Tasikmalaya, pewarta.id – Sandal tarumpah bukan sekadar alas kaki, melainkan simbol budaya yang telah melegenda di Tasikmalaya. Produk tradisional ini kini tak hanya dicari sebagai barang pakai, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang memperkuat identitas daerah.
Wisatawan yang berkunjung ke Tasikmalaya kerap menjadikan tarumpah sebagai oleh-oleh khas. Proses pembuatannya yang masih mempertahankan kearifan lokal menjadi atraksi tersendiri. Melihat langsung pengrajin bekerja dengan bahan kulit asli, menjahit dengan teliti, hingga menghasilkan produk berkualitas, memberikan pengalaman unik bagi pengunjung.
“Tarumpah adalah identitas Tasikmalaya. Kami ingin menjadikannya kebanggaan sekaligus daya tarik wisata budaya, agar pengunjung bisa mengenal tradisi sekaligus membawa pulang produk berkualitas,” ujar Iwan Herdiawan, pengrajin sandal tarumpah dengan brand Mr. Wills.
Selain tarumpah, Mr. Wills juga memproduksi sepatu pantople untuk seragam siswa, mahasiswa, dan instansi terkait. Inovasi ini menunjukkan bahwa pengrajin lokal mampu beradaptasi dengan kebutuhan modern, tanpa meninggalkan akar tradisi.
Dengan dukungan promosi pariwisata, sandal tarumpah berpotensi menjadi ikon budaya yang mendunia. Tasikmalaya bukan hanya dikenal sebagai kota pengrajin, tetapi juga sebagai destinasi budaya yang menawarkan pengalaman otentik.
“Tarumpah, sandal tarumpah asli!” Kalimat itu kerap terdengar dari para pencinta maupun calon pembeli. Ungkapan tersebut bukan sekadar slogan, melainkan ekspresi kebanggaan terhadap produk alas kaki tradisional yang telah melegenda dari masa ke masa.
Meski istilah “asli” sering digunakan, sejatinya tidak ada perbedaan mendasar antara tarumpah asli dan bukan asli. Yang membedakan hanyalah kualitas: ada yang dibuat dengan bahan kulit terbaik dan pengerjaan rapi, ada pula yang diproduksi massal dengan mutu lebih rendah. Bagi para pecinta tarumpah, kualitas yang awet dan khas itulah yang dianggap sebagai “tarumpah asli.”
Ciri Sandal Tarumpah Berkualitas
– Bahan kulit asli: Tarumpah berkualitas menggunakan kulit pilihan yang kuat dan lentur. Produk kodian biasanya terasa ringan dan kurang awet.
– Kerapihan pengerjaan: Jahitan rapi, finishing halus, serta bobot yang pas menjadi indikator mutu tinggi.
– Harga sesuai kualitas: Produk berkualitas tidak dijual terlalu murah, karena harga mencerminkan bahan dan proses pengerjaan.
– Penjual terpercaya: Toko-toko lama di Tasikmalaya yang konsisten menjaga reputasi biasanya memberikan jaminan mutu kepada pelanggan.
Namun, faktor-faktor di atas bukanlah barometer tunggal. Keawetan tarumpah tetap harus dibuktikan dengan pemakaian langsung. Bahkan, ada kalanya produk kodian justru lebih tahan lama. Mengenal pengrajin secara personal juga penting untuk memastikan kualitas bahan, lem, dan teknik pengerjaan.











