KPID Jabar Dorong Anak Bijak Bermedia, Harsiarda 2026 Dimulai dari Sekolah

Image of Img 20260724 wa0104

BANDUNG BARAT, pewarta.id – Semangat literasi digital bergema di Kabupaten Bandung Barat. Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat resmi membuka rangkaian Hari Penyiaran Daerah (Harsiarda) 2026 dengan kegiatan edukasi media di SD Interaktif Gemilang Mutaffanin, Kamis (23/7/2026).

 

Kick-off Harsiarda bertepatan dengan Hari Anak Nasional, menghadirkan storytelling, edukasi penggunaan gadget secara bijak, hingga peluncuran ikon Siaran Ramah Anak. Acara ini menggandeng mitra strategis seperti RRI Bandung, Lemhannas, PRSSNI, Universitas Pasundan, dan Unikom.

 

Anak di Era Digital

Wakil Ketua KPID Jabar, Almadina Rakhmaniar, menegaskan perlindungan anak kini harus merambah ruang digital.

 

“Hari ini kami melaksanakan kick-off Harsiarda sekaligus launching ikon Siaran Ramah Anak. Ini bagian dari ajakan agar anak-anak lebih bijak dalam mengakses media,” ujarnya.

Baca Juga :  OJK. Perempuan Tertinggi Dalam Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan

 

Menurutnya, gadget dan internet sudah menjadi bagian hidup anak-anak. Tanpa pendampingan orang tua, konten yang tidak sesuai usia bisa berdampak negatif.

 

“Perlindungan anak harus mencakup media berbasis internet. Anak-anak perlu tayangan sesuai usia, sementara pendampingan orang tua menjadi kunci,” jelas Almadina.

 

Tantangan Media Sosial

Ia menambahkan, televisi dan radio masih memiliki regulasi jelas terkait isi siaran, berbeda dengan internet yang lebih sulit diawasi.

 

Riset KPID Jabar menunjukkan, 87 persen Generasi Z masih menonton televisi, 56 persen mendengarkan radio, namun hampir seluruhnya atau 99,8 persen sudah mengakses internet. Fakta ini menegaskan urgensi literasi digital sejak dini.

Baca Juga :  Media Penyiaran Jadi Garda Depan Edukasi Bencana di Jawa Barat

 

Apresiasi dari Sekolah

Kepala SD Interaktif Gemilang Mutaffanin, Jajang Abdul Wahid, mengapresiasi langkah KPID Jabar.

 

“Materi yang disampaikan sangat bermanfaat. Anak-anak diajak memahami cara membatasi penggunaan gadget dan memanfaatkannya untuk belajar, bukan sekadar hiburan,” katanya.

 

Menurut Jajang, kebiasaan menggunakan gadget meningkat sejak pandemi dan masih berlanjut hingga kini. Karena itu, sekolah bersama orang tua harus bersinergi agar teknologi benar-benar menjadi sarana belajar dan kreativitas.

 

“Kami berharap anak-anak bisa lebih bijak menggunakan gadget sehingga teknologi menjadi pintu pengembangan diri,” pungkasnya.  ***

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *