Hari Ketiga Pencarian Tekong Perahu Wisata Hilang di Pangandaran Masih Nihil, Arus Deras Jadi Kendala

Image of Update tim sar barakuda

PANGANDARAN, pewarta.id  — Upaya pencarian terhadap Suprianto Bin Ahmad Sudiono (48), tekong atau nakhoda perahu wisata yang hilang usai perahunya terbalik diterjang gelombang tinggi di perairan Pantai Pangandaran, Jawa Barat, memasuki hari ketiga pada Rabu (12/8/2026).

Hingga Rabu 15:00 WIB, keberadaan warga Dusun Bojongsari RT 001/RW 001, Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran tersebut masih belum ditemukan.

Ketua SAR Barakuda Pangandaran, Sakio Andrianto, menjelaskan bahwa operasi penyisiran telah dilakukan sejak Rabu pagi secara bergelombang bersama tim gabungan dan komunitas lokal.

“Rekan-rekan kelompok perahu pesiar menurunkan lima armada sejak pagi hingga waktu zuhur. Namun, hasilnya masih nihil. Pencarian kemudian dilanjutkan setelah dzuhur oleh tim SAR Barakuda bersama potensi SAR lainnya, tetapi korban belum ada tanda-tanda ditemukan,” ujar Sakio, Rabu (12/8/2026).

Ia menambahkan, pergerakan pencarian terus diupayakan hingga sore hari dengan memperluas jangkauan ke area tengah laut. Penyisiran difokuskan mulai dari kawasan Bangkai Kapal Viking, Kampung Turis, hingga membentang ke perairan Pantai Batu Hiu.

Baca Juga :  Bupati Ajak Masyarakat Perkokoh Silaturrahmi dan Persaudaraan

Kendala Suhu Air Dasar Laut dan Arus Deras
Menurut Sakio, terdapat sejumlah kendala teknis yang dihadapi oleh tim lapangan selama proses pencarian berlangsung. Selain arus permukaan yang tergolong deras, faktor suhu air di dasar laut juga memengaruhi kondisi korban.

“Kendalanya air dasar laut saat ini tergolong dingin. Biasanya jika suhu dasar laut dingin, jasad korban memakan waktu lebih lama untuk mengapung ke permukaan. Meskipun demikian, gelombang laut dilaporkan sudah mulai melandai dibanding hari-hari sebelumnya,” jelasnya.

Atas kejadian ini, pihak SAR Barakuda kembali mengimbau kepada seluruh masyarakat, nelayan, maupun wisatawan yang beraktivitas di kawasan pesisir agar senantiasa mengutamakan keselamatan.

“Kami menyarankan, baik pengunjung maupun nelayan dan pelaku usaha jasa perahu wisata yang beraktivitas di laut, untuk selalu safety dan memakai pelampung pengaman (life jacket),” tegas Sakio.

Baca Juga :  Harga Emas Turun, Antusiasme Masyarakat Tetap Tinggi di Pegadaian Tasikmalaya

Kronologi Kejadian: Diterjang Gelombang Saat Antar Nelayan
Kecelakaan laut tersebut bermula pada Senin (10/8/2026) sore sekitar pukul 15.30 WIB.

Saat kejadian, Suprianto tengah mengemudikan perahu jenis katir bernama Karya Berkah untuk mengantarkan sejumlah nelayan yang hendak melaut. Saat perahu baru bergerak meninggalkan bibir pantai di depan Pos 3 Balawista, hantaman gelombang tinggi mendadak menerjang armada tersebut.

Kondisi itu membuat perahu kehilangan keseimbangan hingga akhirnya terbalik. Sejumlah penumpang nelayan berhasil menyelamatkan diri dengan berenang kembali ke tepian pantai. Namun, Suprianto menghilang dan diduga kuat terseret arus laut yang cukup deras.

Pencarian yang dilakukan sejak hari pertama kejadian sempat dihentikan sementara menjelang malam akibat terbatasnya jarak pandang dan kondisi cuaca yang kurang mendukung di lokasi. Tim SAR gabungan terus bersiaga dan melanjutkan penyisiran hingga korban berhasil ditemukan.(gpwk)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *