BANDUNG, pewarta.id — Lima dekade perjalanan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di industri penerbangan nasional tidak hanya akan diperingati melalui refleksi perjalanan teknologi dan kedirgantaraan. Memasuki usia emas ke-50 tahun, PTDI justru memilih menghadirkan pesan kuat tentang pentingnya menjaga akar budaya bangsa melalui pagelaran seni tradisional yang berlangsung sejak pagi hingga semalam suntuk.
Mengusung tema “Golden Legacy, Global Horizon: Menjaga Kedaulatan Bangsa, Mengangkasa di Panggung Dunia”, PTDI melalui Paguyuban Seni dan Karawitan Jawa “Rekso Budoyo” akan menggelar festival seni budaya dengan menghadirkan Wayang Golek, Wayang Kulit, Ebeg atau Kuda Lumping, seni tari hingga pertunjukan karawitan.
Pagelaran tersebut dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2026, di Selasar Gedung PKSN PT Dirgantara Indonesia, Jalan Pajajaran Nomor 154, Kota Bandung. Rangkaian kegiatan akan dimulai sejak pukul 08.00 WIB dan berlanjut hingga Minggu dini hari, 30 Agustus 2026.
Perayaan ulang tahun emas PTDI kali ini pun mengangkat sudut pandang berbeda. Di tengah perjalanan perusahaan yang identik dengan teknologi tinggi, pesawat terbang dan industri modern, PTDI justru memberi ruang luas bagi seni tradisional untuk tampil sebagai bagian dari identitas dan kekuatan bangsa.
Pesan yang ingin dibangun tidak sekadar tentang perjalanan sebuah industri dirgantara selama 50 tahun, tetapi juga tentang bagaimana kemajuan dan langkah menuju panggung global tetap harus berjalan seiring dengan upaya menjaga warisan budaya.
Melalui kegiatan ini, PTDI ingin mempertemukan dua semangat dalam satu momentum, yakni kemajuan teknologi dan pelestarian tradisi. Industri penerbangan membawa Indonesia menatap masa depan, sementara seni budaya menjadi pengingat akan akar sejarah dan identitas bangsa.
Rangkaian kegiatan akan diawali dengan peresmian fasilitas baru berupa Amphitheatre, yakni area pertunjukan terbuka yang dirancang dengan panggung utama serta area penonton bertingkat.
Panggung baru tersebut langsung dimanfaatkan untuk pertunjukan seni tradisional. Pada pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, masyarakat akan disuguhi penampilan seni Kuda Lumping atau Ebeg yang dibawakan para seniman dari Bandung dan sekitarnya.
Kehadiran pertunjukan Ebeg menjadi pembuka perayaan budaya yang menegaskan bahwa fasilitas baru di lingkungan PTDI tidak hanya diposisikan sebagai ruang fisik, tetapi juga diharapkan dapat menjadi ruang ekspresi bagi seniman dan masyarakat.
Selain menikmati pertunjukan, masyarakat yang hadir juga dapat mengunjungi puluhan stan UMKM yang disiapkan di sekitar lokasi kegiatan. Dengan demikian, perayaan ulang tahun emas PTDI turut memberi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk terlibat dalam momentum tersebut.
Puncak pagelaran akan berlangsung pada Sabtu malam mulai pukul 19.00 WIB. Pertunjukan diawali dengan sajian seni tari daerah, di antaranya Tari Jaipong dan Tari Gambyong Parianom.
Setelah itu, dua kesenian wayang dari dua tradisi budaya berbeda akan tampil dalam satu panggung. Wayang Golek dan Wayang Kulit dipentaskan melalui kolaborasi dua dalang dengan lakon yang sarat pesan filosofis.
Dalang muda Ki Eka Putra akan membuka pertunjukan malam melalui pementasan Wayang Golek dengan lakon “Babad Alas Wana Marta”.
Lakon tersebut mengisahkan perjuangan Pandawa mengubah hutan belantara menjadi Negara Amarta, sebuah negeri yang digambarkan sebagai wilayah yang gemah ripah loh jinawi, tenteram dan sejahtera.
Kisah tersebut memiliki makna tentang perjuangan, kerja keras dan kemampuan membangun kehidupan yang lebih baik. Pesan itu dinilai sejalan dengan perjalanan panjang sebuah bangsa maupun institusi yang terus berupaya tumbuh dan berkembang menghadapi berbagai tantangan zaman.
Setelah Wayang Golek, pertunjukan akan dilanjutkan dengan Wayang Kulit oleh Ki Iswanto Hadi Martono melalui lakon “Arjuna Wiwaha”.
Panitia kegiatan yang juga merupakan dalang Wayang Kulit, Ki Iswanto Hadi Martono, mengatakan perayaan 50 tahun PTDI menjadi momentum untuk memberikan ruang yang lebih besar bagi seni tradisional sekaligus memperkuat upaya nguri-uri budaya.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui wacana. Tradisi harus terus dipertunjukkan, diwariskan kepada generasi berikutnya dan mendapatkan ruang agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
“Ini adalah momentum ulang tahun emas 50 tahun PTDI berdiri. Kami ingin menjadikannya sebagai wadah untuk nguri-uri budaya sekaligus memberikan panggung bagi para seniman, khususnya seniman Bandung dan sekitarnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemilihan lakon Arjuna Wiwaha juga bukan tanpa alasan. Cerita tersebut mengandung pesan kuat mengenai perjuangan manusia dalam mengendalikan diri dan menaklukkan hawa nafsu.
Dalam kisah tersebut, Arjuna menjalani tapa brata di Gua Mintaraga, Gunung Indrokilo, untuk memperoleh kejernihan hati. Dalam perjalanannya, Arjuna menghadapi berbagai godaan, mulai dari harta, kekuasaan hingga wanita.
Namun, seluruh godaan tersebut berhasil dihadapinya. Keteguhan Arjuna kemudian mengantarkannya memperoleh gelar Begawan Ciptoning dan anugerah senjata Pasupati dari Bathara Guru.
Ki Iswanto menjelaskan, Pasupati dalam filosofi lakon tersebut bukan hanya dimaknai sebagai senjata dengan kekuatan luar biasa, melainkan simbol keberhasilan manusia mengendalikan sifat-sifat buruk dan hawa nafsu.
“Pasupati adalah simbol keberhasilan mematikan nafsu kebinatangan. Jadi, lakon Arjuna Wiwaha ini mengajarkan tentang bagaimana manusia harus mampu mengendalikan dirinya,” jelasnya.
Dalam kelanjutan cerita, kesaktian Arjuna dan senjata Pasupati digunakan untuk menumpas Prabu Niwatakawaca, Raja Hima Himantaka yang digambarkan memiliki sifat angkara murka dan hendak merebut Kahyangan.
Pesan perjuangan melawan keangkara-murkaan inilah yang menjadi salah satu nilai penting dalam pertunjukan tersebut. Melalui media seni pewayangan, nilai-nilai moral dan filosofi kehidupan disampaikan dalam bentuk pertunjukan yang tetap relevan untuk dinikmati berbagai generasi.
Pagelaran ini sekaligus menjadi bukti bahwa wayang tidak sekadar tontonan. Di balik tokoh, lakon, dialog dan musik pengiringnya, tersimpan nilai pendidikan, keteladanan, pengendalian diri hingga pesan tentang kehidupan bermasyarakat.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan perubahan pola hiburan masyarakat, seni tradisional menghadapi tantangan untuk terus mendapatkan perhatian, terutama dari generasi muda.
Karena itu, kehadiran pagelaran Wayang Golek dan Wayang Kulit dalam perayaan ulang tahun emas PTDI memiliki makna tersendiri. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi tinggi justru membuka panggung bagi kesenian tradisi sebagai bagian dari perjalanan menuju masa depan.
Semangat tersebut sejalan dengan tema besar “Golden Legacy, Global Horizon”. Menatap cakrawala global tidak harus berarti meninggalkan warisan budaya, melainkan membawa identitas bangsa untuk tetap hadir dan dikenal di tengah persaingan dunia.
PTDI selama lima dekade telah menjadi bagian dari perjalanan industri kedirgantaraan nasional. Pada momentum usia emas ini, perayaan tidak hanya diarahkan untuk melihat pencapaian masa lalu dan target masa depan, tetapi juga menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai yang membentuk identitas bangsa.
Masyarakat pun diundang untuk menyaksikan langsung seluruh rangkaian kegiatan di Selasar Gedung PKSN PT Dirgantara Indonesia.
Bagi masyarakat yang tidak dapat hadir langsung, panitia juga menyediakan fasilitas live streaming melalui kanal YouTube Rekso Budoyo PTDI Plus.
Dengan hadirnya pertunjukan yang berlangsung dari pagi hingga semalam suntuk, masyarakat dapat menikmati beragam kekayaan seni tradisional dalam satu rangkaian perayaan.
Mulai dari Ebeg, seni tari, karawitan, Wayang Golek hingga Wayang Kulit, seluruh pertunjukan menjadi bagian dari perayaan perjalanan emas PTDI selama setengah abad.
Melalui momentum ini, PTDI ingin menunjukkan bahwa perjalanan menuju masa depan dan panggung global tidak boleh memutus hubungan dengan akar budaya. Sebab, teknologi dapat terus berkembang dan cakrawala dapat semakin luas, namun identitas bangsa tetap harus dijaga.
Di usia ke-50 tahun, PTDI pun tidak hanya merayakan perjalanan industri dirgantara Indonesia. Melalui pagelaran budaya semalam suntuk, PTDI menegaskan bahwa bangsa yang ingin mengangkasa tinggi tetap harus memiliki akar yang kuat—dan salah satu akar itu adalah budaya yang terus hidup, diwariskan dan dijaga bersama. (GPWK)











