Cimahi, pewarta.id – Perkembangan media digital telah mengubah cara Generasi Z memperoleh dan membagikan informasi. Namun riset terbaru KPID Jawa Barat menunjukkan televisi dan radio masih menjadi sumber informasi yang dipercaya anak muda, meski dominasi platform digital kian masif.
Penelitian bersama KPI, ISKI, Diskominfo Jabar, dan Universitas Padjadjaran terhadap 601 responden berusia 15–24 tahun menemukan 86,5% Gen Z masih menonton televisi dan 56% masih mendengarkan radio, di samping penggunaan internet dan media sosial yang hampir menyeluruh.
Ketua KPID Jabar, Adiyana Slamet, menegaskan temuan ini mematahkan anggapan bahwa generasi muda sepenuhnya meninggalkan media konvensional. “Televisi dan radio tetap memiliki tempat di hati Gen Z, meski kini harus bersaing dengan derasnya arus informasi digital,” ujarnya.
Adiyana menyoroti dampak penetrasi media digital yang meluas hingga ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan, keamanan, bahkan psikologis. Ia mengingatkan, “Yang paling mengkhawatirkan adalah cara berpikir masyarakat lebih banyak dipengaruhi algoritma platform global dibanding regulasi negara.”
Sekretaris Diskominfo Jabar, Bayu Rakhmana, menambahkan pemerintah daerah terbatas dalam menangani konten digital bermasalah. “Kami hanya bisa melaporkan ke pusat untuk pemblokiran. Fokus kami meningkatkan literasi digital bagi Gen Z,” jelasnya.
Sementara itu, Sekjen ATVSI Gilang Iskandar menilai riset ini mengonfirmasi bahwa media penyiaran masih menjadi rujukan utama ketika masyarakat membutuhkan informasi kredibel. Tantangan terbesar, menurutnya, adalah ketimpangan regulasi antara media penyiaran yang diatur ketat dengan platform digital yang longgar.
Ketua ISKI, Atwar Bajari, mengapresiasi riset KPID Jabar sebagai pijakan akademis dan industri untuk menyiapkan transformasi media agar tetap relevan dengan karakter Gen Z yang serba cepat namun tetap membutuhkan informasi terpercaya.
Melalui kegiatan literasi media bertajuk Beyond Broadcasting: Gen Z Content Trends, KPID Jabar berharap lahir generasi muda yang kritis, beretika, dan mampu menjadi kreator konten bertanggung jawab di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.***











