakat mengelola potensi sendiri juga menjadi bagian penting.

 

Makna di Balik “Ibu, Dapur, dan Akar”

 

Judul Yuk! Kembali Ke Desa juga membawa gagasan tentang hubungan manusia dengan tempat asalnya.

 

Istilah “kembali kepada ibu” digunakan untuk menggambarkan kembalinya seseorang kepada tempat dan nilai-nilai yang pertama kali membentuk dirinya.

 

Sementara “kembali ke dapur” menggambarkan ruang tempat berbagai kebiasaan dan keterampilan terbentuk. Dapur tidak hanya dimaknai sebagai tempat memasak, tetapi juga sebagai ruang interaksi keluarga, gotong royong, dan pewarisan nilai kehidupan.

 

Adapun “kembali kepada akar” merujuk pada identitas dan nilai yang membentuk seseorang. Desa menjadi salah satu ruang tempat tradisi, kearifan lokal, pengetahuan, serta kebiasaan antargenerasi diwariskan.

Baca Juga :  Bawa Konsep "Nostalgic and Fresh", Krontjong Lapis Legit UPI Bandung Tampil di Solo Keroncong Festival 2026

 

Gagasan tersebut sekaligus menempatkan kembali ke desa bukan sebagai langkah untuk kembali ke masa lalu.

 

Sebaliknya, desa dipandang sebagai bagian dari upaya menemukan kembali akar sosial dan budaya untuk menghadapi masa depan.

 

*Mengubah Cara Pandang terhadap Desa*

 

Buku ini juga mengangkat pertanyaan mengenai hubungan masyarakat dengan desa. Selama ini, pertanyaan yang muncul kerap berpusat pada apa yang dapat diberikan desa kepada seseorang.

 

Perspektif yang ditawarkan justru menggeser pertanyaan tersebut menjadi apa yang dapat dikembalikan seseorang kepada desa.

 

Gagasan itu relevan dengan perubahan desa di tengah perkembangan ekonomi dan teknologi. Ketika mobilitas masyarakat semakin tinggi dan kota menjadi pusat berbagai aktivitas ekonomi, desa menghadapi tantangan untuk mempertahankan sumber daya manusia, budaya, sekaligus mengembangkan ekonomi lokal.

 

Dalam konteks tersebut, kembali ke desa tidak selalu berarti menetap atau meninggalkan kehidupan di kota. Kembali dapat dimaknai sebagai upaya untuk mengenali kembali identitas, pengetahuan, serta potensi yang berasal dari desa.

 

Melalui Yuk! Kembali Ke Desa, Teddy Poernama menempatkan desa sebagai bagian dari pembicaraan mengenai masa depan, bukan sekadar tempat yang ditinggalkan ketika seseorang mencari kehidupan yang dianggap lebih baik. ***iyank29

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *