Viral. Pasien Hamil Kembar, Pelayanan RS Mitra Idaman Dipertanyakan

DST

Image of Img 20261009 wa0001

KOTA BANJAR, pewarta.id — Menjadi sorotan pelayanan terhadap seorang pasien hamil kembar di RS Mitra Idaman, Kota Banjar. Pasien bernama Rini Marni, warga Desa Jajawar, mengaku diarahkan untuk mendapatkan penanganan di rumah sakit lain saat mengalami pecah ketuban dan tekanan darah tinggi pada dini hari.

 

Peristiwa tersebut terjadi pada 3 Oktober sekitar pukul 01.00 WIB. Rini mengaku datang ke RS Mitra Idaman dalam kondisi membutuhkan pertolongan medis setelah mengalami pecah ketuban. Saat itu, ia tengah mengandung bayi kembar dan sebelumnya rutin menjalani pemeriksaan kehamilan di rumah sakit tersebut.

 

Menurut penuturan Rini, pemeriksaan kehamilan terakhir dilakukannya pada 22 September. Dalam pemeriksaan itu, ia mengaku sempat menyampaikan bahwa kondisi kehamilannya semakin berat dan mendapat arahan untuk menunggu hingga usia kehamilan mencapai 37 minggu.

 

Namun, sebelum usia kehamilan tersebut tercapai, Rini mengalami pecah ketuban. Ia kemudian dibawa ke RS Mitra Idaman menggunakan kendaraan milik pihak kelurahan dengan didampingi suami dan seorang tetangga.

 

Setibanya di rumah sakit, Rini mengaku telah menjelaskan bahwa dirinya sedang mengandung bayi kembar. Ia kemudian ditanya mengenai status pembiayaan pelayanan kesehatan dan menyatakan bahwa dirinya merupakan peserta BPJS Kesehatan kelas III.

 

“Saya ditanya pakai BPJS atau umum. Saya jawab BPJS dan kelas tiga. Setelah itu saya mendapat informasi kamar penuh,” ujar Rini.

 

Rini juga mengaku telah menyerahkan sejumlah dokumen kepada petugas rumah sakit. Di tengah kondisi tersebut, ia menyebut tekanan darahnya mencapai sekitar 190/108 mmHg.

 

“Saya sudah bilang tensi saya 190. Saya khawatir pembuluh darah pecah atau saya kejang. Kondisi saya sudah darurat karena ketuban juga sudah pecah,” katanya.

 

Menurut Rini, pihak rumah sakit kemudian menyampaikan bahwa kamar perawatan dan ruang neonatal intensive care unit (NICU) sedang penuh. Ia mengaku diarahkan untuk mendapatkan penanganan di RSUD Kota Banjar.

 

Dalam situasi tersebut, Rini mengatakan sempat meminta agar pihak RS Mitra Idaman terlebih dahulu berkomunikasi dengan RSUD Kota Banjar. Permintaan itu, menurutnya, disampaikan karena ia merasa kondisinya membutuhkan penanganan segera.

 

Namun, ia mengaku diminta berangkat sendiri ke rumah sakit rujukan tersebut.

 

“Saya tanya apakah bisa dikonfirmasi ke RSUD karena kondisi saya kritis. Tapi saya diminta pergi sendiri. Tidak ada tawaran ambulans,” tuturnya.

 

Rini bersama suaminya kemudian meninggalkan RS Mitra Idaman dan menuju RSUD Kota Banjar. Setibanya di instalasi gawat darurat (IGD), suaminya langsung meminta bantuan kepada petugas medis.

 

Rini menduga tidak adanya komunikasi terlebih dahulu antara kedua rumah sakit membuat petugas RSUD belum memperoleh informasi lengkap mengenai kondisi yang dialaminya sebelum kedatangan mereka.

 

“Saya datang ke RSUD dalam kondisi seperti itu. Mungkin karena tidak ada konfirmasi dari Mitra Idaman, petugas di sana belum tahu kondisi saya sebelumnya,” katanya.

 

Manajemen RS Mitra Idaman Belum Memberikan Keterangan

Untuk memperoleh keberimbangan informasi, upaya konfirmasi dilakukan kepada Manajer Pelayanan RS Mitra Idaman, dr. Rosita. Konfirmasi tersebut bertujuan meminta penjelasan mengenai kronologi kejadian, alasan pasien diarahkan ke RSUD Kota Banjar, ketersediaan kamar perawatan dan NICU, serta prosedur pelayanan bagi pasien BPJS yang membutuhkan penanganan darurat.

 

Namun, saat ditemui untuk dimintai keterangan, dr. Rosita belum memberikan pernyataan terkait persoalan tersebut.

 

Dengan belum adanya keterangan dari pihak manajemen, sejumlah aspek dalam peristiwa ini masih memerlukan penjelasan lebih lanjut. Di antaranya, bagaimana hasil penilaian kondisi medis pasien saat tiba di rumah sakit, apa pertimbangan di balik arahan untuk berpindah rumah sakit, serta apakah terdapat koordinasi dan prosedur rujukan yang dilakukan dalam situasi tersebut.

 

Keterangan dari pihak rumah sakit diperlukan agar kronologi kejadian dapat diketahui secara utuh dan tidak hanya berdasarkan penuturan salah satu pihak.

 

Sementara itu, Rini berharap pengalaman yang dialaminya menjadi perhatian bagi penyelenggara layanan kesehatan, terutama dalam memberikan pertolongan kepada pasien dengan kondisi yang membutuhkan penanganan segera.

 

Ia berharap setiap pasien yang datang dalam keadaan darurat memperoleh penilaian dan penanganan medis sesuai kondisi serta kebutuhan klinisnya.

 

Hingga berita ini diterbitkan, pihak RS Mitra Idaman belum memberikan klarifikasi mengenai keterangan Rini maupun alasan pasien tersebut diarahkan ke RSUD Kota Banjar. Redaksi tetap membuka ruang bagi pihak rumah sakit untuk memberikan penjelasan dan menggunakan hak jawabnya sesuai ketentuan yang berlaku.(Asep R)

Also Read

Bagikan:

[addtoany]

DST

Tinggalkan komentar